Adab Menganjurkan Berbuat Kebaikan dan Kebajikan

Terbaru4 Dilihat

Kisah seorang ulama yang menunda menjawab pertanyaan tentang pahala membebaskan budak hingga ia sendiri melakukannya terlebih dahulu mengandung pesan moral yang sangat dalam. Sikap ini bukan sekadar kehati-hatian, tetapi cerminan integritas antara ilmu dan amal. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak berdiri sendiri sebagai pengetahuan, melainkan harus menjelma menjadi tindakan nyata. Ulama tersebut memahami bahwa jawaban yang keluar dari lisan akan lebih berbobot jika telah melalui pengalaman dan pengamalan.

Makna pertama dari sikap ini adalah kejujuran intelektual dan spiritual. Ia tidak ingin berbicara tentang suatu kebaikan yang belum ia lakukan, karena hal itu berpotensi menjadikan ilmunya hampa. Dalam Al-Qur’an, terdapat peringatan keras terhadap orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, ulama tersebut memilih diam sementara, bukan karena tidak tahu, tetapi karena ingin menjaga keselarasan antara kata dan perbuatan.

Makna kedua adalah keteladanan. Dakwah yang paling kuat bukanlah melalui kata-kata, melainkan melalui contoh nyata. Ketika seseorang telah melakukan kebaikan, lalu mengajak orang lain melakukan hal yang sama, ajakan itu memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar. Ulama tersebut ingin memastikan bahwa ketika ia menjawab, jawabannya bukan hanya teori, tetapi juga kesaksian hidup.

Makna ketiga adalah kehati-hatian dalam menyampaikan agama. Dalam Islam, berbicara atas nama kebaikan atau pahala bukan perkara ringan. Ada tanggung jawab besar di dalamnya. Dengan melakukan terlebih dahulu, ulama tersebut memastikan bahwa ia memahami bukan hanya nilai pahala secara konsep, tetapi juga hikmah, kesulitan, dan keikhlasan yang menyertainya. Jawabannya pun menjadi lebih utuh dan tidak dangkal.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa kebaikan yang dianjurkan sebaiknya berangkat dari pengalaman pribadi. Ketika seseorang telah merasakan manfaat sebuah amal, ia akan berbicara dengan keyakinan dan kehangatan yang berbeda. Nasihatnya tidak terasa menggurui, tetapi mengalir sebagai ajakan tulus. Inilah yang membuat pesan kebaikan lebih mudah diterima oleh orang lain.

Lebih jauh, sikap ini mencerminkan konsep amal sebelum dakwah. Dalam banyak tradisi ulama, seseorang dianjurkan memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain. Bukan berarti harus sempurna, tetapi ada upaya nyata untuk mengamalkan apa yang disampaikan. Dengan demikian, dakwah menjadi proses yang hidup, bukan sekadar retorika.

Akhirnya, kisah ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua, terutama dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh opini. Mudah sekali berbicara, menasihati, bahkan menghakimi, tetapi tidak mudah untuk terlebih dahulu melakukannya. Ulama tersebut mengajarkan bahwa kebaikan yang paling kuat adalah kebaikan yang telah dijalani. Maka, sebelum mengajak, berbuatlah. Sebelum menasihati, teladanilah. Dari situlah lahir kepercayaan, keberkahan, dan pengaruh yang abadi.

Semoga semangat membaca, menulis, dan menerbitkan karya terus menyala—menjadi cahaya bagi generasi muda, sekaligus amal jariyah yang tak putus.

 
Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya semerbak sampai ke desa.
Mari membaca, menulis sepenuh hati,
Agar dikenang sepanjang masa.

  • Salam Literasi
  • BHP April 2026
  • Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan