3 | Rumah Tahan Gempa Milik Kakek Opin membuka mata ketika mereka telah tiba di rumah kakek. Mereka pun masuk ke dalam rumah yang baru saja dibangun kembali setelah terkena Selengkapnya
Cerpen
Titik Balik: Jelajah Lombok (Bag. 2)
2 | Pesona Hutan Pusuk Matahari beranjak tinggi. Namun, tidak terlihat di tempat mereka berada saat ini. Mobil mereka telah sampai di puncak Pusuk. Di tempat parkir kawasan itu, Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 10)
10 | Akhir Tanpa Beban Pikir “Bagaimana, Imah? Kamu sepakat dengan kontrak ini?” tanya lelaki yang hampir seharian kemarin mengamati gerak-gerik keluarga Rama diam-diam. Imah Inges belum mulai merangkai Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (9)
9 | Bersama Menyembuhkan Luka “… Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa …” Sederet lirik yang diciptakan oleh Ebiet G. Ade Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (8)
8 | Hari Kesembilan Sejak Kematian “Jangan ke sana! Kamu di rumah saja, Rama!” Rama tidak mengindahkan teriakan neneknya yang berusaha mengejarnya. Anak yang masih memakai sarung itu berlari Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 7)
7 | Menyerah Bukan Berarti Kalah “Rama … Bapak sudah menyerah,” kata Kak Tuan Yusuf pada anaknya di berugak halaman belakang selepas magrib. Wajah lelaki tua itu terlihat kusut Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 6)
6 | Tekad Sudah Bulat Suara drum yang ditabuh Ipang Jering bersahutan dengan petikan gitar Rama. Paduan dua suara alat musik itu memantul-mantul di dalam sanggar seni. Nada-nada dari Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (5)
5 | Panggilan untuk Penyelesaian “Atas nama anak saya minta maaf, Pak Kades.” Di depan Kepala Desa, bapak Rama tertunduk. Rama paham benar dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh Selengkapnya
Titik Balik : Kecimol (Bagian 4)
4 | Kenyataan Harus Diungkapkan “Kan sudah Bapak kasih tahu. Ndak ngerti-ngerti juga kamu ini, ya!” Di sudut kamarnya yang sempit, Rudi Solong menekuk lututnya dan melipat tangannya sebagai Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 3)
3 | Tembakan di Halaman “Tunggu! Jangan lari!” Tanpa mengindahkan panggilan itu, Rama dan Ipang Jering terus berlari. Langkah cepat mereka terlihat menjejak sepanjang pematang sawah di pinggir kali. Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- …
- 93
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.






