Sepenggal Sejarah, Seutas Harapan
Di balik sunyi kampung kecil bernama Tempino, terukir jejak sejarah yang tak boleh lekang dimakan zaman. Pada tahun 1949, serdadu Belanda sempat singgah di tanah ini. Sebuah peristiwa yang kini tak sekadar menjadi cerita tua, melainkan telah menjelma menjadi monumen sejarah—
Berani Bermimpi: Malaikat pun Mencatat
Anak-anak Indonesia, seperti anak-anak di mana pun di dunia, tidak pernah kehabisan cita-cita. Coba tanyakan pada mereka, “Apa cita-citamu, Nak?” Jawabannya masih sama seperti dahulu: menjadi pilot, dokter, atau insinyur. Begitulah dari masa ke masa. Bahkan saya sendiri, ketika kecil di Tempino, ikut terbawa arus mimpi-mimpi besar itu.
Namun, jarang—atau hampir tak ada—yang bercita-cita menjadi penulis.…
Mimpi yang Tak Selesai: Untuk Negeri, Keluarga, dan Masa Depan
Di usia senja, izinkan saya menulis kembali daftar mimpi yang belum tuntas. Barangkali Malaikat masih sudi mencatatnya, dan Tuhan masih mengizinkan satu dua harap itu menjadi kenyataan.
1. Mimpi untuk Indonesia
Saya bermimpi negeri ini makmur dan sentosa. Dipimpin oleh mereka yang amanah dan jujur, bukan oleh yang menjadikan kuasa sebagai alat menindas. Semoga bangsa ini terus berdiri tegak selama seribu tahun ke depan, selama Pancasila tetap dijaga.
Negeri elok banyak pujian,
Tapi tetap butuh kepedulian.
Jika pemimpin berhati nurani,
Rakyat pun hidup tanpa jerat kesedihan.”
2. Mimpi untuk Jakarta
Sebagai warga Jakarta, mimpi saya sederhana. Bisakah kota ini bebas macet dan banjir sebelum berganti gubernur? Bukan janji muluk yang saya pinta, cukup realisasi nyata agar warga bisa menghela napas lega.
> “Kota besar penuh keramaian,
Tapi jalan macet jadi beban.
Jika sungai dibersih tanpa tekanan,
InsyaAllah banjir akan terselesaikan.”
3. Mimpi untuk Keluarga
Saya bermimpi keluarga kami menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Saya bermimpi anak-anak saya menyelesaikan pendidikannya, mendapat pekerjaan terbaik, lalu menikah dalam kesaksian kami sebagai orang tua.
> “Ayah bunda menabur kasih,
Anak tumbuh dalam bimbingan.
Doa dipanjat saban hari,
Agar semua selamat dalam perjalanan.”
4. Mimpi untuk Masjid Jami Annur
Masjid kami, Jami Annur, tempat ladang pahala kami, saya harap menjadi pusat kemakmuran ruhani. Semoga shalat berjamaah seramai shalat Jumat setiap harinya. Anak-anak yatim mendapat tempat yang mulia dan santunan yang rutin. Tim hadrah remaja bisa menjuarai lomba rebana nasional. Amin.
> “Masjid bersinar di malam syahdu,
Anak yatim tak lagi pilu.
Rebana ditabuh penuh semangat,
Suara zikir menggema kuat.”
5. Mimpi untuk Tulisan dan Buku
Satu lagi mimpi pribadi saya: diberi keleluasaan untuk terus menulis. Hingga setiap tulisan bisa dijilid menjadi kitab. Sudah delapan buku terbit, namun harapan saya sederhana—semoga suatu hari nanti, buku-buku itu tersusun rapi dalam katalog Perpustakaan Nasional dan Internasional. Karena sejatinya, buku adalah saksi kehidupan seorang anak manusia.
> “Pena menari di atas kertas,
Setiap kata adalah warisan.
Bila tak lagi mampu bersuara lantang,
Biarlah buku yang terus bercerita panjang.”




