
Agenda hari kedua Disway Explore Business pada Minggu, 25 Januari 2026, kunjungan kawasan industri JIIPE di Gresik-Boy Slamet -Boy Slamet
Dua hari yang happy: Sabtu-Minggu kemarin. Sejak pagi sampai menjelang malam. Itulah hari-hari penuh optimisme: kumpul bersama 50 pengusaha kecil-menengah. Wira-wiri dalam satu bus: ”wisata bisnis bersama Disway”. Nama kerennya: Disway Explore Business Jatim Series.
Kunjungan pertama kami ke pabrik kosmetik: Viva. Yang sudah berusia 62 tahun. Saya kenal pemilik generasi pertamanya. Pun sampai yang kini generasi ketiga. Konimex Solo juga punya saham di Viva.
Dari peserta wisata ini saya tahu: bisnis kosmetik kini menjamur ibarat jamur. Begitu banyak anak muda yang punya follower medsos lebih dari 10.000 bisa memanfaatkan follower-nya: bikin bisnis kosmetik: umumnya dimulai dari produk skin care.
Mereka tidak harus punya pabrik. Seribu satu cara mereka upayakan untuk menemukan resep ramuannya. Lalu pergi ke pabrik yang bisa meramu dan mengemaskannya. Dalam bahasa Belanda disebut Maakloon.
Banyak pabrik yang menerima pekerjaan maklon seperti itu. maklon artinya: menyerahkan pekerjaan ke orang lain. Zaman dulu, yang biasa dimaklonkan adalah tekstil. Atau produk kulit. Lalu apa saja. Di zaman modern berkembang ke kosmetik.
Bahkan kini ada kosmetik yang produsennya hanya punya nama: resepnya pun terserah tempatnya maklon. Pokoknya akan digunakan untuk apa dengan merek apa.
Di zaman gempuran ”semut” bisnis kosmetik saperti itu Viva masih terus bertahan. Saya istilahkan ”semut” karena produk kosmetik itu skalanya kecil tapi banyaknya seperti semut. Setiap ada yang mati satu tumbuh 999 yang baru.
Itu bukan kali pertama Viva menerima gempuran di pasar. Di awal Orde Baru Viva dikepung oleh produk-produk kosmetik asing. Oleh nama-nama besar. Viva justru mendeklarasikan sebagai kosmetik made in lokal Indonesia.
Viva tahu Indonesia itu negara tropis. Kosmetik asing dibuat untuk kulit empat musim. Dengan mengibarkan ”made in” Indonesia justru Viva ingin meneguhkan: dirinyalah yang lebih tahu iklim tropis.
Dari pabrik Viva kami menuju Sidoarjo: ke kawasan industri halal. Pertama di Indonesia. Namanya: SEZ Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS). Luasnya: 148 hektare. Pemiliknya sama dengan pemilik kawasan industri Safe ‘N’ Lock –lokasi keduanya memang berimpitan.
Ia pengusaha Tionghoa asal Padang: Adi Saputra Tedja Surya. Punya bisnis hotel di Bali dan Pontianak. Yang di Pontianak hotelnya hampir jadi: Four Points. Tujuh lantai. Arsitekturnya unik sekali. Setiap lewat Jalan Ahmad Yani saya selalu bertanya: siapa pemilik proyek yang menarik itu.
Baru dari perjalanan wisata ini saya tahu: pemiliknya ternyata sama dengan pemilik kawasan industri halal di Sidoarjo. Ia masih akan pula masuk bisnis rumah sakit.
Yang masih ditunggu adalah peraturan pemerintah yang akan menaungi kawasan ekonomi khusus halal itu.
Awalnya saya bertanya-tanya perlukah ada kawasan khusus untuk industri halal?
Ternyata alasannya jelas: persaingan antar negara. Persaingan bisnis kini tidak lagi hanya persaingan antar perusahaan. Sudah antarnegara.
Malaysia memiliki itu. Singapura juga memilikinya –meski dibangun di negara lain. Maka ekspor produk halal Malaysia lebih besar daripada Indonesia. Bahkan Singapura pun lebih besar dari Indonesia.
