Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Terbaru, YPTD78 Dilihat

Anak muda inilah yang membuat saya tidak menulis soal ditangkapnya Presiden  Nicolas Maduro. Padahal serangan kilat itu amat  dramatik. Pelakunya pasukan Amerika. Lokasinya di negaranya Maduro: di  Venezuela –di ibu kotanya: Karakas.

Nama anak muda itu: Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Ia menulis soal serangan itu  dengan sangat bagusnya. Istimewa. Saya tidak mungkin bisa menulis soal itu lebih baik dari Efatha. Dan lagi tulisan Efatha sudah beredar sangat  luas. Dari WA ke WA –termasuk WA Anda dan saya.

Saya pun memberikan pujian langsung kepadanya. Ia merendah. Ia merasa terharu atas pujian saya itu. Tapi saya jujur: tulisan Efatha memang luar biasa. Judulnya Anda sudah tahu. Agak panjang: Operasi 300 menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela.

Efatha baru berumur 31 tahun. Ia terlihat sangat menguasai masalah. Utamanya soal pertahanan dan persenjataan.

“Saya dosen geostrategi dan geopolitik,” ujar Efatha. “Kebetulan juga mengajar terorisme dan kekerasan politik,” tambahnya.

Karena itu Efatha harus mempelajari dunia persenjataan. Apalagi ia sendiri sangat senang mengamati dinamika perang.

“Master saya di bidang ilmu pertahanan,” ujar Efatha. Yakni di Universitas Brawijaya, Malang.

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro digiring menuju Pengadilan Tinggi New York, Amerika Serikat pada Senin, 5 Januari 2026–Getty Image

Belum sebulan lalu Efatha meraih gelar doktor. Masih sedikit umur 31 sudah menjadi doktor. Judul disertasinya: Hakekat Pengaturan Robot dan Kecerdasan Buatan di Indonesia.

Topik disertasi itu dipilih karena Efatha terusik oleh tingginya penghormatan manusia pada robot dan AI (artificial intelligence).

“Sampai ada robot yang mendapat kewarganegaraan,” kata Efatha.

Anda pun sudah tahu siapa nama robot itu: Sophia. Lahir di Hong Kong. Dapat kewarganegaraan Saudi Arabia. Tahun 2017.

Efatha lahir di Dili, Timor Leste d/h Timtim. Umur enam tahun terjadi referendum: Timtim merdeka. Pisah dari Indonesia. Efatha diajak orang tuanya pindah ke Bali.

Di Dili Efatha sudah sempat selesai TK. Di Bali ia kembali masuk TK, lalu SD, SMP dan SMA di sekolah Katolik di Denpasar: Santo Yosep. Setelah itu ia kuliah ilmu politik di Universitas Udayana.

Bahwa tulisannya begitu bagus itu karena Efatha rajin menulis. Juga banyak membaca. Sejak Efatha kecil ayahnya sudah memasok bacaan. Termasuk berlangganan koran. Sang ayah pernah menjabat kepala Dinas Kehutanan di Timtim: Filomeno Borromeu.

Ayahnya sempat mengajarkan bahasa Portugis ke Efatha. Sang ayah memang pernah menjadi guru bahasa Portugis sebelum Timtim bergabung ke Indonesia. Tapi Efatha mengaku belum sampai bisa berbahasa Portugis.

Dari rajinnya membaca itu Efatha merasa punya guru menulis –yang Anda sudah kenal namanya. Karena itu tulisan Efatha terasa sangat lincah. Kalimat-kalimatnya pendek. Hanya sedikit kurangnya: kurang menyelipkan sedikit humor.

Bacalah sendiri hebatnya  tulisan 300 menitnya di bagian bawah tulisan saya ini. Ups jangan membacanya. Anda sudah membaca itu. Amati gaya tulisannya. Dan kedalaman isinya.

Dari Udayana Efatha mengambil S-2 di Universitas Brawijaya: ilmu pertahanan. Lalu kembali ke Udayana mengambil S-3 bidang hukum. Zigzag: politik-pertahanan-hukum. Tapi memang masih saling terkait.

Ia ingin mendalami bagaimana status hukum robot dan AI di masa depan. Akankah mereka benar-benar bisa jadi manusia yang sesungguhnya. Termasuk  berhak atas kewarganegaraan.

Kalau saja bisa Disway pun akan mengalami kesulitan menggunakan kata ganti untuk mereka: dia atau ia; nyi atau nya.

Efatha anak tunggal. Ayah-ibunya pensiun di Bali. Boleh dikata Efatha masih pengantin baru. Belum punya anak. Istrinya juga orang Timtim –dari kota kecil dekat perbatasan dengan NTT. Tidak jauh dari Dili.

