Bisakah New York Berubah dari Kapitalis Menjadi Sosialis

Terbaru, YPTD56 Dilihat

New York Berubah dari Kapitalis Menjadi Sosialis

Akan sukseskah sosialisme di pusat kapitalisme dunia, New York?

Belum tahu.

Baru pertama ini sosialis berkuasa di satu tempat di negara engkong-nya kapitalis dunia: Amerika Serikat.

Di lima hari pertama masa jabatannya sebagai wali kota, Zohran Mamdani terus berkibar dengan sosialismenya. Tiap hari ia menandatangani keputusan yang berpihak kepada wong cilik.

Kemarin, Zohran ke Bronx. Ke Sedgwick Avenue No 1520. Di sinilah musik aliran hip hop lahir. Di tahun 1970-an.

Di pinggir jalan itu Zohran menandatangani keputusannya. Kontras dengan keputusan Presiden Donald Trump yang selalu ditandatangani di Gedung Putih.

Di situ Zohran didampingi wanita kulit putih. Berambut ikal. Dia wanita yang luar biasa: Tascha Van Auken.

Tascha adalah tim sukses terpenting Zohran di wilayah itu. Tascha berhasil membangun jaringan 100.000 relawan di Bronx. Mereka mempraktikkan kampanye untuk Mamdani dengan jalan khas wanita: telaten. Lebih 3 juta pintu di Bronx diketok oleh relawan ini: pilihlah Zohran.

Tascha ternyata mengaku belajar dari cara memenangkan Barack Obama di New York untuk jabatan Presiden Obama pertama.

Zohran punya orang seperti Tascha di tiap distrik: Bronx, BrooklynQueensLong Island, dan Manhattan. Gerak mereka itu mengingatkan saya pada aktivis bawah tanah PDI-Megawati di masa akhir Orde Baru: Militan. Ideologis. Miskin. Tidak bisa dibeli.

Zohran terpilih karena sengaja didorong oleh jaringan sosialis ideologis seperti itu. Mereka mencari tokoh yang mampu, seideologi, punya prinsip yang kuat dan tidak bisa dibeli oleh oligarki.

Ketemulah sosok Zohran Mamdani –dari kalangan jaringan mereka sendiri.

Apakah perjuangan mereka nanti akan berhasil? Bisakah kota besar dibangun atas dasar kekuatan warganya –dan bukan oleh kekuatan investor besar?

Pertanyaan itulah yang membuat New York hari-hari ini jadi pusat perhatian dunia –juga pusat perhatian Disway.

Kalau berhasil ”penyakit Zohran” ini akan menular ke Chicago. Ke Los Angeles. Ke San Francisco. Bahkan ke London. Ke Paris.

Kelihatannya agak sulit menular sampai Jakarta –Tuhan pun bisa dibeli di Jakarta

Tentu saya mengikuti dinamika yang terjadi di New York. Banyak analis menilai kemungkinan berhasilnya hanya 35 persen. Tapi kemungkinan gagalnya juga sekitar itu. Sisanya pilih kemungkinan ketiga: jalan kompromi.

Kegagalan itu berasal dari satu kemungkinan: terjadi krisis anggaran. Terlalu banyak pengeluaran untuk infrastruktur sosial tanpa diimbangi naiknya pendapatan –terutama dari pajak.

Program utama menggratiskan angkutan bus akan menggerogoti anggaran. Apalagi bila kereta bawah tanah juga gratis bagi orang miskin.

Belum lagi program lainnya: membuka toko-toko kebutuhan pokok dengan harga murah.

Di lain pihak sewa rumah/rusun, diturunkan. Setidaknya tidak bisa dinaikkan. Pajak dari sektor ini akan merosot drastis.

Belum lagi kalau investor merasa ”New York Baru” kurang menarik untuk bisnis. Lalu mereka #kaburdulu.

Yang memperkirakan Zohran berhasil didasarkan pemikiran bahwa New York sudah telanjur kaya. Telanjur jadi pusat keuangan dunia. Infrastruktur dasar sudah terbangun lama. Memang, saatnyalah sekarang masuk tahap membangun infrastruktur sosial. Itu bisa membuat lapisan bawah lebih produktif –satu sumber kemajuan bersama.

Mungkin juga akan terjadi kompromi. Sebagian janji dipenuhi. Sebagian lainnya ”ditunda”. Para pengusaha besar bisa saja tidak jadi kabur tapi juga mau menurunkan derajat kerakusan mereka.

