Ketika Pancaindra Sepakat Bersatu

Terbaru, YPTD323 Dilihat

Menyatukan Iman, Pancaindra, Hati,  Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

Oleh: Thamrin Dahlan

Kita semua ingin bahagia. Itu fitrah manusia. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna kebahagiaan sejati? Banyak yang mengejar kebahagiaan di luar diri, padahal sumbernya justru begitu dekat: di dalam diri sendiri—di tubuh, di hati, dan dalam iman kepada Sang Pencipta.

Saya meyakini, salah satu bentuk kebahagiaan paling nyata adalah saat kelima pancaindra manusia—penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba—secara bersamaan merasakan kenikmatan. Ketika rasa itu terserap dan menyerap ke dalam hati, disinari oleh cahaya iman, maka muncullah kebahagiaan yang utuh: jasmani, rohani, dan ruhani berpadu dalam harmoni.

Kebahagiaan yang Dapat Dirasakan

Bayangkan sebuah sore yang hening. Kita duduk di taman, merasakan semilir angin, melihat bunga mekar, mendengar kicauan burung, mencium aroma tanah basah, dan mengecap teh hangat. Kelima indra bekerja selaras. Namun yang membuatnya istimewa adalah ketika semua rasa itu terserap ke dalam hati—dihadiri kesadaran, diterangi rasa syukur.

Itulah kebahagiaan yang bukan sekadar kenikmatan indrawi, tapi juga kenikmatan ruhani yang menyentuh batin.

Sentuhan Iman dan Kesadaran

Indra adalah pintu gerbang rasa. Namun hanya hati yang bisa memberi makna. Dan hanya dengan iman, rasa itu menjadi cahaya. Kebahagiaan sejati adalah anugerah yang hadir saat kita menyadari kenikmatan, mensyukurinya, dan menghubungkannya dengan kehadiran Allah SWT dalam hidup kita.

Iman memperhalus rasa, memperdalam makna. Kebahagiaan bukan hanya dari apa yang kita miliki, tapi dari kesadaran akan kehadiran-Nya dalam setiap nikmat kecil.

Filosofi Para Bijak dan Ulama

Epicurus mengajarkan bahwa kenikmatan sejati adalah kenikmatan yang sederhana namun disadari. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki hanya hadir ketika hati bersih dan ruh terhubung kepada Tuhan. Maka, iman adalah kompas yang mengarahkan indra dan hati menuju sumber kebahagiaan sejati.

Ada keajaiban ketika kita hidup penuh kesadaran: suara burung terasa syahdu, angin menjadi pelukan kasih, secangkir teh menjadi tanda cinta-Nya. Semua itu hanya bisa terjadi bila kenikmatan itu menyerap ke dalam jiwa—dan di sanalah letak mukjizat rasa. Saat tubuh, hati, dan iman bersatu dalam syukur, kebahagiaan sejati hadir tanpa perlu dicari.

Bahagia Itu Cahaya yang Menyerap ke Dalam Jiwa
Kebahagiaan tidak harus dicari di tempat jauh. Ia hadir dalam detik ini, saat pancaindra menikmati, hati merenungi, dan iman menyinari. Bahagia itu sederhana, tapi dalam. Bukan sekadar rasa, tapi makna. Bukan hanya kenikmatan, tapi penyatuan rasa dengan cahaya-Nya.

  • Salam, Bahagia Selalu.
    Thamrin Dahlan
    Penulis Buku Humaniora
    Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan
    terbitin.id

Tinggalkan Balasan