
Tak punya daerah pegunungan, ada sih laut namun bukan tempat tujuan utama pelancong untuk berwisata bahari, jalanan banyak yang rusak dan semrawut. Baiklah itulah kabupaten Bekasi tercinta. Namun dibalik semua itu, Bekasi tetaplah tempat yang ngangenin, apalagi jika cerita tentang makanan yang satu ini. Rasanya manis, bulat panjang dan enak di santap saat sore hari dan ditemani secangkir teh hangat.
Bekasi punya oleh oleh lho, namanya Dodol Bekasi, kebetulan sentra pembuatannya dekat perumahan penulis, namanya adalah Dodol Bekasi Buni Ayu Ibu Rodiah. Bisa menyaksikan langsung proses pembuatannya lho, lokasinya berada di desa Sukarukun, Kecamatan Sukatani. Ibu Rodiah adalah potret pengusaha perempuan kabupaten Bekasi yang telah puluhan tahun tetap eksis mengenalkan Dodol Bekasi sebagai kuliner khas daerah.
Tiga tahun lalu penulis mewawancarai langsung Ibu Rodiah, kini tempat pembuatan dodolnya telah mengalami renovasi, di pinggir jalan telah ada warung dan juga etalase untuk memajang dodol dan juga makanan lainnya. Di bagian dalam, suasananya belum berubah, ada adukan kayu yang seukuran dengan dayung perahu, belanga besar untuk mengaduk dodol, tumpukan kayu bakar dan juga pekerja yang sedang mengaduk adonan dodol.
Bahan bahan Dodol Bekasi adalah gula merah, kelapa dan juga ketan. Menurut Ibu Rodiah, memulai usaha sejak tahun 1999. Hingga saat ini tetap setia memproduksi dan memasarkan produknya secara mandiri. Salah satu kiat jualan Bu Haji adalah dengan metode “getok uler” yakni promosi orang ke orang, konsumen yang membeli produk dodol buatannya, biasanya akan memberi tahu konsumen lainnya, meski promosi ini terdengar sederhana namun cukup efektif mengenalkan produk dodol buatannya kepada konsumen.
Bentuk Dodol Bekasi berbentuk seperti silinder dan di kemas dalam bungkus plastik transparan, di setiap ujungnya di ikat tali, jika Dodol Garut di potong kecil kecil, Dodol Bekasi satu utuh glondongan. Harga Dodol Bekasi berkisar antara sepuluh ribu hingga lima belas ribu rupiah, jika pembaca berkesempatan ke kabupaten Bekasi dan pengen icip icip bagaimana manisnya Dodol Bekasi, rasanya kudu mampir ke Dodol Bekasi Buni Ayu Ibu Rodiah.
Usaha rumahan yang bisa bertahan hingga dua dekade terbilang sukses, apalagi yang mengelolanya adalah seorang perempuan. Usaha kecil seperti yang di lakukan Ibu Rodiah semestinya mendapat dukungan penuh dari pemangku kebijakan. Apalagi saat ini sedikit sekali produk yang mengusung unsur kedaerahan dengan label “Bekasi”. Ini merupakan waktu yang tepat agar produk produk lokal Bekasi semakin di kenal publik, sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa “dijual” dari kabupaten Bekasi, entah itu makanan atau minuman khas, produk kerajinan hingga tempat tempat wisata.
Ibu Rodiah telah memulai usahanya dengan memperkenalkan kuliner Dodol Bekasi, selain itu kehadiran Ibu Rodiah dengan produk andalannya memberikan peluang usaha lain seperti penyedia bahan baku seperti gula, ketan atau juga kelapa yang berasal dari sekitaran tempat usahanya. Kayu bakar didapatkan dari Pulo Gelatik, ada perputaran ekonomi dan menggairahkan pelaku usaha lainnya.
Menurut Ibu Rodiah bahwa puncak penjualan adalah saat menjelang bulan Ramadhan hingga memasuki Lebaran, permintaan akan Dodol Bekasi akan melonjak, tak heran seharinya jika sedang banyak pesanan ia dapat menghabiskan bahan baku seperti ketan dan gula mencapai satu ton perhari. Semoga nama Dodol Bekasi semakin dikenal luas, dan bisa saja menjadi oleh oleh khas kabupaten Bekasi, maju terus pelaku usaha kecil dan menengah di kabupatan Bekasi.