Sudah lima hari ini Zohran terlihat terus memerangi perusahaan real estate besar. Mereka memang punya banyak taktik untuk tidak menaikkan sewa. Tapi memungut biaya-biaya lainnya. Misalnya ada uang perbaikan, uang lift, uang pemeliharaan, uang kebersihan, uang pencegah tikus dan apa saja.

Taktik pengusaha real estate di sana sama saja dengan di mana saja: penghuni lama dibuat tidak kerasan. Lalu pindah. Agar penghuni baru masuk dengan sewa lebih tinggi.

New York memang menjadi awal lahirnya prinsip baru dalam bisnis real estate: “rumah adalah aset. Aset adalah instrumen keuangan”.

Beda dengan prinsip penyewa: rumah adalah tempat tinggal. Di desa saya pun begitu: rumah bukan aset, tapi tempat membangun keluarga.

Bahkan di Bronx dikembangkan prinsip baru oleh orang seperti Tascha: rumah adalah hak asasi manusia.

Dua prinsip itu kini berhadap-hadapan di New York. Ditonton oleh orang sedunia –termasuk Anda. Semua ingin tahu: seperti apa endingnya. Gaya Hollywood atau Bollywood. (Dahlan Iskan)

Komentar
Thamrin Dahlan YPTD
Revolusi itu sesungguhnya telah dimulai, meski tidak selalu meledak dalam dentuman senjata atau teriakan massa. Ia bergerak perlahan, senyap, namun pasti—menggeser cara pandang manusia terhadap hidup, harta, dan makna kebahagiaan. Di kota-kota megapolitan dunia, benih perlawanan terhadap kapitalisme yang kering empati mulai tumbuh, dipupuk oleh kelelahan sosial akibat ketimpangan yang terus menganga.

New York menjadi salah satu panggung penting perubahan itu. Dukungan arus bawah yang luar biasa kuat menunjukkan bahwa warga kota tidak lagi semata memilih pemimpin karena kekuasaan modal, melainkan karena harapan. Sosok Zohran Mamdani dipercaya karena niatnya yang terbaca jelas: mengubah pola hidup hedonistik menjadi kehidupan yang lebih damai, bersahabat, dan bebas dari prasangka sosial.

Kepercayaan publik ini menandai pergeseran nilai. Manusia modern mulai menyadari bahwa gemerlap kota dan akumulasi kekayaan tidak selalu seiring dengan ketenangan batin. Di tengah hiruk-pikuk kapitalisme, muncul kerinduan akan relasi yang hangat dan setara—sebuah kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal memiliki, tetapi juga soal berbagi dan dimiliki oleh sesama.

Ungkapan kearifan dari Papua, “So kita semua basodara,” menemukan relevansinya kembali. Ia bukan sekadar semboyan budaya, melainkan pesan universal tentang persaudaraan manusia. Dalam semangat itulah gerakan sosialisme baru mendapat tempat: bukan sebagai ideologi kaku, melainkan sebagai panggilan moral untuk saling menghormati dan menjaga martabat satu sama lain.

Orang-orang kaya kapitalis pun perlahan dihadapkan pada kenyataan batin: harta tidak menjamin bahagia, apalagi damai. Kesenangan semu pada akhirnya melahirkan kejenuhan, bahkan kehampaan. Sebaliknya, kebahagiaan sejati justru sering muncul saat seseorang mampu memberi, peduli, dan hadir bagi sesama. Di titik inilah nilai-nilai sosial menemukan momentumnya.

Relawan-relawan sosialis semakin bersatu padu. Awalnya kecil dan terkesan sporadis, kini gerakannya menjelma seperti bola salju—menggelinding, membesar, dan menggerus keyakinan lama bahwa kebahagiaan adalah hasil kompetisi tanpa henti. Mereka menunjukkan alternatif: bahagia tumbuh dari rasa saling menghargai, menghormati, dan berbagi dalam kebersamaan.

Solusi terbaik bagi dunia—termasuk negeri kita—bukanlah memilih antara kapitalisme atau sosialisme secara ekstrem, melainkan menghadirkan sintesis nilai: ekonomi yang produktif namun berkeadilan, kekayaan yang tumbuh namun berempati, dan kekuasaan yang kuat namun berakhlak. Bagi Indonesia, jawabannya sesungguhnya telah lama ada dalam Pancasila—jalan tengah yang menempatkan kemanusiaan, keadilan sosial, dan persaudaraan sebagai fondasi hidup bersama.

  • Salam salamanan,
  • Salam Literasi dan Persaudaraan.
  • BHP, 7 Januari 2026
  • TD

Tinggalkan Balasan