Komentar Thamrin Dahlan
Richard J. Lino mengalami nasib berbeda dengan Purbaya Yudhi Sadewa, Kaharuddin Djenod, dan Wamen Kemendikbudristek Stella Christia. Perbedaan itu sederhana saja: RJL tidak hidup pada satu zaman kepemimpinan yang sama dengan Presiden Prabowo Subianto.
Kita mafhum bahwa seseorang dapat tampil dengan prestasi luar biasa bila memenuhi tiga syarat klasik: the right man, in the right place, at the right time. Namun tampaknya ada satu unsur penting yang kini harus ditambahkan: dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki visi masa depan (future-oriented leadership).
RJL, sebagaimana Tom Lembong dan Ira Puspadewi, adalah profesional berkelas tinggi—memiliki science, skill, dan attitude yang mumpuni. Hanya saja, takdir menempatkan mereka pada periode ketika kepemimpinan negara belum siap menerima kaliber talenta setinggi itu. Syukurlah TL dan IP masih mendapat kesempatan rehabilitasi reputasi oleh Presiden.
Ke depan, di tengah visi besar Presiden RI untuk mewujudkan Indonesia Raya yang makmur, sudah semestinya negara memberi ruang bagi talenta dengan standar di atas rata-rata—bahkan kelas jenius—untuk menempati posisi strategis di pemerintahan dan BUMN.
Apakah reshuffle mungkin terjadi? Disway.id barangkali memiliki peta data lebih lengkap mengenai siapa saja yang potensial membantu Presiden menjalankan agenda besar pembangunan. Dokumentasi CHDI pun kaya akan catatan mengenai “stok ilmuwan” bangsa yang memiliki dedikasi, integritas, dan kapasitas guna membenahi sekaligus membangun NKRI.
Mari kita belajar dari kisah para profesional yang pernah terkriminalisasi: RJ Lino, Tom Lembong, dan Ira Puspadewi. Jangan sampai pengalaman kelam itu terulang kembali, apalagi ketika musibah seperti banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar justru disikapi dengan mencari kambing hitam oleh sebagian pejabat.
Semoga bangsa ini semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin berani mengakui serta merangkul putra-putri terbaiknya.
Salam salamanan.









