
Para pemimpin negara yang tergabung dalam BRICS berfoto bersama dalam KTT BRICS di Johannesburg, Afrika Selatan, 2023 silam.–
Anda benar-benar tahu lebih dulu dari saya: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan tarif tambahan untuk India: 25 persen. Total menjadi 50 persen. Persis sama dengan yang dikenakan Trump pada Brasil.
Sikap pemimpin India, Narendra Modi, lebih keras dari pemimpin Brasil Lula da Silva. “Saya harus melindungi para petani India. Ini harga mati,” ujar Modi blak-blakan. Ia tidak takut dengan tarif 50 persen itu. “Saya juga harus melindungi nelayan kami. Peternak susu kami,” tambahnya.
Begitu manis di telinga rakyat jelata di bawah India.
Modi sendiri segera ke Tiongkok. Itu kunjungan pertama dalam tujuh tahun terakhir. Kebetulan ada ”KTT Forum Tetangga”. Tempatnya, tahun ini, di Tianjin –30 menit naik kereta cepat dari Beijing. KTT itu adalah forum negara-negara yang berbatasan dengan Tiongkok.
Tiongkok punya tetangga sebanyak 14 negara. Tidak ada negara lain yang ”tetangga sebelah”-nya sebanyak itu. Forum Tetangga ini bukan pertemuan formal. Ini forum informal: Shanghai Corporation Organisation. Lebih sering dilaksanakan di Shanghai.
Kunjungan Modi tanggal 31 Agustus nanti menjadi lebih penting setelah sama-sama jadi korban Donald Trump. Apalagi sejak tegang akibat kontak senjata di lembah Himalaya Modi belum pernah ke Tiongkok.
Memang agak sulit menyilangkan kepentingan antar dua negara. Sama-sama haus energi. Sama-sama impor minyak dari Rusia. Tiongkok terbanyak, India runner-up.
Sebenarnya ada yang bisa dikerjasamakan: gas Rusia dialirkan ke India lewat daratan Tiongkok. Toh Tiongkok sudah punya jaringan pipa gas sampai Kunming. Bisa disambung ke daratan India. Seperti Eropa memasang pipa gas dari Rusia lewat daratan Ukraina. Juga lewat bawah laut di selatan Finlandia.
Selebihnya: Tiongkok dan India adalah pesaing di banyak bidang. Hubungan mereka lebih sensitif. Saya heran mengapa India mau menjadi pendiri BRICS bersama Tiongkok, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan. Jangan-jangan India berpikir justru harus masuk BRICS agar tahu perut Tiongkok lebih dalam –sebagai pesaing apa saja.
Yang jelas India memang punya sikap independen yang tinggi. BRICS bisa jadi alternatif dalam menghadapi dominasi blok Barat.
Bagi Tiongkok lebih mudah memberikan solidaritasnya ke Brasil. Tiongkok memerlukan Brasil: kedelainya. Apalagi setelah sulit mendapatkan pasok kedelai dari Amerika Serikat.
Maka di saat Brasil dikenakan tarif 50 persen, Tiongkok langsung buka tangan: silakan ekspor kopi ke Tiongkok. Tanpa bea masuk.
Itu bentuk solidaritas Tiongkok yang luar biasa bagi Brasil. Si Samba adalah produsen kopi terbesar di dunia. Arabicanya. Robustanya. Selama ini ekspor terbesarnya ke Amerika. Di saat pukulan berat, sahabat menjulurkan tangan.
Apalagi Tiongkok sekarang dalam proses beralih dari teh ke kopi. Lebih satu miliar orang akan beralih ke kopi.
Di Tiongkok, kafe sudah bermunculan seperti jamur. Dulu saya sangat jarang melihat orang Tiongkok minum kopi. Minumnya selalu teh. Botol yang dibawa selalu berisi teh. Di mobil minuman yang ditaruh di sebelah kemudi adalah teh.
Teman saya, pemilik Kopi Kapal Api, pernah investasi pabrik kopi di Shanghai. Gagal. Terlalu dini. Ia seperti jualan sepatu di Afrika di zaman semua orang lebih merasa enak tanpa alas kaki. Bertahun-tahun Kapal Api mencoba bertahan. Tidak berhasil. Rugi terus.
Dasar hoki, ia tiba-tiba ketiban rezeki: Pemda Shanghai akan membangun arena balap mobil Formula One. Lokasinya mencakup pabrik kopinya. Ia kena gusur. Dapat ganti rugi yang sangat besar. Seluruh kerugiannya bertahun-tahun terbayar oleh proyek Formula 1.
Belakangan ia melihat orang Tiongkok mulai gemar minum kopi. Maka ia terpikir untuk membuka pabrik kopi lagi di sana. Lokasinya di antara Shanghai dan Hangzhou. Kini, saya dengar, usahanya itu sukses. Saya sudah beberapa kali ditawari mengunjunginya tapi masih belum dapat waktu.