Dia, sang istri, adalah adik semesternya di Udayana. Kini sang istri sedang menyelesaikan S-3. Juga di Udayana. Bidang hukum.

“Aneh”, kata Efatha, “orang seperti imigran tidak bisa dapat kewarganegaraan, justru Sophia bisa dapat”, katanya.(Dahlan Iskan)


Dr Efatha dan istri–

Inilah tulisan Efatha yang mengalahkan niat saya menulis hal yang sama:

***

Operasi 300 Menit: Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Oleh: Dr Efatha Filomeno Borromeu Duarte

(Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana)

 

Gila.

Benar-benar gila.

Sabtu malam itu, langit Karakas tidak sekadar gelap. Ia penuh sesak.

Ada 150 pesawat di atas sana.

Mereka datang dari 20 pangkalan berbeda. Dari Florida. Dari Puerto Rico. Dari geladak kapal induk.

Semuanya bertemu di satu titik koordinat. Di detik yang sama.

Tanpa saling tabrak. Tanpa terdeteksi.

Ini bukan lagi operasi militer. Ini sihir logistik.

Mari kita bedah jeroannya. Agar kita tahu betapa mengerikannya dunia tempat kita hidup sekarang.

Orkestrasi Hantu Langit

Yang terjadi di udara itu sebuah mahakarya teknis.

Di lapisan paling atas, ada E-3 Sentry. Pesawat radar piringan jamur itu. Ia jadi dirigen. Mengatur lalu lintas tempur agar tidak kacau.

Di bawahnya, ada F-35 Lightning II.

Perhatikan detail ini: F-35 tidak menembakkan satu peluru pun.

Tugasnya cuma satu: menjadi “pengendus”. Sensor fusion-nya menyedot semua sinyal elektronik dari daratan Venezuela.

Begitu radar S-300 buatan Rusia milik Venezuela menyala, F-35 mengirim data ke belakang.

Di sana sudah menunggu EA-18G Growler. Pesawat perang elektronika.

Boom! Bukan bom yang dijatuhkan. Tapi sinyal jamming bertenaga tinggi.

Layar radar di Karakas tidak meledak. Hanya memutih. Buta total. Operator radar Venezuela cuma bisa bengong melihat semut di layar monitor.

Saat buta itulah, tamu utamanya masuk.

Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160. Julukannya Night Stalkers.

Mereka membawa helikopter MH-47 Chinook.

Terbangnya sinting. Hanya 30 meter di atas ombak Laut Karibia. Memanfaatkan sea clutter (gangguan ombak) untuk sembunyi dari sisa-sisa radar.

Mereka mendarat di jantung kota. Delta Force turun. FBI turun.

Lima jam. Selesai.

Presiden Nicolás Maduro diangkut ke kapal induk USS Iwo Jima.

Seperti paket kilat JNE.

Ruang Server & AI Kematian

Tapi tunggu dulu.

Pasukan elite itu cuma penyapu sampah.

Pembunuh aslinya tidak memegang senapan. Ia duduk manis di dalam kabel optik bawah laut.

Sebulan lalu, Amerika diam-diam menyebar senjata baru: AI Finansial.

Dulu, sanksi ekonomi itu manual. Orang mengecek dokumen satu-satu.

Sekarang? Algoritma yang bekerja.

AI ini ganas. Ia tidak memburu nama perusahaan. Ia memburu pola.

Ada kapal tanker Venezuela mau beli bahan bakar di tengah laut?

AI mendeteksi pola transfer uangnya. Lewat Panama. Lewat Hong Kong.

Klik. Diblokir.

Kapal-kapal tanker itu menjadi bangkai besi terapung.

Mesinnya hidup, tapi tak bisa bergerak.

Asuransi maritim dari London diputus otomatis.

Biaya sandar pelabuhan ditolak.

Logistik Venezuela dicekik sampai biru.

Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, jenderal tidak setia.

Maduro jatuh bukan karena kalah perang. Ia jatuh karena “dompet”-nya dimatikan dari jarak 4.000 kilometer.

“Lawfare”: Perang Gaya Baru

Yang bikin saya merinding bukan pesawatnya. Tapi penumpangnya.

Ada agen FBI Hostage Rescue Team (HRT).

Kenapa bawa polisi?

Ini cerdiknya. Liciknya.

Amerika ingin membingkai ini bukan sebagai “Invasi Militer” (itu melanggar PBB).

Mereka membingkainya sebagai “Penegakan Hukum” (menangkap buronan narkoba).

Konsep kedaulatan negara (Westphalian Sovereignty) resmi jadi sampah.

Batas negara dianggap tidak ada.

Hukum Amerika berlaku di seluruh dunia. Ekstrateritorial.

Kalau mereka mau ambil orang di Jakarta, di Moskow, di Karakas, mereka pakai dalih “surat perintah penangkapan”.

