Menegakkan Benang Basah
Peribahasa Melayu tentang Perjuangan, Kejujuran, dan Kenyataan Hidup
Peribahasa menegakkan benang basah menggambarkan suatu usaha yang hampir mustahil dilakukan. Ibarat benang yang sudah basah, tentu sulit ditegakkan karena sifatnya lemas dan tidak dapat berdiri lurus. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berusaha membenarkan sesuatu yang keliru, mempertahankan pendapat yang tidak berdasar, atau memperjuangkan perkara yang sejak awal memang tidak mungkin diwujudkan.
- Anak nelayan memasang pukat,
Ikan selar masuk ke jala.
Jika tersalah segeralah ingat,
Jangan mencari alasan semata.
Dalam pergaulan masyarakat, kita sering menemukan orang yang bersikeras mempertahankan pendapatnya meskipun fakta telah berbicara. Ada pula yang pandai menyusun alasan demi menutupi kesalahan. Padahal, semakin keras seseorang membela sesuatu yang salah, semakin sulit pula orang lain menerima penjelasannya. Sesungguhnya, mengakui kekeliruan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan dan kebesaran jiwa.
- Pergi ke pekan membeli talas,
Singgah sebentar membeli jamu.
Janganlah ego membuat kita keras,
Kebenaran tetap menjadi nomor satu.
Namun, jangan pula setiap perjuangan yang sulit langsung dianggap sebagai usaha menegakkan benang basah. Banyak keberhasilan besar justru berawal dari sesuatu yang dianggap mustahil. Perbedaannya terletak pada niat, kenyataan, dan ikhtiar. Jika perjuangan didukung fakta, kejujuran, ilmu, serta kerja keras, teruskanlah. Akan tetapi, jika hanya bertujuan membela kesalahan, sebaiknya berhenti sejenak dan berani melakukan introspeksi.

- Bunga melati harum mewangi,
Tumbuh subur di tepi perigi.
Jujur dan santun hiasan diri,
Berbuat baik dikenang abadi.
Sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, kita perlu belajar menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Jangan sampai ego mengalahkan akal sehat, apalagi persahabatan dan persaudaraan menjadi korban. Orang bijak tidak selalu ingin menang dalam perdebatan. Terkadang, mengalah demi kebaikan bersama justru merupakan kemenangan yang sesungguhnya. Ingatlah, lebih baik memperbaiki langkah daripada terus berjalan di jalan yang keliru.
- Pohon kelapa di tepi muara,
Burung camar terbang beriringan.
Benang basah sukar berdiri sempurna,
Jangan kesalahan dipertahankan.
Pada akhirnya, peribahasa menegakkan benang basah mengajarkan kita agar realistis dalam menghadapi persoalan kehidupan. Berani berkata benar, bersedia mengakui kesalahan, dan tidak memaksakan kehendak merupakan sikap terpuji. Jangan habiskan energi untuk membenarkan sesuatu yang salah. Lebih baik menggunakan waktu untuk berkarya, berbagi manfaat, mempererat silaturahmi, dan meninggalkan jejak kebaikan. Sebab, hidup bukan sekadar mencari pembenaran, tetapi berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat.
- Salam Literasi
- Jum’at 6 November 2026
- Thamrin Dahlan & Gemini
- BHP, Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD)








