PROMOSI MUTASI
Aku belum mempercayai isu yang beredar tentang rotasi dan mutasi kepala sekolah. Katanya, aku termasuk salah satu diantaranya. Aku pikir baru satu tahun bertugas di sekolah itu, mana mngkin pindah. Namun suatu sore aku menerima pesan japri WA yang singkat sekali ,” Ke bekas Pak Y.” Aku sempat menganggap kalau orang itu salah kirim, maka aku balas,” maaf, salkir yah?” Tapi tidak ada balasan apapun lagi.
Dua hari kemudian, selepas magrib, aku menerima pesan di WA. Isinya surat undangan pelantikan kepala sekolah, di Pendopo Kabupaten, besok tanggal 8 Agustus 2017. Aku terkejut sekali dengan apa yang kubaca. “Maasya Allah, benarkah ini?” tak terasa aku bicara sendiri, dan rupanya terdengar oleh suamiku.
“Ada apa, Bu? Dari tadi Bapak perhatikan serius amat nguprek HP-nya? Terus kayak yang kaget gituh?” tanyanya sambil mendekatiku dan duduk di sampingku.
“ Ini Pak, ada surat undangan. Besok Ibu harus mengikuti pelantikan kepala sekolah. Ya.. Ibu belum yakin ini, benar atau nggaknya, Pak,” kataku sambil memperlihatkan surat yang ada di gawaiku.
Lalu suamiku pun membacanya. “Lha, ini ada stempelnya, yang tandatangan Pak Kepala Dinas, masa bohongan. Wah, Bapak senang sekali Ibu bisa pindah. Mudah-mudahan sekolah yang dekat, ya Bu.”
“ Aamiin, Pak. Tapi Ibu masih ragu. Masa baru satu tahun sudah dipindah lagi, ya?” aku mengungkapkan keraguanku.
“Hmm. Belum sempat Bapak berkunjung ke sekolah Ibu di gunung, eh, Ibu dah mau pindah lagi,” kata suamiku “ Tapi syukurlah Ibu tidak akan menemukan lagi jalan yang ekstrim seperti cerita Ibu,” sambungnya.
Memang suamiku tidak tahu kondisi jalan dan kondisi sekolahku di gunung. Ia hanya mendengar ceritaku dan Dede saja. Bukan tidak mau mengantar ke sekolah, tapi belum ada waktu karena ia bekerja di Ibu Kota. Ia pulang setiap hari Jumat dan berangkat lagi hari Senin pagi.
“ Coba cari kabar di grup kepala sekolah, atau tanyakan ke ketua MKKS. Barangkali beliau tahu,” usul suamiku.
Aku pun mencari kabr di Grup WA MKKS, dan ternyata benar. Aku bersama beberapa teman kepala sekolah pun mendapat panggilan pelantikan mutasi kepala sekolah. Namun belum mengetahui ke sekolah mana aku mutasi
Maasya Allah, yang telah memberikan berkah dan limpahan kasih sayang-Nya. Ternyata aku mutasi ke sekolah yang lebih dekat, sebuah sekolah yang lebih besar, walaupun masih berstatus sekolah satu atap. Kemudian aku teringat pesan misterius di WA dua hari yang lalu, yang baru saja aku pahami. Ternyata isi pesan itu memberitahu kalau aku menggantikan pak Y, yang mutasi ke sekolah lain. Alhamdulillah wallaahuakbar, segala puji hanya bagi-Mu..
Akhirnya Kutinggalkan
Antara senang dan sedih aku menerima SK mutasi tersebut. Senangnya, karena perjalanan ke sekolah tidak separah seperti setahun ini kujalani. Sedihnya, karena harus meninggalkan rekan-rekan guru yang sedang semangat-semangatnya membangun kehidupan sekolah. Semakin bertambah kesedihanku ketika melihat air mata guru-guru dan isak tangis anak-anak. Perpisahan itu memang berat kurasakan. Namun semua sudah kuasa Tuhan. Hanya doa kupanjatkan, semoga penggantiku nanti melebihi usahaku untuk memajukan sekolah kecil itu.
Sesampainya di rumah, di hari terakhir itu, aku masih tak percaya bahwa aku tak akan ke sekolah dacil itu lagi. Ada perasaan kehilangan. Bagaikan seorang ibu harus meninggalkan anak-anaknya. Ah, mungkin orang akan bilang lebay, tapi sungguh itulah yang aku rasa. Apalagi, Dede sebagai operator sekolah pun memilih ikut pindah denganku ke sekolah baru, atau berhenti. Jadi sekolah kecil itu akan ditinggal dua orang sekaligus.
( Bersambung)
12th Day’s challenge











