Gemes Garuda

Garuda Indonesia masuk daftar perusahaan terbaik se-Asia Tenggara versi Fortune Southeast Asia 500 tahun 2025.-ist-
Gemes. Itu lahir dari rasa benci tapi rindu. Rindu agar Garuda Indonesia jadi kebanggaan nasional. Pembawa bendera bangsa.
Itu yang rasanya sangat diinginkan Presiden Prabowo –melebihi perasaan kita. Harus bangga pada negara. Sampai mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Himalaya pun ia promotori.
Benci karena prestasinya turun naik –lebih banyak turunnya. Setiap kali ditemukan jalan keluar sembuhnya hanya sementara. Khas BUMN.
Saya percaya dengan besarnya ambisi Prabowo, Garuda dapat jalan keluar lagi. Tapi itu tadi. Apakah biaya jalan keluar itu tidak sia-sia kalau tak lama nanti Garuda bermasalah lagi.
Membenahi Garuda perlu langkah jangka panjang. Proses rusaknya cepat sekali.
Saya juga percaya Prabowo, lewat Danantara, bisa cari uang berapa saja yang diperlukan. Yang penting bisa menyembuhkan Garuda. Tapi harus ada perhitungannya: apakah dana besar untuk Garuda itu tidak menyebabkan lebih memburuknya ICOR nasional.
Anda sudah tahu: ICOR nasional kita masih sangat tinggi. Menakutkan. Ada yang menghitung angkanya sampai 6. Dibanding Malaysia yang hanya 4,6. Apalagi Singapura atau Tiongkok.
ICOR jelek itu Anda pun sudah tahu penyebabnya: terlalu besarnya pemakaian uang untuk sesuatu yang kurang menghasilkan.
Maka Danantara akan minta Garuda untuk menjanjikan berapa ICOR yang didapat atas Dana Rp 6 triliun yang disuntikkan padanya.
Bagaimana kalau dana ke Garuda itu hanya akan memperburuk ICOR nasional? Bukan berarti rencana itu tidak boleh jalan. Apalagi kalau permintaan presiden itu “harga mati”.
Namun Danantara harus mencari sektor lain yang sangat istimewa yang bisa membuat ICOR nasional membaik.
Danantara mungkin perlu punya “rukun iman” ini: berapa proyek yang ICOR-nya jelek yang boleh diberi dana. Yakni hanya proyek yang benar-benar diinginkan Presiden. Selebihnya harus membiayai proyek-proyek yang ICOR-nya baik.
Maka kalau ada usulan proyek yang ICOR-nya jelek harus ditolak. Apalagi kalau jumlahnya sudah melebihi “rukun iman”.
Pelanggaran terhadap rukun iman berarti musyrik. Dosa besar. Tak terampuni. Maka kewajiban para pengusul proyek untuk menyertakan analisis ICOR. Agar mereka malu sendiri untuk mengusulkan proyek yang berbau musyrik.
Misalkan keinginan presiden untuk melambungkan Garuda masih bisa ditawar. Mungkin bisa diusulkan jalan tengah: bagaimana kalau Garuda sekalian dipakai untuk memperkokoh persahabatan antar negara serumpun. Garuda digandengkan dengan Malaysian Airlines (MAS). Seperti Air France milik Prancis bergandengan dengan KLM-nya Belanda. Dua-duanya pernah dalam situasi buruk. Kini dua-duanya masih eksis dan bagus. Air France masih berkibar. Pun KLM.
Saya pernah membicarakan itu dengan CEO MAS. Tapi, sekali lagi, saya keburu expired. Mungkin bisa dilanjutkan dengan langkah yang lebih smart.
Saya tentu suka kalau Garuda didorong kuat. Pun bila konsekuensinya harus mengorbankan ICOR nasional. Tapi Danantara harus bisa ”menebus” dosa musyrik di Garuda itu dengan balas dendam di proyek yang lain.
Sebagai bawahan yang baik, Danantara tentu tidak boleh begitu saja menolak keinginan atasan, tapi juga harus bisa mencarikan jalan keluar agar keinginan itu tetap berjalan tanpa mengorbankan ICOR.
Ibarat mizan, Garuda menjadi faktor ”dosa” di kiri. Perlu dicari pemberat di mizan kanan.(Dahlan Iskan)
Komentar Thamrin Dahlan dan Taufik Uieks
thamrindahlan
Gerem Geruda.
Bisa jadi kegereman kita terhadap berlarut larut nya masalah garuda karena masalah krisial di bidang sumber daya pengelola manajemen.
Sudah berulang ganti Direktur Utanq Garuda masih tekor dalam bahasa keuangan rugi nyaris pailit.
Kalau boleh banding bandingkan dengan maskapai penerbangan Lion dan Air Asia maka anda bukan saja gelang gelang tetapi geram gerem segeremnya.
Kenapa dengan persoalan sama 2 penerbangan tersebut bisa survive. Malah bisa expansi mengembangkan dan menambah rute penerbangan semakin meluas ke manca negara.
Awak tak bisa kasih solusi bersebab tak punya ilmu pengetahuan dan pengalaman perihal transportasi udara.
Awak punya teman perusuh syed Taufik Uieks yang bertahun tahun bekerja di bidang penerbangan. Ditunggu Syed sahabat Alumni Paska Sarjana Universitas Indonesia.
