Ingatan yang Menyambung: Keajaiban Memori di Usia Senja
Sore itu, saat duduk tenang selepas asar, datang sekelebat ingatan: “Ada sesuatu yang harus saya kerjakan hari ini.” Saya tersenyum sendiri. Betapa sering pikiran ini datang menyapa di sela aktivitas harian. Saya menyebutnya: ingatan yang menyambung. Sebuah nikmat usia senja, ketika memori tidak terputus-putus, tetapi seperti benang yang terus ditenun oleh Sang Pencipta.
Saya merenung, mungkinkah ini bentuk keajaiban bagi kami, para lansia? Atau adakah penjelasan ilmiah yang bisa menjawab keajaiban ini?
Ternyata ada.
Para ilmuwan menyebutnya prospective memory, yaitu kemampuan otak untuk mengingat bahwa kita perlu melakukan sesuatu di masa depan. Misalnya: “Saya harus menulis, saya harus menelepon seseorang, saya ingin berdzikir sesudah magrib.” Ingatan semacam ini bukan kebetulan. Ini adalah buah dari neuroplastisitas, kelenturan otak yang terus dilatih. Semakin kita membaca, menulis, berdiskusi, dan menyibukkan pikiran dengan hal baik—semakin kuat jalur-jalur memori kita menyatu.
Ada pula yang dinamakan default mode network (DMN). Ini adalah jaringan otak yang aktif saat kita melamun, merenung, atau menyendiri. Di saat-saat itulah, otak menyusun ulang memori, menyambung serpihan informasi, dan mengirimkannya kembali ke kesadaran. Tiba-tiba kita ingat sesuatu. Tiba-tiba kita ingin berdzikir. Tiba-tiba kita terdorong untuk bersyukur.
Dan inilah bagian yang paling indah.
Ingatan yang menyambung sepanjang hari adalah jalan Allah untuk menuntun hamba-Nya agar tidak lupa pada zikir. Setelah Subuh: “Subhanallah wa bihamdih.” Setelah Zuhur: “Astaghfirullah.” Setelah Ashar: “La hawla wa la quwwata illa billah.” Setelah Magrib: “Laa ilaaha illallah.” Setelah Isya: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.” Lima waktu shalat menjadi penanda, sementara memori yang menyambung menjadi jembatan agar kita tetap terhubung dengan Allah SWT.
Rasa syukur pun muncul. Betapa Maha Penyayangnya Allah, yang masih menghadirkan daya ingat dan kesadaran batin, bahkan di usia yang telah lanjut. Mungkin inilah makna dari ayat: “Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Di akhir hari, saya berdoa agar memori ini terus menyala. Bukan semata untuk urusan dunia, tapi agar saya tidak pernah lupa: menyebut nama Allah, mengingat kematian, dan bersyukur atas setiap napas yang dihembuskan.










