Menyaksikan Lautan Putih Biru di HUT Ling Tien Kung
Pengalaman Pertama Seorang Penulis di Tengah Ribuan Pecinta LTK
Minggu, 25 Oktober 2026
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, rasa syukur tak terhingga saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, saya berkesempatan menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ling Tien Kung (LTK) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Kehadiran kali ini bukan semata-mata sebagai peserta terapi, melainkan juga dalam kapasitas sebagai seorang penulis yang ingin menyaksikan langsung fenomena berkumpulnya ribuan pencinta terapi LTK dari berbagai daerah.
Sebagai anggota baru Terapi LTK Sasana Dukuh Permai, tentu ada rasa penasaran yang besar. Seperti apa rasanya berada di tengah ribuan orang yang memiliki semangat sama untuk menjaga kesehatan? Benarkah warna putih biru akan mendominasi kawasan TMII? Pertanyaan itu akhirnya terjawab melalui pengalaman yang sungguh berkesan.
Berangkat dengan Semangat Sehat
Pagi hari saya awali dengan mengenakan seragam komunitas sehat walafiat. Bersama teman-teman, kami berjalan kaki mengelilingi Waduk Dukuh, kemudian menikmati sarapan di Kedai Uni Eka, Pujasera Bumi Harapan Permai (BHP).
Setelah itu, sebuah taksi langganan siap mengantar saya menuju TMII. Perjalanan terasa semakin menyenangkan karena hari itu saya membawa bekal semangat dan rasa ingin tahu yang besar. Apalagi, tiket masuk yang saya gunakan merupakan hadiah dari Pak Suwardi, instruktur senior LTK di Sasana Dukuh Permai. Terima kasih, Pak Suwardi! Sebuah tiket ternyata bisa menjadi jalan menuju pengalaman yang tak terlupakan.
Setibanya di pintu gerbang TMII, saya melihat puluhan bus berjajar dan rombongan peserta mengantre untuk masuk. Pemandangan tersebut memberi kesan bahwa acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah perhelatan besar yang mempertemukan para pencinta kesehatan dari berbagai penjuru negeri.
Dari pintu masuk, peserta dapat memanfaatkan shuttle car menuju area kegiatan, termasuk kawasan Anjungan Anak. Saya pun bergabung dalam kendaraan bersama beberapa sahabat LTK. Suasana langsung meriah oleh celotehan emak-emak yang penuh keceriaan. Ada saja bahan obrolan yang mengundang tawa. Perjalanan singkat itu terasa seperti reuni keluarga besar yang sudah lama tidak berjumpa.
Lautan Putih Biru Memenuhi TMII
Sesampainya di lokasi, upacara dan kegiatan terapi LTK ternyata telah selesai dilaksanakan. Namun, suasana masih sangat ramai. Sejauh mata memandang, warna putih biru tampak mendominasi kawasan TMII. Rasanya, hari itu TMII sedang mengadakan lomba siapa yang paling kompak mengenakan seragam putih biru!
Saya berjalan mendekati panggung sambil menyapa teman-teman yang sedang beristirahat dan berkumpul bersama anggota sasana masing-masing. Ada yang duduk melepas lelah, bercengkerama, berfoto, dan berbagi cerita. Wajah-wajah ceria terpancar dari para peserta.
Sebagai penulis, saya tidak ingin melewatkan momen tersebut. Saya terus menyapa peserta sambil merekam video. Saya ingin mengabadikan suasana sekaligus menyimpan catatan visual tentang sebuah komunitas yang dipertemukan oleh semangat hidup sehat.
Kehadiran peserta dari berbagai provinsi memberikan gambaran betapa luasnya jangkauan komunitas Ling Tien Kung. Ribuan orang berkumpul dalam satu suasana kebersamaan. Bagi saya, pemandangan ini merupakan fenomena sosial yang menarik untuk diamati dan dituliskan. Olahraga dan terapi tidak hanya menjadi kegiatan menjaga kebugaran, tetapi juga membuka ruang pertemanan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan semangat kebersamaan.
