Wangi Aroma Gula Merah Kue Rangi

Kue Rangi selalu ngangenin untuk dinikmati(dokpri)

Sekali mencoba ternyata langsung jatuh cinta pada gigitan pertama, tapi sayang untuk mendapatkan kue ini agak gimana gitu. Tidak setiap hari bisa menjumpai pedagangnya, ada kalanya datang pagi hari atau juga sore hari, bahkan berhari hari malah tak terlihat sama sekali.Adalah kue Rangi yang kali pertama penulis mencicipinya di bumi Swatantra Wibawa Mukti.

 

Bekasi merupakan tempat dimana icip icip kue Rangi di satu kesempatan. Ketika itu melihat penjual gerobak yang sedang mendorong barang dagangannya, asap mengepul, jual apakah itu? Ternyata menjual kue tradisional bernama kue Rangi. Baeklah kita tunggu cara proses pembuatannya. Cetakan kue Rangi mirip dengan kue Pancong namun cekungan cetakan ku Rangi lebih dangkal dan datar.

 

Si Abang memasukan adonan kue yang merupakan campuran parutan kasar kelapa, tepung sagu, garam dan air, diletakan di cetakan dan tak lupa ia menutup cetakan tersebut.Saat menunggu kue matang ia mempersiapkan topping untuk kue Rangi berupa gula merah yang dicampur tepung kanji.

 

Angkat kue dan diletakan di kertas dan saatnya mengoleskan Rangi yang telah matang, toppingnya berwarna merah kecoklat coklatan dan di lumuri ke seluruh kue Rangi. Satu potong Rangi dihargai Rp 2.500. Perpaduan antara rasa gurih kue dengan manis manis kenyal membuat sensasi rasa. Nikmatnya benar benar nampol dan ngangenin, rasa kue Rangi yang enak memang nggak ada obatnya deh.

 

Kue Rangi populer di kalangan masyarakat Jabodetabek, kue berbentuk memanjang ini dibakar dengan menggunakan kayu, aromanya jadi terasa khas sekali, mungkin salah satu kunci mengapa Rangi sedap nikmat, ya karena pakai kayu bakar untuk memanggangnya. Mungkin rasanya berbeda ya jika pakai kompor gas saat memanggang.

 

Sekali coba mungkin bisa ketagihan. Sayangnya saat ini pedagang kue Rangi sudah semakin jarang, biasanya mereka terlihat di waktu pagi atau sore. Tapi by the way lah, selagi masih ada yang menjajakannya, peluang untuk menikmati kue Rangi masih terbuka, betul nggak sih gaes. Berdoa saja ya Abang abang yang jualan kue Rangi sehat selalu.

 

Acapkali kalau kangen dan pas pedagangnya ada dan sedang mendorong gerobak, saat yang tepat untuk ngemil kue ini. Beberapa teman blogger di sekitaran Jabodetabek mengungkapkan bahwa ditempat mereka sudah jarang menemukan pedagang kue Rangi. Berdoa saja deh semoga masih ada yang menjual kue Rangi.

 

Meski Rangi berbahan dasar dari racikan sederhana, soal rasa menurut penulis sejauh ini, kue Rangi memang mantap, yang ngangenin itu topingnya, kenyal kenyal manis, parutan kelapa yang bertekstur kasar menambah rasa kue Rangi, sayang banget kalau tukang kue Rangi lewat tapi nggak beli.

 

Nasib kue tradisional memang sepertinya mulai terpinggirkan, tampaknya kehadiran kuliner khas Betawi ini kalah pamor dengan makanan kekinian yang punya nama nan mentereng dan juga digandrungi oleh kawula muda. Bersyukur masih ada saja orang orang yang gigih berjuang untuk tetap melestarikan kue tradisional.

Kue Rangi diatas gerobak, siap santap ini sih(dokpri)

 

Semoga kue kue jadul, kue yang menjadi favorit di zamannya, seperti kue Rangi akan terus ada. Salah satu kekayaan bangsa ini adalah mempunyai berderet nama kuliner tradisional  dari beragam tempat.Karena penulis berada di wilayah Bekasi yang kental unsur Betawinya, tak aneh jika icip icip kue yang populer seperti kue Rangi menjadi keniscayaan.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan