
Ketika Dunia Bergegas, Patut Menjadi Pelita
- Istirahat sejenak tenaga pulih
- Bukalah jendeka matikan kipas
- Ketika anda terpaksa memilih
- Dahuukan patut dari pada pantas
Biar lambat asal selamat.
Ungkapan lama ini mungkin terdengar klise. Namun dalam dunia hari ini yang serba laju, kata-kata itu terasa seperti peringatan lembut — bahawa ada sesuatu yang hilang saat kita terlalu mengejar kepantasan.
Dunia yang Terlalu Cepat
Kita hidup dalam zaman yang tak pernah memberi ruang untuk diam. Segala hal dituntut untuk selesai sekarang juga. Orang yang lambat dipanggil “tidak kompeten”. Kecepatan menjadi lambang profesionalisme dan keberhasilan. Kita dikejar waktu, target, dan angka-angka.
Namun di tengah gegas dunia, pernahkah kita bertanya: ke mana hilangnya sikap patut — adab, kelayakan, dan pertimbangan? Mengapa kita lebih takut dianggap lambat daripada dianggap kurang ajar?
Artikel ini mengajak kita merenung kembali nilai “patut” dalam kehidupan — sebagai fondasi etika, kemanusiaan, dan kebudayaan yang lestari.
Patut dan Pantas: Dua Nilai, Dua Arah
“Patut” dalam budaya Melayu-Nusantara tidak sekadar “layak”, tapi membawa makna adab, kehalusan budi, rasa hormat, timbang rasa, dan tahu tempat. Seseorang yang berpatutan tidak hanya berlaku benar, tetapi tahu bagaimana dan bila berlaku benar — dengan cara yang tidak melukai.
“Pantas”, di sisi lain, adalah nilai efisiensi, kecepatan, dan keberhasilan. Dalam dunia modern, ini diasosiasikan dengan teknologi, inovasi, dan produktivitas.
Keduanya bukan musuh. Tapi ketika harus memilih, humaniora mengingatkan: biarlah patut didahulukan, agar pantas tidak menjadi bencana.
Bahaya Ketika Pantas Mendahului Patut
1. Di dunia kerja:
Banyak organisasi memuja “hasil cepat”, tapi mengabaikan kesejahteraan pekerja. KPI menggilas empati. Deadline membungkam dialog.
→ Cepat, tapi kosong jiwa.
2. Di media sosial:
Ingin cepat viral → bicara tanpa fikir, serang tanpa saring.
→ Pantas, tapi memalukan.
3. Dalam pendidikan:
Sistem menekan siswa untuk cepat menguasai materi, cepat lulus, cepat kerja — tapi adab belajar, kepekaan sosial, dan kasih sayang guru-siswa memudar.
→ Lulus, tapi lupa siapa diri.
Mengapa Patut Harus Didahulukan
“Patut” adalah nilai dasar yang menjadikan tindakan manusiawi. Tanpanya, kepantasan bisa menjelma kekejaman yang dingin.
Dalam falsafah Timur, tindakan dianggap benar bukan hanya kerana hasilnya, tapi kerana caranya.
Dalam etika konfusius, li (ritual sopan) penting agar yi (keadilan) tidak menjadi tirani.
Dalam Islam, adab mendahului ilmu — kerana ilmu tanpa adab adalah petaka.
> Seperti kapal cepat tanpa kemudi,
Pantas tanpa patut, akan karam sendiri.
Jalan Tengah: Ketika Patut dan Pantas Boleh Bersatu
Kita tidak harus memilih satu dan membuang yang lain. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan.
Pantas yang berpatut = tangkas tapi berhati.
Patut yang berpantas = sopan tapi cekap.
Tokoh-tokoh besar seringkali menggabungkan keduanya:
- Gus Dur, dengan kecerdasan responsif, tapi penuh kasih dan sopan.
- Bung Hatta, seorang teknokrat, namun penuh etika dan hormat kepada rakyat.
- RA Kartini, menulis dengan pantas, tapi tak pernah meninggalkan kelembutan tutur.
Dunia Butuh Lebih Banyak Orang yang Patut
Hari ini, dunia tidak kekurangan orang cepat. Tapi kita kekurangan orang yang tahu kapan harus berhenti, bagaimana harus berkata, dan mengapa harus menolak terburu-buru.
Mari kita bangkitkan kembali nilai “patut” — dalam cara kita memimpin, mengajar, melayani, dan mencintai. Biarlah ia menjadi pelita kecil yang menyinari langkah kita, walau dunia terus berlari.
Terbang merpati di atas batas,
Singgah di ranting lalu terhenti.
Jangan kejar hanya yang pantas,
Bila yang patut hilang dari hati.
- Salamsalaman
- BHP, 21 September 2025
- TD










Adek melukis diatas kanvas,
Lukisanya indah begitu apik
Dahulukan patut daripada pantas,
Sehingga semua berjalan baik.