Berjumpa dengan Bu Wati dalam Balutan Busana Papua
Di tengah keramaian, tiba-tiba seorang ibu mengenakan busana tarian tradisional Papua menyapa saya. Ternyata beliau adalah Bu Wati, istri dr. Budi Rahardjo, yang juga dikenal dalam lingkungan komunitas LTK.
Pertemuan itu menjadi kejutan menyenangkan. Di tengah ribuan peserta berseragam putih biru, kehadiran penari dengan busana khas Papua tampil berbeda dan menarik perhatian. Saya mendapat informasi bahwa Bu Wati akan tampil mempersembahkan tarian tradisional.
Momen tersebut mengingatkan saya bahwa perayaan komunitas tidak hanya menghadirkan kegiatan terapi, tetapi juga dapat menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara. Kesehatan dan kebudayaan bisa berjalan beriringan, menciptakan suasana yang meriah sekaligus memperkaya pengalaman peserta.
Saya juga mencoba menghubungi Pak Suwardi untuk mengetahui keberadaan rombongan Sasana Dukuh Permai. Ternyata rombongan Sasana Pasar Rebo sedang dalam perjalanan pulang dari Anjungan Yogyakarta. Saya pun melanjutkan menikmati suasana sambil menyapa beberapa peserta yang masih berdatangan, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan wisata.
Sementara itu, sejumlah rombongan mulai bergerak menikmati berbagai kawasan wisata di TMII. Ada yang melanjutkan perjalanan bersama teman satu sasana, ada pula yang memilih bersantai setelah mengikuti kegiatan. Semua tampak menikmati kebersamaan dengan cara masing-masing.
Pulang Membawa Kenangan
Waktu terus berjalan. Setelah puas menyaksikan keramaian dan mengabadikan beberapa momen, saya bersiap pulang bersama sahabat LTK. Kami mengantre shuttle car sambil berjalan menuju kawasan Tugu Emas.
Karena masih ada kegiatan keluarga yang harus dihadiri, saya memutuskan bergegas menuju rumah. Meski kunjungan kali ini tidak berlangsung lama, pengalaman yang saya peroleh terasa sangat berarti.
Saya bersyukur dapat menyaksikan langsung ribuan pencinta LTK berkumpul dalam satu kegiatan besar. Bagi seorang penulis, pengalaman seperti ini merupakan bahan cerita yang berharga. Ada kebersamaan, persahabatan, kegembiraan, semangat hidup sehat, dan keberagaman budaya yang semuanya layak diabadikan dalam tulisan.
Saya juga teringat kepada Pak Suwardi, instruktur senior yang telah memperkenalkan terapi LTK di komunitas Paguyuban Pensiunan Kesehatan Polri pada bulan lalu. Dari para instruktur dan sesama peserta, saya belajar bahwa semangat menjaga kesehatan dapat tumbuh melalui kebersamaan dan kegiatan yang dilakukan secara konsisten.
Semoga pada tahun 2027, ketika Sasana Dukuh Permai genap berusia satu tahun, kami dapat kembali hadir dalam perayaan HUT LTK dan turut mengikuti musyawarah LTK. Mudah-mudahan Sasana Dukuh Permai semakin berkembang, semakin banyak anggotanya, dan semakin bersemangat mengajak masyarakat menjalani hidup sehat.
Bagi saya, menghadiri HUT LTK kali ini bukan sekadar melihat lautan putih biru. Ini adalah pengalaman menyaksikan sebuah keluarga besar yang dipersatukan oleh semangat kebugaran, persaudaraan, dan kebahagiaan.
Terima kasih kepada Pak Suwardi atas tiket yang diberikan. Terima kasih pula kepada seluruh sahabat LTK yang telah menghadirkan suasana penuh kehangatan.
Salam Making People Healthy!
Salam Literasi.
TD
Minggu, 25 Oktober 2026