Ini namanya Lawfare. Perang menggunakan hukum sebagai senjata.

Puing-Puing Geopolitik

Kasihan Rusia.

Vladimir Putin pasti sedang minum vodka sambil sakit kepala.

Venezuela itu “kapal induk daratan” Rusia di Amerika Latin.

Tempat parkir pesawat pembom nuklir Tu-160 Blackjack.

Investasi Rosneft miliaran dolar di sana.

Dalam satu malam, aset itu hangus.

Rusia kehilangan pijakan strategisnya. Tanpa sempat menarik pelatuk.

China juga sama. Utang Venezuela ke Beijing mungkin tak akan pernah kembali.

Alarm untuk Kita

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Membaca berita Karakas ini rasanya getir. Pahit.

Kita punya Nikel. Kita punya Laut. Kita seksi.

Tapi lihat diri kita di cermin.

Radar kita? Masih banyak yang bolong.

Sistem bank kita? Masih numpang jalur pipa SWIFT punya Barat.

Data kita? Masih di cloud asing.

Operasi Karakas mengajarkan satu hal: Kedaulatan tanpa teknologi itu omong kosong.

Diplomasi tanpa otot siber itu cuma puisi cengeng.

Jika besok kita dianggap “nakal” entah tiba-tiba karena hilirisasi atau karena vokal di PBB, siapkah kita?

Siapkah jika tombol “OFF” ditekan dari Washington?

Siapkah jika bank kita offline dan pesawat tempur asing sudah ada di atas Monas tanpa terdeteksi?

Di meja makan raksasa dunia hari ini, pilihannya cuma dua.

Anda duduk memegang garpu sebagai pemain.

Atau Anda telanjang di atas piring sebagai menu santapan.

Karakas sudah jadi menu.

Semoga kita lekas bangun. Sebelum ikut dimakan. (*)

 

Komentar  Thamrin Dahlan

Abah terlalu rendah hati. Dalam hemat awak, sulit menemukan penulis di ruang ini yang mampu menandingi kualitas sekaligus produktivitas seorang mantan “sesuatu”. Kalaupun suatu hari kelak ada, bukan sekarang waktunya. Mungkin perlu satu dasawarsa lagi hingga lahir sosok yang sanggup melampaui rekor one day one posting—bahkan lebih—lengkap dengan riuh rendah komentar para perusuh setia.

Kekuatan utama Disway terletak pada keluasan referensi tulisan. Bukan sekadar hasil olah pikir di ruang sunyi, melainkan buah pengalaman hidup yang panjang, diperkaya bacaan lintas media sosial nasional hingga internasional. Setiap tulisan terasa hidup karena berangkat dari perjumpaan nyata dengan peristiwa dan manusia.

Perjalanan Abah ke berbagai penjuru dunia menjadi modal kultural yang mahal. Ia menjelma narasi yang mengikuti kaidah klasik menulis: aku datang, aku melihat, lalu aku menulis. Filosofi sederhana namun mendalam itu membuat tulisan bukan sekadar laporan, melainkan kesaksian—jujur, bernas, dan membumi.

Awak tidak sedang memuja secara berlebihan. Kekaguman yang disampaikan adalah hal yang wajar dan sah. Di usia 75 tahun, andaikata ada perlombaan jurnalistik berbasis umur, rasanya nyaris tak ada pesaing di panggung jurnalistik dunia. Bukan karena usia semata, melainkan karena konsistensi dan daya tahan menulis yang jarang dimiliki.

  • Pergi ke taman memetik delima,
  • Sambil membaca buku di bangku tua;
  • Menulis bukan soal siapa terlama,
  • Tapi siapa setia menjaga makna dan kata.

Meski demikian, apresiasi tetap patut diberikan kepada para jurnalis muda, termasuk Efatha sebagaimana direkomendasikan Abah. Menulis dengan hati, ditopang pendidikan yang utuh—science, skill, dan attitude—akan melahirkan karya yang netral, jernih, dan berkualitas. Inilah proses regenerasi yang sehat dalam dunia literasi.

Keberpihakan dalam jurnalistik bukanlah tabu. Namun keberpihakan sejati adalah berpihak pada kebenaran hakiki. Itulah kompas moral seorang jurnalis sejati: tidak silau kekuasaan, tidak tunduk pada kepentingan sesaat, dan tetap setia pada nurani serta fakta.

Solusinya, dunia literasi perlu merawat kesinambungan: senior memberi teladan melalui konsistensi dan integritas, sementara generasi muda menimba ilmu dengan kerendahan hati dan semangat belajar. Jika keduanya bertemu, maka tradisi menulis yang mencerahkan akan terus hidup dan memberi manfaat bagi peradaban.

  • Salam Literasi
  • BHP 7 Januari 2026
  • TD

Tinggalkan Balasan