Aku menghampiri Dede yang baru saja selesai mencuci sepeda motorku. Kusodorkan secangkir kopi untuknya. Dia pun berkata,” Aduh, saya jadi malu, Ibu membuatkan kopi untuk saya.”
“Nggak apa-apa,De. Ini bukan di sekolah, kamu tamu ibu di sini. Ayo diminum,” kataku.
“Terimakasih,Bu,” katanya sambil meneguk kopinya.
“Ternyata seperti itu medan jalan ke sekolah, ya? Gimana De, kamu masih bersedia bekerja di sekolah ibu? Tanyaku harap-harap cemas.
“ Perjalanan segitu mah gak terlalu menghawatirkan koq, Bu,” jawabnya. Wah, lega rasanya hatiku.
“ Jadi kamu tetap siap bekerja,ya?” tanyaku meyakinkan.
“Siap,Bu, semoga aja selalu sehat,” sahutnya.
“Alhamdulillah, ibu senang sekali, Oh,ya, hari Senin kita mulai tempur lagi yah, dan harus berangkat jam enam pagi,” kataku.
“Baik,Bu. Kalau begitu saya permisi pulang dulu,Bu , ” pamita Dede.
Sepulangnya Dede aku merenungi perjalanan tadi. Rasanya seperti mimpi yang baru saja kualami, tapi badanku terasa pegal-pegal.
“Hmm.. semoga ia selalu istiqomah untuk tetap bekerja denganku, dan Allah memberikan kekuatan fisik dan mental kepada kami” bisikku dalam hati.
Setelah serah terima jabatan dilangsungkan di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten , dua hari kemudian kami berangkat ke sekolah. Aku sudah mengirim pesan di WA grup sekolahku yang baru, agar semua guru bisa hadir walaupun saat itu masih liburan akhir tahun pelajaran. Walaupun aku tahu sinyal di gunung lebih sering blank. Tapi mudah-mudahan sampai juga pesanku. Karena sebelum tahun pelajaran baru dimulai tentu saja segala persiapan harus segera disusun.
Meskipun merasa was-was akan rupa pejalanan menuju sekolah, namun ada semangat dalam hatiku. Semangat baru yang berkobar. Semangat menempuh duniaku yang baru, yang akan aku jalani dengan segenap pengabdianku. Inilah yang mengikis pesimis dan mengubahku menjadi optimis.
Suguhan pesona alam sepanjang perjalanan yang aku nikmati, aku jadikan bonus, aku niatkan bertugas sambil refreshing. Dengan bertugas di Gunung Haur, aku bisa wisata setaiap hari, gratis. Ya, itulah yang menentramkan hatiku, bahwa aku bisa mengatasi kesulitan menjadi sebuah tantangan.
Sesampainya di sekolah, empat orang menyambut kedatangan kami di serambi kantor. Lalu sambil salaman terjadilah perkenalan. Ternyata mereka adalah guru-guru di sekolah itu. Kemudian kami masuk ke kantor, dan perbincangan pun berjalan seru. Mereka sangat welcome atas kedatangan kepala sekolah barunya.
Kami saling memperkenalkan diri lebih lanjut, mengenai mata pelajaran yang mereka ampu dan tugas-tugas tambahan lainnya. Ternyata di sekolah itu hanya ada lima orang guru, dan hanya tiga orang yang sesuai dengan kulifikasi, yaitu IPA, PPKn dan PAI, dan semuanya honorer, jadi tidak ada PNS satupun! Lalu aku memperkenalkan Dede yang diangkat menjadi tenaga Tata Usaha sekaligus operator sekolah. Selama ini tidak ada tenaga TU dan operator di sekolah, tapi memanfaatkan tenaga operator dari luar sekolah.
Tak lama kemudian kami melaksankan rapat untuk membahas persaiapan menghadapi tahun pelajaran baru. Ketika diminta data hasil Penenrimaan Siswa Baru (PPDB), seorang guru yang menjadi wakil Kepala Sekolah, Bu een, bilang bahwa mereka tidak pernah mengadakan proses PPDB di awal, tetapi PPDB dilaksankan langsung saja ketika hari pertama masuk sekolah pada tahun pelajaran baru. Orangtua mengantar anaknya untuk daftar.
Unik sekali, karena di sekolahku sebelumnya, PPDB dilaksankan sebelum tahun ajaran baru dimulai.
” Di sini mah udah tradisinya begini,Bu. Siswa na ge sedikit ini. Paling banter 30 orang saja, anak-anak dariSD sebelah,” katanya.
” Oh sedikit yah lulusan SD nya? tanyaku
” Sebenarnya sih ada 40-an yang lulus ,” sambungnya.
“Lho, lalu murid yang lainnya melanjutkan kemana?” tanyaku.
“ Lah Bu, di kampung ini, anak gak sekolah paling bantuin orangtuanya ke kebon atau ke sawah,” jawab sang guru.
“‘Hmm.. kasihan, mereka itu seharusnya belajar. Dan tugas kita membujuk agar mereka mau sekolah. Sekolah ini dibangun adalah untuk memfasilitasi anak agar bisa terus sekolah. Ada yang tahu kira-kira apa saja alasan mereka tidak melanjutkan sekolah?” Tanyaku.
“Ya mau gimana lagi,Bu, karena kondisinya seperti ini,” jawab guru yang lain.
“Maksud Ibu, kondisi yang bagaimana? Tanyaku penasaran.
“Ya.. untuk sekolah mereka butuh biaya yang nggak sedikit kan, Bu. Beli seragam, tas, sepatu, buku-buku dan sebagainya,” guru lain menimpali.
“Hmm. begitu yah? padahal apa bedanya dengan di SD? tiap tahun kan seperti itu yah? kecuali seragam harus ganti, Oh, ya Ibu ada usul supaya anak murid kita bertambah.. Tapi perlu dukungan dari Bapak dan Ibu. Kita harus mau kerja sama demi menjaga agar anak-anak tidak putus sekolah. Karena mereka wajib belajar, bila gak melanjutkan ke SMP artinya mereka putus sekolah. Bagaimana, bapak Ibu siap kita kerjasama?’ tanyaku.
Semua guru terlihat antusias atas ide yang akan aku sampaikan. Namun sayang waktu sudah duhur, rapat kami tunda dulu untuk isoma.
(Bersambung)







Asyik baca kisahnya. Memang mulai dari awal dengan tantangan tersendiri. Insha Allah jadi amal kebaikan
Betul bu hikmahnya sudah sy rasakan…
Wuih keren diksi dan plotnya mmgalir ringan dan mudah dipahami semua orang. Keep spirit to write.
Thaks so much Pak Nana… ayo saling berbagi tulisan..