STAF Allah SWT Itu Bernama Thamrin Dahlan
Rusman S. Abrus
Tahun 1974 menjadi awal perjalanan saya bertugas di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Saat itu saya ditempatkan di bagian pelayanan obat-obatan atau apotik, sesuai profesi sebagai Asisten Apoteker lulusan Sekolah Asisten Apoteker (SAA), yang kini dikenal sebagai Sekolah Menengah Farmasi (SMF).
Pada masa itu, kondisi rumah sakit masih sangat sederhana. Pelayanan baru terbatas pada Poli Umum, Poli Gigi, dan Poli Kebidanan. Pasien yang datang umumnya anggota Polri, pegawai non-Polri, beserta keluarga mereka, serta sebagian kecil masyarakat sekitar. Lingkungan RS Polri pun masih lengang, jauh dari hiruk-pikuk seperti sekarang.
Tenaga medis dan paramedis juga masih terbatas. Perawat sebagian besar lulusan SPK (Sekolah Perawat Kesehatan), dan hanya segelintir lulusan Akademi Keperawatan (Akper) yang saat itu tergolong langka dan bergengsi. Kehadiran tenaga kesehatan lulusan D3 seperti Akper membawa warna baru, terutama dalam aspek administrasi keperawatan yang lebih tertata.
Pergi ke pasar membeli kain,
Tak lupa singgah membeli selasih.
Kejujuran dikenang sepanjang zaman,
Amanah hidup, ilmu penuh kasih.
Sekitar tahun 1980, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan seorang perwira Polri lulusan Akper, seorang Letnan Dua Polisi bernama Thamrin Dahlan. Pertemuan kami sangat singkat di ruang apotik. Saat itu, saya belum menyangka bahwa sosok tersebut kelak menjadi figur penting dalam perjalanan kerja dan kehidupan saya.
Waktu berjalan. Tahun 1986 saya dipindahkan ke Pusdokkes Mabes Polri di Jalan Trunojoyo. Pertemuan dengan beliau semakin jarang, hingga akhirnya pada tahun 1990, Mayor Polisi Thamrin Dahlan juga bertugas di Pusdokkes. Sejak saat itu, intensitas pertemuan meningkat, bukan hanya sebagai atasan dan bawahan, tetapi juga sebagai sesama insan yang sering dipertemukan dalam kegiatan ibadah.
Masjid Al-Ikhlas Mabes Polri menjadi saksi kebersamaan kami. Dari tangga menuju tempat wudu hingga saf shalat berjamaah, di sanalah saya melihat sisi lain dari seorang perwira: sederhana, khusyuk, dan membumi.

Kebersamaan kami semakin erat ketika sama-sama terlibat dalam kepengurusan Primkoppol Pusdokkes Polri. Saya sebagai Sekretaris, dan beliau kemudian dipercaya menjadi Ketua. Di sinilah saya menyaksikan langsung gaya kepemimpinan beliau yang khas—tegas namun bersahabat, memimpin tanpa jarak.
Dalam kepemimpinannya, beliau memperkenalkan sebuah konsep sederhana namun sarat makna: STAF.
STAF adalah:
- Siddiq — jujur dan dapat dipercaya
- Tabligh — komunikatif dan mampu menyampaikan
- Amanah — bertanggung jawab dalam tugas
- Fathanah — cerdas dalam merencanakan dan bertindak
Nilai-nilai STAF ini bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar dihidupkan dalam keseharian. Dampaknya nyata. Primkoppol berkembang pesat, bahkan meraih penghargaan sebagai Koperasi Primer terbaik tingkat Jakarta Selatan.
Rapat Anggota Tahunan (RAT) selalu berlangsung meriah, penuh keakraban, bahkan terasa seperti pesta keluarga. Kepercayaan anggota tumbuh, dan kebersamaan menjadi kekuatan utama. Saya merasakan bahwa kepemimpinan beliau bukan hanya administratif, tetapi juga spiritual.
Waktu berlalu. Tahun 2007 beliau bertugas ke BNN, sementara saya memasuki masa purnabakti. Secara kedinasan kami berpisah, namun tali silaturahmi tetap terjaga melalui Paguyuban Purnawirawan Kesehatan Polri.
Bagi saya pribadi, Thamrin Dahlan bukan sekadar atasan. Beliau adalah sahabat, teladan, dan pemimpin yang memanusiakan manusia.
Jika boleh saya simpulkan dalam satu kalimat sederhana:
STAF itu bukan sekadar konsep kerja—tetapi cerminan akhlak. Dan pada diri Thamrin Dahlan, STAF itu hidup.
Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Thamrin Dahlan 70 Tahun Rekam Jejak Literasi Terbit 2022 Tulisan Tercatat di Halaman 299.
Salam Literasi







Masya Allah, bangga dengan perjuangan Pak Thamrin Dahlan. Moga Bpk sehat selalu dan tetap aktif dalam menggiatkan literasi.