
Mudik empat
Saung Haji Robert
Catatan Thamrin Dahlan
Salah satu hikmah mudik ialah mempertautkan silaturahim. Perbedaan jarak jauh dan jarak dekat sebenarnya bukan menjadi kendala berkomunikasi antar warga. Namun tatap muka menjadi lebih bermakna bersebab bisa bersalaman langsung dan juga berbagi sedekah serta makan bersama.
Itulah sebabnya selama 5 hari mudik pulang kampung ke Tempino Jambi awak bergiat mengunjungi sanak saudara dan teman teman lama. Bernostalgia menguak crito lamo sembari melihat jejak tapak selama 17 tahun berpenghidupan di kampung.

Awak selalu teringat amanah Ayahanda Haji Dahlan bin Affan agar terus menyambung silaturahmi.
“Sahabat Ayah dan keturunanannya adalah sahabat kalian, jangan sampai terputus, kunjungi dan sapa pada setiap kesempatan”
Haji Robert merupakan sanak saudaro. Sejak dari Jakarta sudah kami niatkan bersilaturahim. Ayah Haji Robert Bapak Ahmad Stoom (Alm) adalah kerabat dekat Ayahanda Haj Dahlan (Alm) sama sama perantau dari Bengkulu.
Pak Ahmad Stom Kepala Kampong (Pakpung) Tempino tahun 60 an sedangkan Ayahanda Pegawai Pertamina. Pakpong dimasa 60 – 80 an setara Jabatan Lurah. Pak Ahmad sosok tokoh masyarakat sangat di cintai rakyat karena ketendahan hatinya dan kedermawanan.
Tifak banyak orang Bengkulu metantau di Jambi. Itulah sebabnua Ayahanda Dahlan dan Pakpong sudah dianggap saudara. Pakpong memanggil Haji Dahlan dengan sebutan Dang. Terjemahan Bahasa daerah Bengkulu artinya Kakanda.
Sekarang sampai cerita Saung Haji Robert. Sehari setiba di Tempino awak menghubungi Dindo sedulur Bengkulu.
” Kando bada Dzhuhur kito basuo di Km 20″
Silaturahim merupakan takdir pertemuan menrruskan petsahabata orang tua terselenggara di Km 20 Jalan Tempino Jambi. Kesan pertama ketika memasuki kawasan Restoran Saung Haji Robert ; Nuansa Syariah.

Ketika menuju Mushola untuk menegakkan Shalat Dzhuhur kami berempat melewati saung yang diberi nama Khalifahiurrasyiddin. Syaidina Abubakar Shidieq, Umar Khatab Ustman bin Affan dan Ali bin Abithalib.
Ini pertama kali awak bertatap muka dengan Haji Robert walau sebelumnya acap bercakap di dunia maya. Postur tinggi, tegap berjanggut dan mengenakan kopiah haji putih. Senyum ranyah Pak Haji owner saung mengantarkan kisah persaudaraan Bengkulu.
” Uda Thamrin dan Uni, Alhamdulillah perjuangan jatuh bangun sebagai pengusaha ini bukan warisan Ayahanda.”
Berlanjut kisah Pengusaha Kontraktor Alat Berat Pertamina ini. Ketika Bapak wafat 1976 saya baru berusia 6 tahun. Tak paham soal menyoal harta Bapak yang memiliki 4 swawmill dak hektaran tanah.
Seninggal Bapak keluarga kami merasakan titik terendah penghidupan. Sampai sampai saya berjualan kue sembari sekolah. Alhamdulillah penderitaan ini mengajarkan saya untuk terus berjuang berdasarkan ajaran Agama sehingga saat ini mampu mendirikan 2 pesantren.

Haji Robert menjamu makan siang menu pindang ikan patin, ikan baung dan udang satang. Walau saung ini berada di luar kota Jambi ditempuh 20 kilometer ternyata nikmat masakan shef pilihan itulah yang membawa tetamu bergegas datang untuk merasakan sensasi hidanngan khas jambi super maknyus.
Saung berkonsep keluarga di tata sedemikian apik mengelilingi danau buatan. Ikan ikan berebut makanan merupakan hiburan tersendiri ketika duduk lesehan dan berkursi di 20 pondok.
Awak menyangka Saung Haji Robert sudah cukup lama melayani kuliner. Ternyata baru 2 tahun berdiri namun sudah dikenal masyarakat luar Propinsi Jambi. Cobalah anda search di google.com maka puluhan informasi tentang Saung tertera sebagai bukti ada destinasi kuliner nan patut anda singgahi.
Alhamdulillah amanah Orang tua kami telah ditunaikan menyambung silaturahim antar keluarga. InshaAllah pada pertemuan selanjutnya ditakdirkan pula bersua dengan Ustazd Abdul Somad (UAS) dan Ustazd Yusuf Mansyur sohib dan pembina pesantren Haji Robert.
Salam Literasi
Sei Lilin 19 September 2021
YPTD











