Cita-Cita Menjadi Professor
Catatan Thamrin Dahlan
“Professor…”
Itulah jawaban spontan Rifqi Rolyansyah ketika ditanya tentang cita-citanya. Sebuah jawaban yang jarang terdengar dari anak kelas 4 Sekolah Dasar. Biasanya anak-anak seusianya menjawab ingin menjadi dokter, polisi, tentara, pilot, atau guru. Namun Rifqi berbeda. Ia memilih jalan sunyi nan mulia: menjadi seorang profesor.
Entah seperti apa gambaran profesor di benaknya. Apakah sosok berkepala botak dengan kacamata tebal, atau seorang ilmuwan yang tekun di balik tumpukan buku? Yang jelas, jawaban itu menunjukkan satu hal penting: ia sudah punya mimpi.
Berbeda dengan sang abang, Hafizh Rolyansyah, yang kini duduk di kelas 7 dan bercita-cita menjadi dokter, mengikuti jejak kedua orang tuanya di bidang kesehatan. Dua bersaudara ini telah menanamkan benih masa depan masing-masing, sebuah hal yang patut disyukuri.

Calon Profesor
Memang, cita-cita bisa berubah seiring waktu. Namun, memiliki cita-cita adalah langkah awal yang sangat penting. Pepatah lama mengatakan: “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Sebuah nasihat lintas generasi yang tak lekang oleh zaman.
Pergi ke dusun memetik rotan,
Rotan dianyam jadi anyaman.
Cita-cita tinggi jangan ditinggalkan,
Di sanalah masa depan dipertaruhkan.
Secara sederhana, profesor adalah jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi. Seorang profesor adalah ahli di bidangnya, seorang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, penelitian, dan pendidikan. Gelar ini tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang: pendidikan yang linier, konsistensi, serta kontribusi nyata bagi ilmu dan masyarakat.
Di era teknologi informasi seperti sekarang, anak-anak seperti Rifqi sudah sangat akrab dengan dunia digital. Tak heran jika setelah menerima hadiah buku BUKAN HOAX, Rifqi langsung membagikannya ke media sosial lengkap dengan foto dirinya. Anak zaman kini memang luar biasa—cerdas, cepat beradaptasi, dan penuh percaya diri. Jauh berbeda dengan generasi tahun 50-an seperti awak dahulu.
Silaturahim dengan keluarga Romy di kawasan BHP Kampung Dukuh Jakarta Timur menjadi momen yang membahagiakan. Lama tak bersua dengan saudara sekampung dari Jambi. Mas Romy, alumni Akper Polri, kini mengabdi di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Budi Asih. Sudah 17 tahun beliau berkecimpung dalam dunia kegawatdaruratan, bahkan berencana melanjutkan pelatihan di bidang operasi jantung di RS Harapan Kita.
Burung terbang ke tanah seberang,
Hinggap sebentar di dahan tua.
Wahai anak bangsa penuh harapan,
Teruslah belajar, gapailah cita cita.
Perbincangan kami kembali pada cita-cita Rifqi. Awak memberikan apresiasi dan doa. Dalam keyakinan awak, setiap cita-cita akan dicatat dan dijaga oleh malaikat, hingga suatu saat terwujud dengan izin Allah SWT.
Awak teringat masa kecil di dusun Tempino, Jambi. Seorang anak desa yang bercita-cita bisa ke luar negeri. Tanpa biaya sendiri, tanpa bayangan yang jelas, namun takdir membawa awak melalang buana ke berbagai benua. Cita-cita, bila disertai ikhtiar dan doa, akan menemukan jalannya.
Motivasi kepada generasi muda memang harus terus digelorakan. Cita-cita adalah bahan bakar semangat. Membaca adalah jendela dunia. Dari membaca, wawasan terbuka, cakrawala meluas, dan mimpi menjadi lebih nyata.
Di rumah kami, buku adalah aset keluarga. Anak-anak dibiasakan membaca sejak kecil, dimulai dari komik hingga bacaan ilmiah. Kini, mereka telah menyelesaikan pendidikan tinggi dan berkiprah di bidang masing-masing.
Setelah pensiun tahun 2010, awak menemukan dunia baru: menulis. Dari tulisan-tulisan yang berserak, lahirlah buku demi buku. Dimulai dari BUKAN ORANG TERKENAL, hingga kini telah mencapai buku ke-10, termasuk BUKAN HOAX. Menulis menjadi jembatan silaturahim—buku dibagikan kepada sahabat, kerabat, dan siapa saja yang berkenan menerima.

Calon Prosesor dengan Ayah Bunda berserta Datuk Thamrin Dahlan dan Nenek Enida Busri di BHP
Romy pun awak hadiahkan buku Magnet Baitullah, sebuah catatan pengalaman mengelola masjid. Alhamdulillah, buku tersebut telah tersebar ke berbagai provinsi di Indonesia.
Sebagaimana adat Melayu dan Minangkabau, silaturahim tak lengkap tanpa makan bersama. Hidangan sederhana menjadi istimewa ketika dinikmati dalam kebersamaan. Memuliakan tamu adalah jalan keberkahan.
Sebelum pamit, Rifqi—calon profesor—mendapat hadiah istimewa: satu set komik detektif Conan dari ananda Rendithya. Wajahnya berbinar. Dari komik itulah kelak tumbuh kecintaan membaca, yang akan mengantarkannya pada buku-buku ilmiah.
Cita-cita adalah doa yang terucap. Ia mungkin sederhana di bibir anak kecil, namun bisa menjadi kenyataan besar di masa depan.
Posting Ulang Tahun 2016 dari Kompasiana.com
- Salam Literasi,
BHP, 26 Maret 2026 - TD












1 komentar