Waktunya Bergerak Menjadi Lebih Baik

 

WAKTUNYA BERGERAK MENJADI LEBIH BAIK
Semangat Subuh

Penulis  Sahabat Media

Pandai-pandailah menjadi orang yang sibuk dalam amal saleh. Carilah kegiatan yang bermanfaat sebisamu. Bukan sekadar untuk mengisi waktu, tetapi agar hidup ini selalu terarah pada kebaikan.

Sebab ketika seseorang mulai terlalu banyak diam, terlalu banyak menganggur, di situlah celah terbuka bagi godaan. Setan perlahan bekerja: masuk ke dalam hati, menyelinap ke dalam pikiran, lalu melemahkan iman.

Awalnya mungkin hanya perasaan keciil

  • mulai membandingkan diri dengan orang lain,
  • mulai merasa iri atau hasad,
  • mulai menyesali nasib sendiri.

Lalu pikiran melayang kepada masa lalu yang penuh sesal. Hati menjadi larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Pikiran pun mulai berkelana ke mana-mana, memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Dalam bahasa sekarang sering disebut overthinking—terlalu banyak memikirkan sesuatu hingga hati menjadi gelisah.

Apa akibatnya?

  • Hati menjadi sedih.
  • Perasaan menjadi rendah diri.
  • Mental melemah.
  • Rasa takut, cemas, dan gelisah datang silih berganti.

Yang paling berbahaya adalah ketika hati mulai tertutup dari mengingat nikmat Allah. Padahal sesungguhnya nikmat-Nya masih begitu banyak yang patut disyukuri.

Karena itu Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

 “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.”
(QS. Al-Insyirah: 7)

Ayat ini bukan sekadar anjuran. Ia adalah rumus kehidupan yang pasti dan telah teruji.

Jika kita ingin hati dilapangkan dari kesedihan,
sebagaimana firman Allah: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS. Al-Insyirah: 1)

  • Jika kita ingin beban hidup terasa lebih ringan (QS. 94:2–3),
  • Jika kita berharap derajat ditinggikan dan nama dikenang melalui karya serta manfaat bagi sesama (QS. 94:4),
  • Jika kita ingin menemukan jalan keluar dan pertolongan ketika kesulitan datang (QS. 94:5–6),

maka jawabannya sederhana namun dalam maknanya: teruslah bergerak.

Jangan terlalu lama bermalas-malasan.
Jangan membiarkan waktu berlalu tanpa aktivitas yang berarti.
Jangan memberi jeda panjang antara satu kebaikan dengan kebaikan berikutnya.

Seorang mukmin adalah pribadi yang selalu bergerak—bergerak dalam kebaikan, dalam amal, dalam manfaat.

Ada ungkapan hikmah yang indah:

 Taharrok fa inna fil harokah barokah.

Bergeraklah, karena dalam setiap gerakan terdapat keberkahan.

Maka, selama napas masih berhembus, selama kesempatan masih diberikan, mari terus melangkah. Sedikit demi sedikit, amal demi amal.

Sebab hidup yang penuh gerak dalam kebaikan adalah jalan menuju hati yang tenang dan hidup yang penuh berkah.

Pantun Renungan  

Pergi ke taman memetik delima,
Delima merah jatuh ke pangkuan.
Selagi kehidupan masih di dunia,
Bergeraklah dalam amal kebaikan.

  • Salam Literasi.
  • BHP. Ramadan 27
  • Selasa 17 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

News Feed