Dua Rezeki Pasti

Al Qur'an, Terbaru, YPTD158 Dilihat

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. 

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tulisan ini terinspirasi Rabu, 5 November 2025 di kedai Soto Ayam  Ceker Cak Kumis Dukuh 3 Jalan H. Bokir bin Dji’un Jakarta Timur.    Tanpa direncanakan sebelumnya kami ber lima menikmati makan siang bersama. Setelah shalat Dzuhur di Masjid Al Barkah Kelurahan Dukuh  Kramatjati. Bisa jadi inilah yang dinamakan rezeki tak terduga.

Bersegera awak mencari referensi terkait rezeki dari beberapa sumber. Rezeki yang pasti ternyata adalah apa yang sedang dimakan minum dan pakaian yang tengah dikenakan.  Sedanglah harta benda milik manusia lainnya baik uang di Bank atau berupa barang lain belum tentu menjadi kepunyaan manusia.

Dua Rezeki Pasti

Hakekat dari rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita.

Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat.

(HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya).

Ada nasihat bijak turun-temurun yang sering diulang para ulama dan orang saleh:

Rezeki yang pasti hanyalah makanan yang sedang dinikmati dan pakaian yang sedang dikenakan. 

Ungkapan sederhana ini mengandung pelajaran mendalam tentang hakikat kecukupan dan rasa syukur. Di tengah dunia yang serba cepat dan haus pencapaian, nasihat ini menuntun kita kembali pada kesadaran bahwa kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada keberkahan yang benar-benar kita rasakan.

Makanan yang dinikmati adalah rezeki hakiki. Ia sudah sampai di tangan dan menjadi bagian dari tubuh kita. Ketika sesuap nasi telah melewati tenggorokan, saat itulah rezeki itu sah menjadi milik kita. Semua yang masih dalam angan—rencana makan besok, investasi di masa depan—belum tentu menjadi bagian dari hidup. Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya
(QS. Hud [11]: 6)

Pakaian yang sedang dipakai juga merupakan rezeki nyata. Ia melindungi tubuh dari panas dan dingin, menutup aurat, sekaligus menambah rasa percaya diri. Selama ia melekat di badan, di situlah letak manfaatnya. Di luar itu, semua pakaian yang masih tergantung di lemari belum tentu sempat kita kenakan. Seperti rezeki, pakaian pun menjadi simbol kesederhanaan dan rasa cukup.

Sementara itu, harta, rumah, tabungan, dan segala kepemilikan duniawi lainnya hanyalah titipan. Hari ini mungkin terasa milik kita, namun besok bisa saja berpindah tangan. Semua itu tidak pasti. Ketika ajal tiba, tak satu pun akan dibawa kecuali amal. Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
(QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Nasihat ini mengajarkan agar hati kita tidak terikat pada apa yang belum tentu menjadi milik. Hidup bukan sekadar mengejar banyaknya rezeki, tapi mensyukuri apa yang telah sampai. Dengan bersyukur, hati menjadi lapang dan tenang.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka mari kita jadikan kesadaran ini sebagai pedoman hidup. Makanlah dengan rasa syukur, pakailah pakaian dengan rasa hormat, dan sedekahkanlah sebagian rezeki untuk menebar manfaat. Karena pada akhirnya, yang kita makan akan habis, yang kita pakai akan lusuh, dan yang kita sedekahkan akan abadi.

Makan sepiring bersama teman,
Air putih jadi penawarnya.
Rezeki sedikit tapi menenangkan,
Lebih mulia dari harta yang menyiksa jiwa.

Dikutip dari bberapa sumber terutama Tulisan Iyan Syahrial Syam Guci.

Wallahu a’lam bish-shawab

Hanya Allah SWT  paling mengetahui kebenaran”

Semoga bermanfaat

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad

  • Kamis, 14 Jumadil Awal 1447 Hijriah
  • BHP, 6 November 2025
  • TD

 

Tinggalkan Balasan