Perjalanan Pertama Bak Petualangan

Fiksiana, Novel418 Dilihat

Pagi-Pagi sekali Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat survei ke sekolah baruku. Jaket, jas hujan dan helm sudah disiapkan. Rasa penasaran akan seperti apa rupa perjalananku nanti, memenuhi pikiranku. Namun aku pasrah kepada Sang Pencipta seraya memohon perlindungan dan keselamatan dari-Nya.

Perjalanan ke gunung dengan  sepeda motor itu adalah pengalamanku yang pertama. Dalam lajunya motor hatiku senantiasa bertasbih, memohon keselamatan. Tergambar dalam pikiranku bagimana terjalnya jalan yang akan kami tempuh, naik gunung!

Sepuluh kilo meter telah berlalu, jalan beraspal berganti dengan jalan berkoral dan berdebu, tapi masih mendatar. Beberapa menit kemudian Dede memperingatkanku untuk berpegangan yang erat karena medan di depan sudah mulai naik dan jalannya terjal dengan batu-batu besar. Rasanya terpacu andrenalin, aku merasakan lompatan-lompatan di tempat dudukku. Namun aku  pasrah dan tak henti-hentinya berdoa sambil berpegangan erat ke ransel yang digendong Dede.

“Ya Allah inilah medan yang akan kutempuh setiap hari,” bisik batinku.

Tiba-tiba Dede menghentikan motornya. Ia minta pendapatku, apakah aku mau terus di atas motor atau turun dulu. Lalu aku melihat begitu terjalnya jalan  yang menanjak  di depan. Aku pun memilih untuk turun dari motor dan jalan kaki.  Dede menyuruhku lebih dulu naik ke tanjakan dan ia mengawasi dari belakang.

Tak lama kemudian terdengar  suara motor meraung-raung menandakan jalan yang dipijak menanjak terjal  tak bersahabat. Dua tiga kali aku pun  harus turun dari motor daripada risiko jatuh. Selain itu aku merasa kasihan sama Dede harus berjuang lebih keras bila aku tetap memboceng.

Setengah jam sudah perjalanan sejak meninggalkan jalanan aspal mulus. Ada rasa was-was takutnya ada jalan yang lebih terjal lagi karena ternyata jalannya menanjak terus di tengah-tengah hutan yang tidak ada seorangpun ditemui.

Beberapa saat kemudian terlihat sebuah rumah, dan sebuah lagi beberapa puluh meter kemudian. Tak lama kemudian kami sampai ke sebuah perkampungan, Si Angin nama kampung itu. Konon dinamakan demikian karena selalu berangin, tempatnya dilereng gunung. Rumah-rumah berbaris di kedua sisi jalan dan berundak naik  megikuti jalan yang menanjak.

Semakin lama semakin berada di atas, bak berasa di Puncak Bogor. Terlihat pemandangan di bawah yang begitu  indah, bagaikan dalam lukisan. Sawah-sawah yang berundak, dan gubuk-gubuk di tengahnya, menambah keindahannya. Aku pun meminta Dede berhenti dulu, untuk menikmati pemandangan yang memanjakan mata, sejenak.

Ketika kulemparkan pandangan jauh ke depan, Maasya Allah, aku takjub akan kebesaran Sang Maha Pencipta, yang telah menganugrahkan pemandangan yang memesona. Nun jauh di sana, terlihat perkampungan demi perkampungan, gunung-gunung, sungai dan jalan yang berliku-liku. Sejenak lupa akan terjalnya perjalanan, kini berganti dengan rasa takjub di hatiku.

Ingin rasanya aku berlama-lama menikmati panorama negeri di atas awan itu. Namun aku sadar harus sampai ke suatu tempat yang dituju, sekolah baruku. Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan.

Sepanjang sisa perjalanan menuju sekolah itu, aku menikmati suguhan pemandangan yang tak kalah indahnya. Sawah-sawah yang terhampar dihiasi pohon-pohon yang berjajar rapi ditepi-tepinya, seakan membingkainya menjadi sebuah lukisan. Lukisan alam yang digambar oleh Sang Pencipta. Namun rasa was-was kembali melanda. Takut ada medan yang lebih terjal di depan.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

4 komentar

  1. Pengalaman luar biasa dituturkan dengan narasi indah. Pembaca terbawa suasana kebathinan dan kekhuatiran Ibu Guru ketika menempuh jalan terjal. Rasa penasaran mengikuti kisah nyata seorang guru dilereng gunung dan keindahan alam raya, Lanjutkan Ibu Tini
    Salam Literasi
    YPTD