
Enaknya Duduk Sambil Senderan
Catatan Thamrin Dahlan
Ungkapan “nikmatnya duduk senderan” merujuk pada rasa nyaman dan kepuasan saat bersandar atau duduk bersandar pada suatu objek, seperti kursi atau dinding. Fenomena ini berkaitan dengan pengalaman sensorik dan relaksasi otot-otot tubuh setelah beraktivitas atau duduk dalam posisi tegak untuk jangka waktu tertentu
Terkadang, kita lupa bahwa kebahagiaan itu sederhana. Tidak selalu perlu liburan mahal, tempat mewah, atau pencapaian hebat. Cukup duduk santai, sambil senderan di kursi favorit, ditemani angin sore atau secangkir kopi hangat, rasanya dunia pun melambat sejenak.
- Jalan-jalan ke Kota Bangkalan,
Pulangnya mampir beli rambutan.
Duduk santai sambil senderan,
Capek hilang, hati pun tentram.
Duduk sambil senderan itu bukan hanya soal fisik, tapi juga soal jiwa yang ingin rehat. Saat punggung bersandar, seolah-olah beban hidup ikut ditaruh barang sebentar. Entah itu beban kerja, urusan keluarga, atau sekadar rasa lelah karena dunia yang semakin bising.
Saya sering melakukannya di sore hari. Di beranda rumah, ditemani suara burung, aroma masakan tetangga, dan langit yang berubah warna. Rasanya… damai. Dalam diam, saya bisa berpikir jernih, atau bahkan tidak berpikir sama sekali. Hanya duduk, menatap pohon, menikmati hening. Dan anehnya, justru di situ kadang muncul ide-ide segar, inspirasi kecil, atau sekadar rasa syukur yang tumbuh diam-diam.
- Burung pipit hinggap di dahan,
Angin semilir menyapa pelan.
Duduk tenang sambil senderan,
Damai terasa sampai ke perasaan.
Namun, ada satu pesan bijak yang pernah saya dengar dari seorang ulama ketika memberi ceramah di sebuah Majelis Taklim:
“Silakan duduk sambil bersandar, atau bersender ke dinding, asalkan jangan tertidur. Tapi ingat, dalam hidup ini, tempat bersandar yang sejati hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Kita boleh menyandarkan tubuh ke tembok atau kursi, tapi jangan lupa—untuk urusan hidup dan kehidupan, tempat kita bersandar seutuhnya hanya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk bertawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya setelah berusaha. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).
(QS. At-Talaq: 3)
Sandaran hidup sejati bukan jabatan, bukan harta, bukan manusia lain—melainkan Allah yang Maha Menopang segala kelemahan kita. Sandaran yang tak akan mengecewakan.
- Ke pasar beli jagung rebus
Jangan lupa beli bawang.
Hidup ini tak selalu mulus,
Bersandar pada Allah hati tenang.
Kita tidak selalu perlu lari dari rutinitas. Kadang, kita hanya perlu menepi sebentar. Senderan. Menikmati keberadaan kita sambil mengingat, bahwa dalam dunia yang serba fana ini, hanya Allah tempat bergantung yang abadi.
Jadi kalau hari ini terasa berat, mungkin Anda cuma perlu duduk sebentar. Cari kursi paling nyaman. Senderkan punggung. Tarik napas panjang. Lalu bisikkan dalam hati:
“Ya Allah, aku sandarkan lelahku kepada-Mu.”
- Bunga melati harum mewangi,
Tumbuh subur di musim semi.
Bersandar ke dinding dunia ini,
JAngan lupa kasih sayang Illahi
Bersenderlah setiap saat. Niatkan ketika akan bersender, Ingat sesungguhnya tempat makhluk bersender yang terbaik adalah hanya kepada Allah SWT.
Tuhan Yang Maha Esa tempat kita berharap, berserah diri, bersyukur dalam setiap doa nan terucapkan.
Aamiin Ya Rabbal Alamiin
Alhamdulillah, semoga bermanfaat.
- Salam Senderan
- BHP, 17 Juni 2025
- TD












