Profesor 50 Persen

KMAB, Pendidikan, Terbaru, YPTD108 Dilihat

 

Sepuluh Tahun Cita-Cita Profesor

 

Itulah perasaan awak ketika kembali bersua dengan seorang anak yang dulu menyampaikan cita-cita dengan polos, kini tumbuh menjadi pemuda penuh harapan. Momentum itu sama—Hari Raya Idul Fitri—tahun 2016 dan 2026, dua titik waktu yang menyambung cerita kehidupan.

Kekerabatan ini tidak semata karena berasal dari Provinsi Jambi atau karena berada dalam profesi yang sama di bidang kesehatan. Lebih dari itu, hubungan ini terjalin erat karena satu hal sederhana namun bermakna: rajin bersilaturahmi.

Sepuluh tahun terasa baru tadi,
Waktu berlalu tanpa terasa pergi.
Idul Fitri datang silih berganti,
Silaturahmi tetap terpatri di hati.

Kunjungann Balsan Lebaran 2026

Hari kedua Lebaran 1447 H, keluarga Adinda Rommy Jovis berkunjung ke kediaman Bumi Harapan Permai (BHP). Awak bersama istri kemudian melakukan kunjungan balasan pada hari ke-empat, Selasa, 24 Maret 2026, di kawasan Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur.

Pergi ke Kalisari hati gembira,
Bertemu saudara penuh makna.
Silaturahmi janganlah sirna,
Karena di situlah berkahnya terasa.

Catatan literasi sambung-menyambung menjadi alasan kuat mengapa awak merasa sangat berbahagia. Kunjungan keluarga ini mengingatkan pada tulisan lama awak berjudul “Cita-Cita Menjadi Profesor” yang pernah dipublikasikan tahun 2016 di kompasiana.com

Lebaran di BHP

Kini, seiring perjalanan waktu, aktivitas literasi tersebut terus berlanjut melalui website Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD): terbitin.id. Dari tulisan ke tulisan, kisah kehidupan tersusun rapi, menjadi jejak digital abadi.

Sebagaimana kebiasaan awak setiap bertemu anak dan cucu, selalu ada satu pertanyaan sederhana namun penuh makna:

Labih Tinggi Datuk

“Apa cita-cita?”

Jawaban yang muncul beragam.
Ada yang spontan menjawab, ada yang berpikir sejenak, bahkan ada yang memilih diam. Bagi awak yang sudah masuk kategori generasi gaek, semua itu sangat dapat dimaklumi sebagai bagian dari proses tumbuh kembang psikologis.

Awak kalah tinggi setelah 10 tahun 

Namun kali ini agak lain—atau dalam istilah kekinian: agak laen.

Rifqi Mumtaz Rolyansyah, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar tahun 2016, dengan mantap menyatakan cita-citanya: ingin menjadi Profesor.

Sungguh luar biasa.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 2026, Rifqi telah menjadi Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Negara Universitas Lampung (UNILA), semester 2. Sementara sang abang, Hafizh Rolyansyah, tengah menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Sumatera (ITERA), semester 8.

Ketika awak kembali bertanya:
“Apakah cita-cita masih ingin jadi Profesor?”

Rifqi tersenyum dan menjawab mantap,
“Tentu, Datuk.”

Belajar tekun sejak usia dini,
Dari SD hingga SMA dilalui.
Langkah awal sudah terisi,
Tinggal Gelar Profesor dinanti.

Awak pun mencoba menghitung secara sederhana—setengah serius, setengah berseloroh. Pendidikan dasar hingga menengah (SD, SMP, SMA) sudah dilalui: 12 tahun perjalanan. Maka, bisa dikatakan 50 persen jalan menuju Profesor telah ditempuh.

Kini tersisa perjuangan berikutnya:
S1 (Sarjana), S2 (Magister), dan S3 (Doktor).

Jika semua dilalui dengan tekun dan konsisten, bukan tidak mungkin dalam 10–12 tahun ke depan, gelar Profesor itu benar-benar terwujud. Terlebih jika mengabdi di dunia pendidikan sebagai dosen dengan keilmuan yang linear—maka Profesor bukan sekadar mimpi, melainkan keniscayaan.

Selain pendidikan, ada hal menarik lain yang awak amati—sedikit jenaka namun nyata. Ternyata, perjalanan pendidikan seolah berbanding lurus dengan pertumbuhan fisik.

Jika melihat foto tahun 2016, awak masih tampak lebih tinggi. Namun kini, generasi muda dengan asupan gizi yang lebih baik memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi. Rifqi dan Hafizh kini menjulang, bahkan bisa melampaui 180 cm.  Sementara generasi kelahiran 40–60-an umumnya tinggi badan  berada di kisaran 160-an cm.

Labaran Tahun 2016 Masih Bocah

Ke pasar pagi membeli selasih,
tak lupa membeli buah delima.
Anak muda tumbuh gagah bersih,
ilmu tinggi, badan pun perkasa.

Akhirnya, awak hanya bisa berdoa:
Semoga kita semua diberi umur panjang dan kesehatan, sehingga dapat menyaksikan hari ketika Rifqi Mumtaz Rolyansyah dan Hafizh Rolyansyah meraih cita-cita terbaik mereka.

Tentui saja calon profesor harus berterima kasih kepada Ayah Bunda. Pola pikir Pendidikan Berkualitas adalah Investasi Masa Depan.  Bukan harta benda nan di wariskan justru pendidikan putra tersayang di nomor satukan.

Betapa pengorbanan tanpa mengenal jerih payah menyiapkan segala sesuatu keperluan pendidikan. Alhamdulillah  proses belajar 2 putra tercinta berjalan lancar di Kota Tanjung Karang Lampung.

Ke pasar pagi membeli selasih,
tak lupa membeli buah delima.
Anak muda tumbuh gagah bersih,
ilmu tinggi, badan pun perkasa.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Demikian catatan literasi kali ini.
Inilah keistimewaan profesi penulis—mampu merangkai serpihan peristiwa menjadi sejarah kehidupan yang tersambung dari waktu ke waktu, dan tersimpan abadi dalam jejak digital.


Salam Literasi
3 Pena Thamrin Dahlan

 

 

Tinggalkan Balasan