Pemandangan yang mungkin biasa saja, tapi menjadi luar biasa jika objek pemandangan adalah orang yang begitu kita kenal. Rasanya aku tidak akan salah mengenalinya bagaimana tidak, setiap malam yang menjadi Selengkapnya
Karena Menulis Aku Ada (KMAA)
Pantun Hari Ibu
I Daun pepaya usah dimakan Rasanya pahit tak terkira Menjadi dosa jika melawan Selalu buat ibu gembira II Gagah berjalan anak jejaka Membuat hati gadis berbunga Tangis ibu bawa ke Selengkapnya
Segalanya Karena Cinta-Nya
Memandang langit, masih ada awan hitam yang membayanginya. Aku menghela napas, sampai berapa hari hujan akan turun, semua pakaian dijemuran sudah aku angkat, sudah beberapa kali aku memindahkan jemuran dari Selengkapnya
Diantara Waktu
Waktu seakan memburu buat yang leka Waktu seakan hilang bagi yang menanti malam dan siang Waktu berjalan lambat bagi berkasih-kasih Waktu terasa Indah dikala bahagia Perjalanan waktu tak dapat Selengkapnya
Penantian
Seribu belati menusuk dadaku Ada rasa menyapa hatiku Aku terdiam dalam kelam Menunggu hadirmu yang tak kujung datang Seribu rasa membuncah di dada Aku tenggelam dalam asa di batas Selengkapnya
Terjaga Malam (part 1)
Aku melihat ke jam dinding kamarku, jam 01 dini hari, seperti tidak percaya aku meraih handphoneku yang terletak di meja kecil disamping tempat tidurku. Membuka handphone menekan tombol sampingnya, handphoneku Selengkapnya
Luka, Bukan Luka
Awan berarak, tak tentu arah. Kakiku melangkah tak tentu rimbanya. Derasnya airmata bagaikan airbah yang melanda buana. Laut aku mencari laut, ingin aku tenggelamkan derita jiwa dan ragaku disana. Tiba Selengkapnya
Belahan Jiwaku
Aku mengejar langkah kecil menuju kamar, bukan maksudku untuk pulang terlambat hari ini, tapi yang namanya bawahan tentu harus patuh dengan atauran perusahaan. “Ma kenapa Hana tidak punya Ayah seperti Selengkapnya
Menumpang Kasih Terlerai
Langit yang sejak dari pagi sudah muram, dibarengi udara yang dingin membuat mataku merasa mengantuk. Pekerjaan di depanku menumpuk tapi tak niatku untuk memulai pekerjaan. Akhir pekan seharusnya istirahat, tapi Selengkapnya
Menepis Duka (part2)
Berjalan menuju ruang tamu, Bang Farhan duduk sambil memainkan androidnya. Langkah tidak di sadari Bang Farhan, apa yang diperhatikan Bang Farhan sampai tidak menyadari kehadiranku, batinku mengumam. “Assalamualikum Bang.” Suaraku Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- 2
- 3
- 4
- …
- 24
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.







