Menggunting Dalam Lipatan
Peribahasa: Menggunting Dalam Lipatan
Membuka Tirai.
Kita semua pernah melihat gunting itu. Tajam, berkilat, dan diam-diam bekerja di balik lipatan kain. Peribahasa tua Melayu berkata “Menggunting dalam lipatan” — bukan sekadar memotong, tapi mengkhianati. Ia tidak datang dari luar sebagai musuh, ia datang dari dalam sebagai keluarga, sebagai sahabat, sebagai orang yang kita beri kepercayaan menyimpan lipatan itu. Di sinilah letak perihnya, Saudara.
Mengurai Makna.
Secara harfiah, orang yang melipat kain lalu menggunting dari dalam, merusak tanpa terlihat dari luar. Secara batin, maknanya adalah perbuatan khianat oleh orang dekat sendiri. Mencelakai kawan seiring, merugikan keluarga sendiri, atau menusuk dari belakang demi kepentingan pribadi. Orang Melayu lama sangat takut pada laku ini, karena musuh di luar masih bisa kita hadapi, tapi musuh di dalam lipatan, ia tahu di mana urat nadi kita.
Si Jenaka yang Menertawakan Kita.
Coba kita tertawakan diri kita. Betapa sering kita di kantor, di organisasi, di warung kopi, memuji di depan, tapi menggunting di belakang. Kita tepuk bahu kawan, “Hebat kau!” — lalu di grup sebelah kita kirim gunting itu, “Jangan percaya dia.” Penakawan bilang: inilah komedi paling menyedihkan zaman ini. Kita pandai berlipat-lipat kata, tapi lupa, gunting itu akhirnya menggunting lipatan kita sendiri juga.
Si Pencari yang Tak Pernah Puas.
Saya penasaran, mengapa orang tega menggunting dalam lipatan? Apakah karena dengki? Karena merasa tidak dapat bagian? Atau karena sejak kecil tidak diajarkan arti setia kawan? Saya telusuri lorong-lorong hati manusia. Ternyata seringkali bukan karena benci yang besar, tapi karena iri yang kecil yang dipelihara. Dari iri setitik, jadi dengki segumpal, lalu lahirlah gunting itu. Ia tidak butuh alasan besar, cukup hati yang sempit.
Si Tua yang Memberi Nasihat.
Maka nasihat saya sederhana saja, wahai Anak Melayu, wahai Sahabat semua. Kalau tidak suka, bicara terus terang. Kalau tidak setuju, sampaikan di depan. Jangan jadikan lipatan sebagai tempat sembunyi gunting. Sebab kain yang digunting dari dalam, tak bisa lagi dipakai untuk baju. Persaudaraan yang digunting dari dalam, sulit dijahit kembali. Jaga lipatan itu. Jaga amanah orang yang melipat kain bersama kita.
Konteks Hari Ini.
Di zaman media sosial ini, menggunting dalam lipatan berubah wujud. Ia menjadi screenshot obrolan pribadi yang disebar. Menjadi fitnah halus di kolom komentar dengan akun anonim. Menjadi laporan palsu kepada atasan agar kawan tersingkir. Wajahnya modern, tapi jiwanya tetap sama: pengkhianatan orang dalam. Padahal, Melayu mengajarkan, kalau kain sudah dilipat bersama, jagalah hingga menjadi baju. Jangan digunting.

Akhirnya, biarlah peribahasa ini menjadi cermin bagi kita semua. Jangan sampai kita menjadi gunting itu.
- Pergi ke Pekanbaru membeli selendang,
Selendang dibeli di tepian sungai Selat.
Janganlah menjadi gunting dalam lipatan,
Bukan rusak kain, tetapi teman pun hilang
Terima kasih kembali, Saudara. Semoga tiga pena ini — penakawan yang menggelitik, penasaran yang mencari, dan penasehat yang mengingatkan — tetap setia menemani lipatan hidup kita.
- Salamsalaman
- BHP 5 November 2026
- TD & Gemini








Benar sekali Pak. Karena itu kita harus berhati hati dalam memilih teman, ataupun orang yabg akan dijadikan pendamping dalam tugas sehari hari.