Jangan Anggap Remeh Siapapun

Terbaru426 Dilihat

 

Nasib Orang Tidak Ada Yang Tahu

Pesan untuk menghargai setiap orang karena siapa saja dapat mencapai kesuksesan di masa depan adalah suatu nilai yang patut dipegang. Ada beberapa alasan mengapa kita harus menghargai setiap orang, terlepas dari status atau profesi mereka.

Pertama, setiap orang memiliki potensi yang sama untuk mencapai kesuksesan, tidak peduli dari mana mereka berasal atau apa yang mereka lakukan saat ini. Seperti yang diungkapkan dalam kutipan dari Arnold Schwarzenegger, “Tidak ada orang bodoh, hanya orang yang belum menyadari potensi mereka”. Oleh karena itu, dengan menghargai setiap orang, kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan potensi terbaik mereka.

Kedua, menghargai setiap orang dapat memperkuat hubungan kita dengan mereka. Saat kita menghargai seseorang, mereka merasa dihargai dan diakui, sehingga dapat memperkuat ikatan kita dengan mereka. Ini sangat berguna dalam konteks bisnis, di mana hubungan yang baik dapat membawa manfaat jangka panjang.

Ketiga, menghargai setiap orang dapat membantu kita membangun lingkungan yang lebih baik. Saat kita memperlakukan orang dengan hormat dan penghargaan, kita menciptakan lingkungan yang positif dan inklusif. Ini dapat memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

 

Dulu Pernah Jadi Kuli ,Kelak Jadi Boss

Hidup itu bersifat dinamika,bergerak dari waktu ke waktu dan dari satu sudut kehidupan,kesudut kehidupan lainnya. Ada juga yang menyebutkan hidup adalah bagaikan roda pedati ,sekali berada diatas boleh jadi lain waktu akan berada dibagian bawah.

Ketika kami berkunjung ke Tibet tahun 1998 di sana ada simbol besar yang berarti “Wheel of Life” atau Roda Kehidupan. Jadi walaupun gaya dan ungkapannya berbeda namun intinya sama, yakni kehidupan seseorang bisa saja berubah.

Orang yang hari ini berdiri dengan pakaian kumal dan basah oleh keringat sehabis mengangkat barang kelak 10 tahun lagi boleh jadi ia akan lebih sukses dibandingkan diri kita.

Sungguh tidak ada yang mustahil dalam hidup ini dan secara pribadi saya adalah saksi hidup, yang telah mengalaminya agar tidak membosankan, maka saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai mengapa saya bisa terdampar menjadi kuli di Pabrik Karet, yakni di PT Pikani, yang lokasinya di Desa Petumbak, Deli Serdang, sekitar 34 kilometer dari kota Medan.

Dari Kuli Jadi Pengusaha

Karena nasib tak kunjung berubah di rantau orang maka setelah dua tahun kerja di pabrik karet saya ajak istri saya pulang kampung. Walaupun sudah dapat membayangkan betapa masyarakat akan menengok kami dengan pandangan sinis, karena gagal di rantau orang.

Setelah hidup merangkak dalam lumpur kehidupan yang ikut dirasakan oleh putera kami yang baru satu orang, yakni Irmansyah Effendi, kami bersyukur akhirnya jalan untuk mengubah nasib terbuka bagi kami

Dari kuli dan Penjual kelapa, menjadi seorang pengusaha, sungguh sulit dipercaya tapi itulah yang terjadi.

Bahkan dalam waktu cepat dari pengusaha lokal perusahaan saya meningkat menjadi Eksportir Kopi dan Cassia yang ditandai dengan A.P.E – Angka Pengenal Ekspor dan National Aproved Trader Cassia.

Memperlakukan Karyawan Sebagai Mitra ,Bukan Sebagai Pesuruh

Kami berkantor di Jalan Niaga tepatnya persis di depan Polsek Pondok di kota Padang. Di belakang kantor ada gudang produksi, untuk mempersiapkan komoditas Ekspor. Masih ada gudang Pinang kami di Jalan Pasar Batipuh dan Gudang produksi Kayu Manis di Jalan Arau. Total karywan dan  pekerja bagian produksi berjumlah sekitar 90 orang.

Kami memperlakukan mereka sebagai mitra kerja dan tidak pernah sekalipun memperlakukan mereka sebagai pesuruh. Bahkan kalau kerja lembur, karena barang akan diberangkatkan ke luar negeri, maka ketika malam malam, saya ikut duduk lesehan makan nasi bungkus bersama karyawan bagian produksi.

Karena diperlakukan dengan baik, maka tak ada seorang pun yang minta berhenti, kecuali yang menikah atau melahirkan. Belum pernah ada yang menuntut kenaikan upah dan sebagainya, karena kami sudah memberikan apa yang menjadi hak mereka.

Hubungan baik ini terjalin hingga kini. Tahun lalu ada kesempatan pulang kampung, kami undang mereka makan bersama sama di Rumah Makan Bernama di Padang.

Filosofi hidup yang selalu kami pegang adalah :”The beauty of life not depend on how happy my life,but how happy the others because of me” Bahwa kebahagiaan hidup tidak semata mata tergantung pada seberapa bahagianya diri ,melainkan seberapa banyak orang yang dapat ikut berbahagia bersama saya ”

Hal inilah yang mendasari setiap gerak langkah dalam kehidupan. Ternyata dengan membuka hati untuk menjalin hubungan persahabatan dan kekeluargaan dengan orang banyak,kami bersyukur kemanapun kami pergi,selalu di terima dengan sangat santun.

keterangan foto: semua foto adalah dokumentasi pribadi

Tjiptadinata Effendi

 

 

Tinggalkan Balasan