Pekerjaan Peradaban
Thamrin Dahlan
Empat hal telah ditakdirkan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, ketika ruh ditiupkan ke dalam janin saat berusia 120 hari dalam kandungan: jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut.

Kita semua meyakini keempat hal ini sebagai bentuk iman. Apa pun yang terjadi terkait jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut, kita terima sebagai bagian dari takdir dalam kehidupan sehari-hari.
Kali ini, saya tidak hendak membahas soal jodoh, rezeki, apalagi maut. Fokus tulisan ini adalah pada takdir pertemuan—sebuah tema yang jarang dibahas, padahal sangat penting.
Pertemuan dengan siapa pun sejatinya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Dan bukan hanya diatur, tetapi setiap pertemuan selalu menyimpan hikmah dan pelajaran tersembunyi yang patut kita renungkan.
Pertemuan bisa terjadi dengan orang yang sudah dikenal atau justru dengan orang baru. Orang baru dalam hal ini bisa berarti baru berkenalan, atau teman lama yang tak sengaja ditemui kembali.
Takdir di Halaman Bank
Senin, 2 November 2020, saya keluar rumah menuju Bank Rakyat Indonesia di kawasan Pasar Induk Jakarta Timur. Ini adalah kegiatan rutin untuk mengambil uang pensiun. Sesuai regulasi pemerintah, pencairan dana pensiun tidak bisa diwakilkan. Tujuannya jelas: untuk memastikan bahwa penerima pensiun masih hidup dan berhak menerima haknya.
Peraturan ini, meskipun terlihat “cerdik nyaris licik”, punya logika tersendiri.
Sesampainya di halaman parkir BRI, suasana sangat ramai. Menurut sahabat saya, Satpam Pak Rusli, ada tiga penyebab keramaian itu. Pertama, karena libur panjang di pekan sebelumnya. Kedua, karena hari Senin di awal bulan biasanya dipenuhi para pensiunan. Dan ketiga, banyak pedagang kecil yang sedang mengantri untuk menerima bantuan modal dari pemerintah akibat dampak pandemi COVID-19.
Saya ikut tertib mengantri. Sambil menunggu di luar, saya duduk bersama beberapa pengunjung lain. Seperti biasa, obrolan ringan dimulai. Tapi kali ini, perhatian saya tersita bukan pada ponsel, melainkan pada percakapan dengan seorang pria bernama Pak Andi, seorang guru sekaligus penulis.
Pertemuan yang Tertulis di Lauh Mahfuz
Saya percaya pertemuan ini bukan kebetulan. Sudah tertulis di Lauh Mahfuz, kitab takdir Allah. Perbincangan kami mengalir lancar karena ada kesamaan minat: dunia tulis-menulis dan pendidikan.
Pak Andi rupanya sedang mengantar istrinya membuka rekening. Di tengah panjangnya antrian dan waktu tunggu, saya justru merasa beruntung—karena mendapat satu ilmu penting dari sosok guru muda berusia 35 tahun, yang juga pernah menjadi wartawan Majalah Tempo dan telah menulis 13 buku.
Pak Andi menyampaikan satu pemikiran yang membuat saya tertegun:
Hanya ada dua pekerjaan peradaban: Guru dan Penulis.
Ungkapan itu membuat saya mengangguk dalam-dalam. Jujur saja, selama ini saya belum pernah mendengar istilah itu secara eksplisit. Tapi begitu mendengarnya, saya langsung memahami dan menyetujuinya sepenuh hati.
Guru dan Penulis: Dua Pilar Peradaban
Guru adalah mereka yang mendidik, membentuk karakter, menyemai nilai. Ilmu dari guru akan terus membekas, bahkan ketika sang guru sudah tiada. Murid-murid akan tumbuh menjadi guru berikutnya, menciptakan siklus ilmu yang tak pernah putus. Itulah kenapa profesi guru disebut pekerjaan peradaban—ia membentuk fondasi bangsa.
Penulis, di sisi lain, adalah mereka yang mengabadikan ilmu. Namun bukan sembarang penulis, melainkan penulis yang telah memiliki mahkota: buku.
Buku adalah bentuk keabadian. Usianya bisa jauh melampaui usia penulisnya. Buku mewakili pemikiran, ide, dan warisan intelektual seseorang kepada generasi yang bahkan belum lahir. Lihatlah karya Imam Syafi’i, Buya Hamka, dan para ulama serta cendekiawan lainnya. Walau telah wafat, karya mereka masih terus dibaca, dikaji, dan memberi cahaya.
Refleksi dari Takdir Pertemuan
Terima kasih kepada takdir pertemuan hari itu. Dari obrolan sederhana di halaman bank, saya menyadari kembali bahwa ilmu tak pernah mengenal usia. Bahwa siapa pun bisa menjadi guru, siapa pun bisa menjadi penulis, jika ia bersedia belajar dan berbagi.
Saya pun teringat pepatah Melayu:
Banyak berjalan banyak dilihat, banyak dilihat banyak ditulis, banyak ditulis jadilah buku.
Akhirnya, saya semakin yakin:
Pekerjaan Peradaban adalah Guru dan Penulis.
Karena semua orang adalah guru ketika ia menyampaikan nasihat dengan kasih sayang.
Dan semua orang adalah penulis ketika ia mengabadikan kebaikan, meski hanya dalam bentuk sebuah tanda tangan.
- Salam Literasi
- BHP, 021120
- Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan










