Nak, dengarkan Papa sebentar…
“Kamu boleh tidak suka pada Papa. Boleh marah. Boleh kecewa. Papa banyak salah. Papa sering absen. Papa terlalu sibuk mengejar hal-hal yang kadang membuat Papa lupa pulang tepat waktu. Papa keras, dan tidak selalu berhasil menjadi rumah yang nyaman untuk kamu.”
Ia menatap saya lama, seolah tidak yakin perlu menjawab atau tidak.
Saya lanjutkan, lebih lembut namun menancap,
“Tapi ada satu hal, Nak… satu yang tidak boleh bergeser walau seujung rambut.”
Saya menarik napas.
“Jangan pernah, sedikit pun, kamu membenci ibumu.”
Ia terdiam. Ada keraguan, ada bingung— mungkin tidak menyangka kata-kata itu justru datang dari saya. Saya tatap matanya, perlahan tapi dalam.
“Ibumu… bukan hanya membesarkan kamu. Ia mengorbankan dirinya. Ia membayar masa mudanya dengan malam-malam tanpa tidur. Dengan tubuh yang lelah, dengan mimpi-mimpinya yang ia lipat rapi lalu ia simpan jauh di sudut lemari agar tidak mengganggu langkahmu tumbuh.”
Saya sempat terhenti, kenangan masa lalu menyeruak pelan.
“Tahu tidak, Nak…”
“Tengah malam, ketika Papa pulang, baru saja pintu berderit… ibumu langsung bangun. Bukan marah. Bukan mengeluh. Dia cari handuk buat Papa mandi. Padahal, mungkin baru lima menit ia memejamkan mata setelah menidurkan kamu yang rewel.”
Saya menunduk, menahan gelombang rasa yang kembali muncul.
“Dan saat bertanya, ‘Papa sudah makan?’
—itu bukan basa-basi.
Bila Papa bilang belum…
walau jarum jam hampir menembus pagi, ia tetap ke dapur. Memanaskan air. Menanak nasi. Menunggu Papa makan. Bukan sehari. Bukan sebulan. Tapi bertahun-tahun.”

Putra saya mulai diam dengan cara yang lain—cara seseorang yang mulai mengerti.
Lalu saya berbisik,
“Kamu tahu apa yang paling membuat dada Papa sesak?”
Ia menelan ludah.
“Apa, Pa…?”
“Papa membesarkan kamu karena kamu adalah amanah—tanggung jawab yang harus Papa penuhi sebagai ayah. Tapi ibumu… dia membesarkan kamu semata-mata karena cinta. Dan cinta seorang ibu, Nak… itu mahal sekali harganya. Tak ada timbangan yang cukup luas untuk menampungnya.”
Saya menarik napas pelan.
“Ketika kamu besar nanti… lihatlah tangan ibumu. Dulu lembut. Sekarang mulai berkerut. Itu bukan tanda usia. Itu jejak kerja yang tidak pernah kamu saksikan. Jejak malam-malam ketika kamu demam. Ketika kamu menangis. Ketika Papa tidak selalu ada.”
Suara saya mulai goyah.
“Ketika kamu tumbuh kuat, ibumu perlahan kehilangan bagian dari dirinya. Bukan karena ia lemah, Nak… tapi karena ia memilih kamu di atas dirinya sendiri.”
Ia menunduk, bahunya turun, napasnya pelan.
“Jadi, Nak…”
Saya letakkan tangan di bahunya.
“Kalau suatu hari kamu kecewa pada Papa, marahlah. Papa ini laki-laki biasa—penuh salah, penuh ego, penuh kekurangan.”
Lalu saya angkat wajahnya agar kembali menatap saya.
“Tapi jangan pernah, walau sebesar debu, kamu membenci ibumu. Karena untuk kamu, ia telah rela mengorbankan hidupnya… tanpa pernah membuatmu merasa berutang satu apa pun.”
Ia mengangguk, pelan, hampir tak terdengar. Matanya basah. Saya usap rambutnya pelan.
“Rezekimu, Nak… sering datang lewat pintu yang dibuka oleh doa seorang ibu. Muliakan dia. Selama napasmu masih ada.”
Dikutip dari ungkapan hati seorang Ayah
- Salamsalaman
- Ahad 3 Jumadil Akhir 1447 Hijriah









