
Semangat Literasi di Usia Senja
Bagi penulis sepuh seperti saya, menjaga semangat hidup adalah bagian penting dari rasa syukur. Di usia 73 tahun, karunia kesehatan yang masih terjaga sungguh patut disyukuri. Salah satu wujud syukur itu adalah dengan terus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat, sekecil apa pun kontribusinya.
Sejak memasuki masa pensiun pada tahun 2010, saya menekuni dunia literasi. Alhamdulillah, selama 15 tahun terakhir ini, kegiatan menulis menjadi sumber kebahagiaan batin. Kepuasan itu terasa setiap kali sebuah buku lahir, dan semakin lengkap dengan jalinan silaturahmi di antara sesama penulis.
Hari Jumat, 3 Oktober 2025, saya bersepakat dengan Bapak Agus Suryono dan Syed Taufik Hidayat untuk bertemu di Gedung Telkom, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Saya tiba pukul 10.00 WIB Lebih awal, mengikuti rumus J-1:
“lebih cepat sampai, lebih tenang di hati.”

Mas Agus, seorang senior di lingkungan Telkom, menjemput kami di lobi. Protokol keamanan di gedung itu memang ketat. Kami pun diberi kartu tamu, lalu naik ke lantai 20. Beberapa karyawan yang berpapasan memberi hormat kepada Mas Agus. Sosok Pimpinan yang jelas dihormati di lingkungan kerjanya.
Pertemuan kami fokus membahas realisasi buku “Perusuh Dahlan Iskan”—sebuah antologi karya 40 penulis yang tergabung dalam komunitas komentator portal disway.id. Ide penerbitan buku ini mengemuka saat Gathering Perusuh Disway #4 di Bandung, Agustus 2025 lalu.
Kini, naskah telah rampung dan tengah diajukan untuk memperoleh International Standard Book Number (ISBN) dari Perpustakaan Nasional. Mas Agus, yang dikenal sebagai komentator favorit, berkenan menandatangani Surat Pernyataan Keaslian Karya. Sebuah syarat mutlak dalam proses administrasi penerbitan.

Selesai urusan naskah, kami berbincang ringan menunggu waktu shalat Jumat. Obrolan melebar pada kehidupan para penulis lansia. Mas Agus, yang kini berusia 72 tahun, masih aktif dibutuhkan oleh Telkom dan Telkomsel. Perjalanan hidupnya luar biasa: dari masa sekolah yang dijalani sambil menjadi pembantu rumah tangga, hingga menulis di majalah anak demi menyambung hidup—sebuah kisah inspiratif tentang kerja keras dan ketekunan.
Sementara itu, Syed Taufik Hidayat berkisah tentang perjalanannya sebagai teknisi pesawat terbang lintas negara. Kisah-kisah pengembaraan itu telah dituangkan dalam 14 buku, diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).
Salat Jumat di Masjid Telkom begitu khusyuk dan makmur. Jamaah memadati ruangan, terdiri dari karyawan dan mitra kerja. Khatib menyampaikan kisah agung dari zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. Tentang perselisihan di pengadilan terkait kepemilikan pusaka, dan bagaimana seorang hakim dengan adil memutuskan bahwa benda itu milik seorang Yahudi. Namun, kejujuran dan keadilan Islam justru menyentuh hati si Yahudi hingga ia mengucapkan syahadat.

Subhanallah, pelajaran adab dan keadilan dalam Islam begitu menyentuh. Usai salat, kami lanjut berdiskusi soal tahapan penerbitan buku dan rencana bedah buku yang akan digelar pada Gathering Perusuh di Pacet, awal Desember mendatang. InshaAllah.
Mas Agus mengajak makan siang di kantin Telkom. Pilihan makanannya: masakan Padang. Syed Taufik memilih lontong sayur dan rendang, Mas Agus mencicipi sate Padang, sementara saya menikmati soto Padang yang segar. Ditambah minuman dingin, rasanya luar biasa. Terima kasih, Mas Agus.
Usai makan, kami kembali ke Gedung TSO. YPTD memberikan hadiah buku “Diamond Anniversary Wedding Bapak Tjiptadinata Ependi dan Ibu Roselina” untuk Mas Agus. Ternyata, kisah mereka juga terkait pengobatan Reiki yang pernah dibahas di Surabaya. Begitulah, literasi memang sering membuka pintu-pintu kenangan yang dalam.

Tanpa terasa, hampir lima jam kami berada di Gedung Telkom. Sebelum pulang, kami menunaikan salat Asar. Masjid tetap ramai, tak kalah dari salat Jumat sebelumnya. Menyaksikan banyaknya anak muda yang istiqamah beribadah menumbuhkan harapan: syiar Islam masih kuat di tengah profesionalisme kerja.

Kabar gembira lainnya, dua tokoh perempuan inspiratif—Dr. Nani Kusmiyati dan Ibu Sri Sugiastuti—resmi bergabung dalam komunitas Perusuh. Mereka turut menulis dalam buku tentang Bapak Dahlan Iskan, sekaligus menjadi editor dan penata layout naskah. Terima kasih atas dedikasi luar biasa.

Demikianlah catatan ringan dari seorang lansia pecinta literasi. Semoga setiap doa, langkah, dan niat baik di hari Jumat ini mendapat keberkahan dari Allah SWT. Salam dan shalawat untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
- Salam Literasi
- BHP, 6 Oktober 2025
- TD










