Lorong Waktu dan AI: Antara Teknologi, Imajinasi, dan Kebenaran Hakiki
Perkembangan teknologi informasi semakin menakjubkan. Kini manusia dapat membuat simulasi perjalanan “melintasi masa”, menyaksikan adegan sejarah, bahkan berdialog secara imajinatif dengan tokoh-tokoh zaman dulu menggunakan Artificial Intelligence (AI). Baru-baru ini, saya menerima kiriman karya AI yang menggambarkan “perjumpaan” dengan Nabi Musa AS lengkap dengan simulasi peristiwa terbelahnya Laut Merah.
Karya semacam ini tentu kreatif dan menarik. Namun sebagai umat beriman, kita perlu memahami batas antara teknologi, imajinasi, dan kebenaran hakiki. Artikel ini menjelaskan bahwa AI bukan alat penembus waktu, melainkan sekadar teknologi rekayasa digital. Sementara hak atas waktu, mukjizat, dan perkara gaib sepenuhnya milik Allah SWT.
1. Mengapa AI Terlihat Seperti Bisa Melintasi Waktu?
AI generatif dapat membuat gambar, video, dialog, bahkan film pendek tentang masa lalu. Teknologi pendukungnya antara lain:
a. Rekonstruksi Digital AI
AI mengolah ribuan data sejarah, manuskrip, dan gambar untuk membuat ulang gambaran masa lampau. Hasilnya memang tampak nyata, tetapi tetap rekayasa digital.
b. Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR)
Melalui perangkat VR, pengguna dapat “masuk” ke Mesir kuno, melihat piramida, atau menyaksikan simulasi terbelahnya Laut Merah. Pengalaman terasa nyata, tetapi sejatinya hanya ilusi 3D.
c. Deepfake dan Voice Cloning
AI dapat meniru wajah dan suara sehingga seolah-olah seseorang berbicara dengan tokoh masa lalu. Namun ini tetap fiksi hasil komputasi, bukan perjumpaan sungguhan.
d. Large Language Models (LLM)
Model bahasa seperti ChatGPT mampu membuat dialog imajiner dan narasi historis yang rapi, halus, dan menyentuh.
Semua kecanggihan ini menciptakan efek dramatis, seolah-olah manusia benar-benar kembali ke masa lampau—padahal tidak.

2. Teknologi Tidak Bisa Masuk ke Masa Lalu
Secanggih-canggihnya teknologi, ada dua batas yang tidak mungkin dilanggar:
a. Batas Ilmu Pengetahuan Modern
Sampai hari ini:
tidak ada teknologi yang mampu memundurkan waktu,
tidak ada mesin yang bisa membawa manusia kembali ke masa lalu secara fisik,
perjalanan waktu ke masa lampau masih mustahil menurut hukum fisika.
AI hanya menciptakan rekonstruksi, bukan realitas.
Jalan setapak menuju telaga,
Air jernih memantul cahaya terang.
AI canggih takkan berkuasa,
Ilmu Allah jauh lebih gemilang.
b. Batas Ketetapan Ilahi
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah-lah pemilik mutlak urusan gaib, waktu, dan seluruh dimensi ciptaan.
“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia.”
(QS. Al-An’am: 59)
AI tidak memiliki akses kepada yang gaib. Ia hanya memproses data.
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isrā’: 85)
Setinggi-tingginya teknologi buatan manusia, tetap terbatas.
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
3. Mukjizat Tidak Bisa Direkayasa Teknologi
Peristiwa terbelahnya Laut Merah adalah mukjizat Rabbani melalui Nabi Musa AS. Mukjizat tidak tunduk pada hukum alam biasa.
“Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi Kami ketika Kami mengirimkan tanda-tanda…”
(QS. Al-Isrā’: 59)
Simulasi AI mungkin indah, tetapi hanya visualisasi, bukan pengulangan mukjizat.
Pohon gaharu tumbuh di rimba,
Harumnya semerbak sampai ke kota.
Teknologi maju kita terima,
Iman di dada tetap yang utama.
4. Nabi Tidak Boleh Digambarkan atau Didialogkan Secara Fiksi
Dalam etika Islam:
para Nabi tidak boleh divisualkan,
tidak boleh ditokohkan dalam film atau animasi,
tidak boleh dibuat dialog imajiner.
Karya AI yang menampilkan “pertemuan dengan Nabi Musa AS” wajib dipahami sebagai fiksi belaka, bukan pengalaman spiritual.
Adab dan akidah harus selalu diutamakan di atas kreativitas teknologi.
5. Lorong Waktu dalam Dua Dimensi: Imajinasi dan Spiritualitas
Lorong waktu dalam karya artistik adalah metafora, bukan fenomena ilmiah.
Namun dalam perjalanan rohaniah, memang ada riwayat para Sufi yang diberi izin Allah untuk mengalami penyingkapan (kasyaf). Itu:
bukan teknologi,
bukan kemampuan manusia,
bukan rekayasa AI,
melainkan karunia Ilahi kepada hamba pilihan.
6. Bijak Menghadapi AI: Teknologi Tetaplah Teknologi
AI adalah alat bantu:
mempercepat pekerjaan,
memperkaya kreativitas,
membuka wawasan.
Namun ia tidak boleh menipu, apalagi menggoyahkan aqidah.
Allah SWT menegaskan:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. As-Sajdah: 5)
Waktu sepenuhnya dalam genggaman Allah — tak ada mesin yang dapat memutarnya mundur.
—
7. Pantun Nasihat Literasi dan Iman
Ke pasar baru membeli sutra,
Sutra halus cantik warnanya.
AI hanyalah alat semata,
Tuhanlah Pemilik Segala Kuasa.
Semangat Literasi!
Mari manfaatkan teknologi sebagai alat,
bukan tempat menggantungkan keyakinan.
AI dapat membuat simulasi “lorong waktu”,
tetapi hakikat masa lalu hanya diketahui oleh Allah SWT.
Iman tetap menjadi kompas utama di tengah laju inovasi.
- 16 November 2025
- Thamrin Dahlan
Salam 3 Pena — Penasehat, Penakawan, Penasaran