Saya lihat ini tidak hanya soal syariah. Tapi juga soal marketing. Bahkan marketing tingkat negara. Halal ternyata dilihat tidak hanya dari kandungan makanan itu. Juga dari prosesnya.
Halal menyangkut isinya. Toyib menyangkut prosesnya. Maka kawasan industri halal untuk bersaing di pasar halalan thayyiban.
Sebenarnya PP soal kawasan industri halal diharapkan sudah turun di zaman Presiden Jokowi. Wapres kala itu, KH Ma’ruf Amin, sudah meninjau kawasan di Sidoarjo timur itu.
Kami pun makan siang di pendapa Kabupaten Sidoarjo. Sekaligus diskusi: kiat-kiat keberhasilan para pengusaha kecil itu. Di situ tampil M. Mukhlis. Anggota rombongan asal Sidoarjo. Dari jualan pentol (bakso) pakai sepeda keliling di desa-desa sampai menjadi ”konglomerat pentol” di Sidoarjo.

Kakaknyalah yang awalnya jualan pentol. Ia hanya membantu sang kakak –sambil sekolah di madrasah aliyah. Siang malam ia bekerja. Mulai ikut memasak sampai menjualnya keliling desa.
Kini Mukhlis sudah punya 200 outlet Pentol Kabul. Di luar itu ia sudah punya 600 pelanggan yang akan jualan pentol di wilayah masing-masing.
Di rombongan ini juga ada seorang wanita sangat muda. Masih jomblo. Namanyi Rizqi Laila Rohma. Dari Ringinrejo, Kediri. Bisnisnyi: SiniNgaji. Dia membuka pelajaran mengaji Quran online.
Jumlah siswanyi: 6000 orang. Guru ngajinyi sudah 250 orang. Masih begitu muda sudah bisa menggaji 250 guru ngaji.
Hari itu, kumpul mereka, saya ketularan optimistis. Juga merasa kembali seumur dengan mereka.(Dahlan Iskan)
Komentar Thamrin Dahlan
Judul “Kumpul Optimis” CHDI ternyata sangat nyambung—bahkan sinkron—dengan topik Dismorning Selasa, 27 Januari 2026.
Bintang tamunya Mas M. Mukhlis, pengusaha Pentol Kabul yang sukses.
Jika CHDI hadir dalam bentuk narasi, di mana perusuh hanya bisa membayangkan sosok pedagang pentol dengan produksi 10 ton per hari, maka melalui tayangan live video Dismorning, Mas Mukhlis tampil seutuhnya.
Ia berbicara langsung dari pabrik bersama Abah Dahlan Iskan, Mbak Shasa, dan Mas Suko Widodo. Awak pikir, kreativitas Tim Disway kian hari kian beken dan keren.
Pengusaha Pentol Kabul kini tak hanya menjual pentol. Usahanya merambah produk tahu dan siomay buatan sendiri. Berbekal sejumlah mesin pengolah yang efektif, proses produksi menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.
Menariknya, Mas Mukhlis ternyata penggemar “lama” Abah Dahlan Iskan. Ia setia mengikuti dan langsung mempraktikkan kiat-kiat bisnis Abah. Saking besarnya rasa terima kasih, putra keduanya diberi nama Dahlan Iskan. Opo ora mentereng—mengabadikan perjuangan anak ke-8 dari keluarga miskin yang kini menjadi tokoh inspiratif nasional.
M. Mukhlis kuliah sambil bekerja hingga lulus di bidang Manajemen. Namun, ia mengakui, ilmu yang paling banyak terpakai justru berasal dari pengalaman berniaga langsung di lapangan. Usaha Pentol Kabul yang semula berbentuk UD kini telah bertransformasi menjadi PT. Perubahan ini dilakukan atas saran petugas pajak karena omzet perusahaan telah melampaui Rp9 miliar.
Terus terang, awak senang—walaupun sama-sama pengusaha—menikmati tayangan Dismorning dan CHDI. Keduanya menambah wawasan dan menjadi sumber inspirasi nyata.
Sebagai penulis, awak merasa terpanggil untuk mensyiar ilmu lapangan bisnis ke media sosial melalui website YPTD terbitkanbukugratis.id.
Salam-salaman literasi.