Salam
22 jam
Taufik Hidayat
Terima kasih Syed Thamrin . Dahlan.
Kebetulan saya sih bukan ekonom bukan pula ahli strategi. Walaupun saya pernah sedikit belajar ekonomi dan keuangan serta manajemen resiko, tetapi tentunya tidak cukup untuk memberikan solusi bagi masalah yang kental nuansa politiknya seperti di BUMN garuda misalnya.
Kalau mengikuti pengalaman saya yang dulu pernah berapa belas tahun menjadi Naho dah sebuah perusahaan joint venture di bidang perawatan pesawat udara, kunci sukses atau tidaknya di bidang keuangan salah satunya adalah pengelolaan SDM dan GCG atau good corporate governance.: Disiplin keuangan dijaga,
Laporan keuangan satu versi, Audit nya terpercaya, Penunjukan pejabat atau fesional alias bukan arisan jabatan. Jadi kalau kita bicara soal garuda, hati ini bagaikan sedang ditinggal pacar tanpa pamit. Sebetulnya masih cinta tapi tahu diri lah. Jadi garuda ini kan sudah sering ditambal kebocoran nya,
Tapi takutnya kan bukan di kulit , Melainkan di dalam sistem metabolisme nya yang korup dan lelah. Walau sudah go public, tapi harga sahamnya langsung anjlok setelah IP0. Komisaris juga lebih sering ditunjuk seperti bagi-bagi jabatan atau arisan bukan kompetensi. Apakah modal 6 T, Bisa menyembuhkan? Tentu bisa tapi pertanyaannya apakah akan tetap sehat setelah itu? Di situlah pertanyaannya, karena iIC OR akan bertambah jelek kalau modal besar disuntikkan ke badan yang susah sembuh. Ibarat mengisi angin ke ban yang masih bocor. Padahal garuda itu punya aset yang luar biasa
- 22 jam
Taufik Hidayat
Lanjutannya : Salah satu aset garuda adalah potensi wisata Indonesia dan juga pasal domestik yang cukup sah wilayah kita yang luas. Kita liat ya aneh ada sedikit anomali mas Kapa yang sukses itu malah yang tidak punya domestik, SQ misalnya, juga ada QR, CX, dan Ek. Semuanya maskapai top yang tidak punya rute domestik.
Tetapi mereka mengandalkan penumpang yang transit di HP mereka. Misalnya saja penumpang dari Jakarta mau ke London atau mau ke new york bisa naik SQ transit di SIN. Sementara tidak ada tuh penumpang misalnya saja dari Sydney mau ke Tokyo transit di CGK. Nah jadi strateginya bagaimana tuh membuat Diman untuk maksud ini?
Bahkan pemerintah Tiongkok saja akhir-akhir ini sudah mengeluarkan kebijakan transit tanpa visa. Singkatnya mereka tidak hanya menjual tiket tetapi juga menjual ecosystem wisata atau bisnis di negaranya. Nah apakah kita sudah kesanah kayaknya masih jauh ke Bedug. Garuda sebetulnya punya potensi untuk jauh lebih baik.
Tetapi sebelum kita bicara soal branding, lebih baik kita cleansing dulu. Kalau penyakit Jeje nya belum bisa sembuhkan, mau disuntik berapa pun tentunya akan terus melempem ICOR akan makin terpuruk. Saya masih berharap walaupun berharap juga talu ekosistem yang sehat.
Bukan hanya slogan dan ngomong-ngomong. Dan kalau Pak Prabowo ingin GA bangkit, Mungkin langkah pertama selain dana adalah membersihkan dosa dosa lama.
Kalau tidak bahkan dewa pun yang akan menerbangkan bohong besi ini akan terjebak dalam turbulensi yang sama. TH
- 19 jam
thamrindahlan
Terima kasih Sobat Taufiik Hidayat.
Kombinasi antara lmu Pengetahuan ketika kuliah ekonomi syariah dan praktisi belasan tahun bidang transportasi udara mampu menyisir sebab musabab Garuda.
Tampaknya bermuara ke man behind the gun. Pantas saja Presiden Prabowo Subianto sangat gerem ( double geram)
- 19 jam
thamrindahlan
Saya yakin pada gilirannya Garuda Indonesia Airways terbang tinggi di angkasa antar benua. Keyakinan itu berangkat dari Slogan
“Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi.”
Anda sudah tahu siapa pencetus slogan pemberi semangat kebangsaan. Keyakinan saya kedua ketika muncul ide jenius seperti penetapan Abolisi untuk Tom Lembong.. Serta merta suasana negara ini adem ayem. Hukum kembali menemukan marwah nurani keadilan sejati.
Nah untuk GIA kita tunggu ide jenius. Misalnya Bapak Hashim Djojohadikusumo diberi Amanah “menerbangkan”Garuda.
Tidak akan ada lagi oknum pejabat atau siapa saja yang berani coba coba cawe cawe GiA. Garuda menjadi kebanggaan Presiden Prabowo Subianto dan Rakyat Indonesia.
Bersatu Berdaulat
Rakyat Sejahtera
Indonesia Maju
Salamsalaman
Thamrin Dahlan