Cafe asal Amerika pun, Xing Ba Ke (星巴克) kini punya 7.500 gerai di seluruh Tiongkok. Target berikutnya: tahun depan menjadi 9.000 gerai.
Di sana, kalau Anda bertanya di mana Starbucks akan sulit mendapat jawaban. Tapi kalau Anda bertanya di mana Xing Ba Ke, Anda langsung ditunjukkan di mana Starbucks.
Sukses Xing Ba Ke itu ditangkap pengusaha lokal. Ia bikin pesaing Starbucks. Namanya: Luckin Coffee. Dalam sekejap mengejar Xing Ba Ke. Lalu menyalipnya. Kini jauh meninggalkannya: akhir Maret lalu sudah punya 24.000 gerai. Empat bulan kemudian menjadi 26.000 gerai.
Dalam bahasa lokal Luck’in Coffee disebut Ruixing (瑞幸咖啡). Logonya bukan kepala gajah atau kepala banteng, tapi kepala kijang.
Maka Brasil sudah menemukan pasar baru untuk produk utamanya. Akan bersaing dengan kopi produk Indonesia yang dibawa ke sana oleh Kapal Api.
Brasil, India, Tiongkok kini jadi trio kwek-kwek yang teriakan mereka bisa memekakkan telinga Trump: kwek-kwek-kwek-kwek…(Dahlan Iskan)
Thamrin Dahlan YPTD
Sekarang perihal keajaiban bertetangga. Tetangga adalah saudara paling terdekat. Memang ada sih adik berkakak kandung. Namun posisi mereka bisa jadi berjauhan secara geografis.
Tolong menolong sesama tetangga baik dalam keadaan senang maupun keadaan syusah sudak kodrat Budaya Indonesia . Itu dulu di pedesaan.
Entah sekarang di perkotaan. Gaya hidup apartemen tampaknya merubah kerukunan tetangga. Walaupun istilah Rukun Tangga / Rukun Warga masih ada namun pergeseran budaya itu tak terhindarkan.
Bertetangga antara negara laiknya sama saja denga tetangga sebelah kiri kanan depan belakang rumah. Tiongkok menyadari kondisi geografis tersebut. Kemana lagi produksi melimpah apabila tidak ditawarkan kepada tetangga.
Tetangga pasti senang bersebab harga yang dipakai harga persahabatan. Justru nilai silaturahim itulah yang membuat kehidupan bertetangga semakin aman, nyaman dan tentram.
Nah anda bisa me analogikan dengan Amerika di bawah Donald Trump. Apakah hidup bertetangga itu ada di budaya sana. Justru dengan Israel ternyata walaupun ribuan kilometer mereka bersahabat baik.
Ya sudahlah. Indonesia mmiliki Organisasi Asean. 11 Negara Asia Tenggara saling bantu membantu. terutama menghadapi serangan negara luar.
Tionglkok walaupun tetangga jauh namum hubungan diplomatis dan hubungan dagang oike oke saja. Prinsipnya hanya satu win sin solution..
Bebek saja bisa apalagi manusia.
Bersatu Berdaulat
Rakyat Sejahtera
AIndonesia Maju
Thamrin Dahlan YPTD
Selamat sore Pak Mario, Syed Taufik, Pak Budi Haditirto dan Pak Hendro Santoso..
Perubahan cara bersulang Tiongkok dari Teh ke Kopi bisa dianggap suatu revolusi. Bayangkan sejak Zaman Kerajaan Ming yang membudi dayakan bersulang pada setiap pertemuan kini berubah drastis.
Saya jadi teringat 2 tahun lalu Sahabat Perusuh Pak Mario ketika pulang dari China menghadiahkan Seperangkat Teh. Bukan sembarang teh namun Teh terbaik produk China. Terima kasih .
Siapa sangka perubahan ini merupakan hikmah bagi Brazil sehinga produksi Kopi sangat diminati seluruh dunia. Pangsa Tiongkok luar biasa bersebab jumlah penduduk konsumen bersulang kopi sudah cukup membuat Donald Trump garuk garuk kepala.
Inilah bumerang. Kata orang sini senjata makan tuan Memang perilaku egois ingin menang sendiri sudah tidak berlaku lagi di era abad 20.
Semua negara sekarang memiliki keunggulan sendiri. Tidak bergantung kepada satu negara saja. Amerika boleh berbangga di masa lalu.
Para pembeli kini leluasa dimana mereka harus belanja. Bebas menentukan dalam prinsip untung sama untung. Bulkan lagi satu untung satu buntung.
Ber sulang lagi yok Pak Mario. Nanti bersua di Bandung. Apa jenis kopi produksi Semarang yang akan kita nikmati. Saya tergoda kopi cap kapal api yang kini sudah merambah ke cafe cafe diseluruh dataran Tiongkok. Star Buck tampaknya meleleh..
Indonesia juga mendapat keberkahan. Kopi laris manis di Tiongkok.
Bersatu Berdaulat
Rakyat Sejahtera
Indonesia Maju Salamsalaman
Reply










