
Shalat Jum’at Haji Dahlan bin Affan
Khusus dalam melaksanakan shalat Jumat, perjalanan Bapak menuju masjid ternyata melalui route yang khusus. Tidak melalui route ladangnya seperti biasa, tetapi melalui jalan yang lebih melingkar dan tentunya lebih jauh.
Semakin banyak langkah ke Masjid maka semakin banyak pula dosa dosa kita di ampuni Allah SWT, Demikian tutur Ayahandaku sholeh ini.
Matahari belumlah sampai dipuncaknya bumi, waktu baru menunjukan pukul 10.30, Bapakku sudah beranjak meninggalkan rumah, sangat awal sekali ya sangat awal sekali bagiku dan saudara saudaraku, tapi itulah Bapak, untuk hal yang satu ini tidak ada kompromi, wajib lebih awal ke Masjid di hari istimewa.
Persoalan berangkat ke Masjid ini tentunya berbeda dengan cara kami. Aku dan saudara saudaraku baru akan berangkat ke Masjid ketika terdengar suara azan Jumat, Kami berlari lari menuju Masjid, sarung di silangkan di bahu badan terkadang kopiahpun tertinggal, berwudhu nanti di Masjid saja.
Perjalanan Bapak menuju masjid melalui teras depan rumah, Melewati satu kolamnya dan jalan menanjak melewati rumah Bapak Kafrawi disebelah kanan dan rumah Bapak Priyono disebelah kiri, Sampai diatas jalan mendaki ini tibalah Bapak di perumahan pegawai pertamina : woneng 12 kami menyebutnya.
Lanjut belok kanan, jalan lurus landai melewati poliklinik disebelah kanan. Belumlah begitu banyak orang yang ditemukan Bapak ketika perjalanan menuju Masjid. Terutama yang arah sama ke Baitullah, hanya beberapa orang saja yang berpapasan, malah arahnya berlawanan dengan Bapak.
Ada yang baru pulang dari pasar, ada yang baru pulang dari kantor, anak sekolah dan ibu ibu, Namun setidaknya Bapakku telah mem proklamir kan ke khalayak ramai, bahwa hari ini adalah hari Jum’at. Mari ke masjid .! .
Bapakku sebenarnya sangat pendiam, namun untuk menyapa Assalamualaikum kepada siapapun yang bertemu adalah wajib hukumnya,
Setelah menyapa, tentunya disertai dengan bersalaman. Genggaman Salaman ini tidak Beliau lepaskan sebelum orang yang disalami melepaskannya, sembari berucap kata “basa basi” ; apa kabar, itu saja….aneh tapi begitulah Bapakku.
Setelah melewati poliklinik jalan agak menurun terlihat dari atas Pasar Tempino yang sudah tua dan hampir roboh. Minyak sudah berkurang dikampong kita ini, demikian kata Pak Etekku Sabirin adik satu satunya Bapak-ku;
Sehingga perhatian perusahaan minyak untuk perawatan fasilitas umum seperti jalan, sekolah, Pasar dan lain lain sudah tidak menjadi prioritas lagi.
Sampailah Bapak disimpang empat, kekiri menuju kota Jambi, lurus kebawah menuju arah Palembang dan ke kanan menuju masjid.
Masih 150 meter lagi sampai ke Masjid Tempino setelah melewati disebelah kiri bawah ada balai pertemuan dan bioskop. Balai pertemuan milik pertamina ini, diperuntukan bagi karyawan untuk “ rekreasi”, padahal hanya ada satu saja meja bilyard, Tapi tunggu dulu ada hiburan lain, disebelah kirinya ada juga tontonan gratis di gedung bioskop, yang memutar film sekali seminggu, atau sebulan sekali, tergantung.
Sampailah Bapak di masjid, langsung masuk setelah terlebih dulu membaca doa masuk Masjid. Waktu baru menunjukkan pukul 11.00 kurang 5 menit. Kehadiran Bapak di masjid hanya kalah cepat dengan marbot masjid. Bapakku yang kedua dan marbot masjid yang pertama, karena memang khadimullah itu mondok di masjid.
(bersambung….)
- Alhamdulillah
- BHP, Jum’at 13 Juni 2025
- Thamrin Dahlan














luar biasa ayah pak haji TD, jadi ingat alamarhum ayah dan kakek yg selalu siap satu jam sebelum waktu jumatan tiba