Sahabat Maya

Gaya Hidup, Terbaru532 Dilihat

Teman Dunia Maya

Catatan Thamrin Dahlan

Posting ini terinspirasi dari tulisan kompasianer Erwin Alwajir yang bertajuk : Seberapa-pentingkah-identitas-diri-seorang-jurnalis-penulis_ . Saya menjawab di kolom Erwin sebagai berikut :

Sangat penting identitas seorang penulis apalagi di dunia maya seperti kompasiana. Jujur saya tidak suka berpolemik dengan sobat yang tidak jelas identitas, bukan diskriminasi tetapi taat azas keadilan. Adil bermakna ketika saya telah memberikan identitas asli sebagai tanggung jawab moral berkomunikasi maka sepatutnya pula kompasianer lain memiliki identitas yang jelas. Itulah sebabnya setiap kopdar saya selalu berusaha meningkatkan kualitas pertemanan dunia maya menjadi pertemanan dunia nyata. Saya sangat gembira berteman di dua dunia ini karena saya yakin setelah kopdar saya bertemu dengan sobat yang benar benar ada sosoknya walupun dia memakai nama samaran sekalipun.

Perhatikan dokumentasi foto diatas. Sebelumnya saya hanya mengenal Mbak Nanik, Bang Thamrin Sonata, Kang Rifki Feriandi dan Kang Tubagus Encep Encep serta Mbak Muthiah Alhasany di dunia maya. Kami sering bertukar komentar di lapak kompasiana. Pertemanan dunia maya kemudian berlanjut menjadi teman dunia nyata. Peningkatan kualitas persahabatan ini sungguh menyenangkan hati, karena ternyata sobat sobat dunia maya itu memang ada di alam nyata. Demikian pula dengan ratusan sobat baru di kompasiana, saya banyak mengenal secara fisik ketika bertemu di acara kopdar dan kompasianival.

Sobat dunia nyata yang tadinya berawal dari pertemanan dunia nyata itu secara fisik memang ada, mereka menginjakkan kaki di bumi dan bebas dari prasangka kompasianer abal abal. Pertemanan adalah untuk menyenangkan, membuat hidup ini lebih indah dan bergairah. Masih ingat dengan petuah nenek moyang yang mengatakan bahwa satu musuh saja sudah terlalu banyak, seribu teman belumlah cukup. Oleh karena itu saya berusaha tidak berpolemik dengan sesama kompasianer. Artinya saya menghindar berseteru dengan kompasianer yang belum jelas keberadaannya. Selain membuang energi juga tidak bermanfaat sama sekali.

Motto kompasiana sharing and connecting terkadang terlupakan saking semangatnya berselancar di dunia maya. Niat menulis untuk berbagi itulah yang perlu di pedomani sebelum kita mengklik tombol publish. Berbagi kebaikan tentunya bukan berbagi berita yang tidak jelas sumbernya, apalagi bergenre fitnah. Tentu saja selalu ada resiko yang diterima ketika kita memutuskan untuk mengirim tulisan. Resiko itu tanggung jawab pribadi, namun selama tulisan itu tidak menyinggung atau menganggu privasi seseorang maka resiko itu akan sangat kecil terjadi.

Kemudian dari pada itu saya membentengi diri dengan motto pribadi yang berbunyi Penasehat, Penakawan dan Penasaran. Di Facebook saya menamakan komunitas Tiga Pena. Penasehat bermakna selalu berusaha menulis secara “sehat”, Penasaran misalnya ketika menulis reportase terkait lingkungan yang perlu di perbaiki birokrat. Sedangkan Penakawan, tulisan bergenre melepas satu ide ke dunia maya apakah masalah politik, ekonomi atau budaya serta hankam untuk kebaikan bersama.

Itulah sebabnya saya tidak mau terlibat apalagi terjebak mengikuti tulisan sobat kompasianer yang nyrempet nyrempet dunia lain. Dunia lain saya maksudkan segala sesuatu yang tidak wajar atau tidak patut di sampaikan di dunia maya yang sangat transparan ini. Saya berusaha tidak membaca apalagi berkomentar di lapak kompasianer tertentu yang tidak jelas identitasnya. Rasa adil itulah yang menajdi azas utama. Ketika kita telah menampilkan diri sebagai penulis yang jelas indentitas apalagi ter verifikasi mengapa pula saya harus bersahabat dengan orang yang tidak jelas alias abal abal.

Salamsalaman

Tinggalkan Balasan