Tentara Tol Mesir

Terbaru, YPTD34 Dilihat

Thamrin Dahlan YPTD
Tentara Tol Mesir

Zaman Orde Baru kita mengenal program ABRI Masuk Desa. Saat itu tentara diterjunkan langsung ke masyarakat: bekerja membangun jalan, jembatan, irigasi, dan berbagai infrastruktur desa. Tentara dekat dengan rakyat. Banyak manfaat dirasakan masyarakat.

Pada masa itu juga sistem politik masih sederhana dengan tiga partai yang mudah diingat: Golkar, Partai Demokrasi Indonesia, dan Partai Persatuan Pembangunan. Mohon maaf, belum banyak yang “mercoki” dengan bicara ke sana kemari tanpa eksekusi nyata.

Awak semakin bersemangat muhibah ke Mesir. Serial tulisan Abah di Disway sungguh membuka wawasan. Banyak hal istimewa di negeri piramida itu: mulai dari Universitas Al-Azhar yang legendaris hingga pembangunan jalan tol yang tertata rapi.

Jalan tol di sana lebar, memisahkan kendaraan besar dengan kendaraan pribadi. Disiplin lalu lintas terasa kuat sehingga kecelakaan nyaris tidak terdengar.

Abah juga mendeskripsikan perbedaan pembangunan jalan tol di sini dengan di Mesir. Perbedaan utama ada pada pelaksananya: tentara. Disiplin militer membuat pekerjaan lebih cepat dan relatif bersih dari godaan KKN.

Kita pun boleh bermimpi, apakah suatu saat di negeri ini Tentara Nasional Indonesia dapat lebih diberdayakan untuk kegiatan pembangunan yang langsung dirasakan rakyat.

Selama ini Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia memang selalu berada di garis depan ketika bencana datang. Lihat saja ketika bencana alam melanda tiga provinsi di Sumatra.

Mereka membangun jembatan darurat, memperbaiki rumah rakyat, dan bekerja tanpa banyak bicara—cukup bekerja, bekerja, dan bekerja dengan seragam loreng.

Semakin membandingkan negeri ini dengan negeri kelahiran Mohamed Salah, bintang Liverpool F.C., terasa bahwa kita masih berada pada strata negara berkembang. Namun perbandingan itu bukan untuk berkecil hati, melainkan untuk memicu semangat memperbaiki diri.

Oh ya, sedekah Mohamed Salah juga menarik ditiru oleh para pemain lokal. Konon setiap ia mencetak gol, ada sedekah yang mengalir untuk masyarakat.

Bayangkan jika tradisi seperti itu dilakukan pemain Persebaya Surabaya: setiap satu gol, potong sapi Madura untuk masyarakat atau suporter. Selain berbagi rezeki, itu juga cara “menjemput doa” kemenangan dari para pendukung.

  • Salam salaman.
  • BHP, 10 Maret 2026
  • TD

Tinggalkan Balasan