Berteman Dengan Orang Penting Tidak Serta Merta Menjadikan Diri Kita Orang Penting

keterangan foto: bersama Menpan Brigjen Pol.Taufik Effendi(pada waktu itu) . disamping kiri: Mayjen TNI .Muchlis Anwar dan kanan Kol.TNI.M.Ilyas Setia  Budi/dokumentasi pribadi

Tetaplah Membumi Jangan Sombong

Berteman dengan orang penting bukan berarti kita langsung jadi orang penting, mengandung makna bahwa meskipun kita memiliki teman atau hubungan dengan orang yang dianggap penting atau memiliki kedudukan yang tinggi, itu tidak serta merta membuat kita menjadi orang yang penting atau memiliki kedudukan yang sama tinggi.

Kedudukan atau prestasi seseorang tidak hanya ditentukan oleh siapa yang dia kenal atau bergaul dengannya, tetapi juga oleh usaha dan kerja keras yang dilakukannya. Oleh karena itu, penting untuk tetap membumi dan tidak merasa sombong meskipun kita memiliki hubungan dengan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi.

Hal ini juga dapat diartikan bahwa menghargai dan menjalin hubungan baik dengan orang lain, termasuk dengan mereka yang memiliki kedudukan atau prestasi tinggi, adalah hal yang baik dan penting dalam kehidupan. Namun, itu tidak berarti kita harus merendahkan diri atau mengabaikan potensi dan kemampuan yang kita miliki. Sebaliknya, kita harus tetap berusaha untuk meraih cita-cita kita dengan usaha dan kerja keras yang sungguh-sungguh, tanpa merasa sombong atau meremehkan orang lain

Setinggi Apapun Pencapaian Kita Tetaplah Rendah Hati

Entah karena lagi kejatuhan bulan di pangkuan atau mungkin dapat duren runtuh, ya disyukuri saja. Jangan sampai membuat kita menjadi lupa diri. Karena keberhasilan atau katakanlah kekayaan yang kita bangga-banggakan, boleh jadi bagi orang lain, hanya uang recehan. Atau boleh jadi kita bersahabat dengan pejabat tinggi? Tetaplah rendah hati. Karena bersahabat dengan orang penting, tidaklah secara serta merta menjadikan kita orang penting.

Menjadi sahabat orang  banyak sungguh merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Bayangkan, di setiap kota yang kita kunjungi, akan ada sahabat yang datang untuk menemui kita. Hal ini baru dapat dicapai bila kita memiliki kerendahan hati. Jadi setinggi apapun pencapaian kita, ya disyukuri saja, tapi tetaplah rendah

Keangkuhan diri hanya mempertinggi tempat kita jatuh.
Suatu waktu bila kita jatuh maka orang akan bersorak .Tetapi bila kita selalu rendah hati,seandainya suatu waktu kita terpeleset dan jatuh,maka akan banyak orang yang mau menolong kita Mengapa demikian?
Keangkuhan diri dapat membuat orang merasa tidak nyaman di sekitar kita karena kita terlihat sombong dan tidak bisa menerima kritik atau saran dari orang lain. Ketika kita jatuh, orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan keangkuhan kita mungkin akan merasa senang melihat kegagalan kita, bahkan mungkin mereka tidak akan bersedia membantu kita.

Sementara itu, ketika kita selalu rendah hati, kita lebih mudah bergaul dengan orang lain dan menerima masukan dari mereka. Hal ini membuat kita lebih mudah membangun hubungan baik dengan orang lain dan membuat mereka merasa nyaman di sekitar kita. Ketika kita terpeleset dan jatuh, orang-orang yang merasa nyaman di sekitar kita akan bersedia membantu kita karena mereka merasa ada ikatan batin  yang sudah dibangun selama ini.

Oleh karena itu, rendah hati dapat membantu kita membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan membuat mereka lebih bersedia membantu kita ketika kita membutuhkan bantuan. Sedangkan keangkuhan dapat membuat kita terasing dari orang lain dan membuat orang merasa enggan  membantu kita ketika kita disaat kita membutuhkan bantuan.

Jangan lupa, kekayaan yang kita banggakan,boleh jadi bagi orang lain,hanyalah merupakan recehan belaka . Begitu juga dengan titel yang disandang,bukanlah segala galanya dalam hidup ini. Karena ada banyak orang yang tidak bertitel,tapi hidupnya jauh lebih sukses ketimbang orang yang memiliki sebaris titel. Kesempulannya, sepintar apapun diri kita atau setinggi apapun jabatan,jangan lupa bahwa dalam hidup ini tidak ada yang abadi.

Ada begitu banyak pelajaran hidup yang dapat dijadikan contoh dalam kehidupan nyata,bagaimana orang yang dulu kaya raya,ternyata belakangan mengalami kebangkrutan.

Dikampung halaman kami,pernah ada seorang kaya raya pada masa itu,yang sesumbar mengatakan :”Harta saya tidak akan habis dimakan 7 turunan” .Tetapi ternyata tidak sampai dua keturunan,entah karena apa,harta kekayaannya ludas dan menjadi bahan olok olokan orang.

Hidup ini terkadang,tidak mengenal belas kasih. Karena itu,pandai pandailah kita membawa diri . Dan jalan paling aman adalah tetap rendah hati.

Tjiptadinata Effendi

 

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Selamat sore Uda Tjiptadianta Effendi.
    Tulisan ini mengingatkan kita semua agar selalu rendah hati dalam pergaulan sehari hari. Terima kasih telah berbagi,
    Salam Minang maimbau.
    Thamrin Dahlan

  2. Selamat malam pak Thamrin Dahlan
    Terima kasih sudah berkenan menyapa dimalam indah ini. Awak samo samo mengingatkan ya pak. Karena sifat manusia pelupa. Terkadang disaat mendapatkan sanjungan,terasa bagaikan melayang layang. Tapi dengan sadar diri,kita cepat membumi lagi.
    Salam hangat dari kami berdua dirantau orang