Diam Emas

Terbaru, YPTD47 Dilihat

Diam Emas

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat melakukan uji mendadak layanan Kring Pajak dengan berpura-pura sebagai wajib pajak biasa.–DJP

 

Anda pasti sangat menunggu: apa komentar Bank Indonesia atas metraliur yang diberondongkan menkeu baru, Purbaya Yudhi Sadewa.

Bank sentral Indonesia itu seperti tersudut dan teraniaya. Tiap hari. Sejak beberapa hari terakhir. Yakni sejak Purbaya dilantik sebagai menteri keuangan yang baru.

Saya justru waswas: jangan-jangan Bank Indonesia buru-buru memberi respons. Lalu membela diri. Bahkan balas menyerang menkeu yang baru.

Apa lagi suara riuh di medsos memberi dukungan yang luas kepada Purbaya. Bank Indonesia kian tersudut di mana-mana.

Saran saya: tetaplah Bank Indonesia seperti sekarang ini. Tidak perlu memberi komentar. Saya justru amat senang dengan sikap diam Bank Indonesia. Terpujilah para pejabat tinggi di bank sentral.

Apa yang terjadi bila Bank Indonesia berkomentar?

Berisik. Gaduh.

Itu memang mengasyikkan bagi pembaca media tapi menjerumuskan stabilitas dan perekonomian.

Saya pun tidak ingin ”mengejar” pejabat tinggi Bank Indonesia sekadar untuk memperoleh komentar atas komentar yang ada di media.

Saya menilai para pejabat tinggi Bank Indonesia sangat bijak. Diam, untuk saat ini, adalah emas.

Tentu saya bisa merasakan gejolak kencang di pedalaman jiwa para pejabat tinggi Bank Indonesia. Hati mereka pasti mendidih –seperti hati saya kapan itu. Maka saya tidak ingin menjadi kompor yang bisa mengakibatkan suhu didih yang sudah 100 derajat itu meledakkan tutup pancinya.

Disway hari ini saya tulis pendek: khusus untuk memuji sikap diam Bank Indonesia.(Dahlan Iskan)

 

Komentar Thamrin Dahlan 

Thamrin Dahlan YPTD

Diam Emas.

Sikap terdiam lebih emas malah setara berlian. Tentu tujuan Diam itu memiliki makna kearifan lokal. Demi kemaslahatan umat lebih baik berdiam diri untuk sementara. Sembari menunggu perkembangan.

Bisa jadi BI sedang pendinginan bersebab ada sedikit (/) masalah CSR dengan Oknum Anggota DPRRI.

Masalah keuangan memang sensi. Mengurusi uang negara sebagai pemenuihan hajad orang banyak harus dikelola dengan hati dingin.

Memang sih bukan duit sendiri namun dibalik itu ada tanggung jawab dunia akherat. Godaan memegang uang apalagi dalam jumlah diatas Milyard to Triliyun perlu Iman kuat. Godaan itu bukan saja dari syetam dirajam namun terkadang dari keluarga, kerabat dan lain lain.

Dalam kapasitas penulis di kompasiana.com kami beberapa kali mendapat undangan Bank Indonesia.

  1. Pernah diundang mengunjugi Museum Uang di Kota Tua Jakarta.
  2. Diundang pula ke Gedung BI nan megah termasuk Masjidnya di kawasan Jalan Thamrin No 2 Jakarta dalam acara berkaitan Literasi.
  3. Pernah pula ke Kantor BI untuk menukarkan uang lama yang termakan rayap.

Kesan BI pelayanan bagus.

Bukan karena Gaji Karyawan lebih melebihi penghasilan rakyat namum mereka memang orang terpilih melalui seleksi ketat.. Diam itu Emas.

Abah kita juga sementara DIAm sambil mengikuti perkembangan Kementerian BUMN yang akan di likuidasi ke Danantara. Diam kah Abah. Tidak..

Oh ya Peruri itu dibawah kewenangan BI kah. Bertanya ke Pak Mario dan sobat kompasianer Taufik Hidayat. Salamsalaman

  • Salam Emas,
  • 21 09 25
  • TD

Tinggalkan Balasan