
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mulai malam ini saya akan mengubah novel saya pertama novel. Berjudul Menjaga Dua Malam. Novel yang bisa mewujudkan impian saya untuk bisa melihat Jakarta. Berkat novel ini saya terpilih menjadi 100 guru dikmensus untuk mengikuti workshop naskah buku pada tahun 2018. Novel ini sudah mengalami beberapa perbaikan atas masukan dari para mentor saat itu. Semoga novel ini dapat diterima oleh para pembaca.
BERKENALAN
Semburat jingga langit di layar barat. Memanggil burung malam berias menyambut sirnannya sang mentari. Segerombol burung kuntul berarak pulang keperaduan. Bertemu sang awan keemasan bercekerama menikmati semilir angin senja. Lampu jalan satu persatu sudah mulai menyala. Alunan nada Tuhan sayub bersautan. Suarau-surau yang mulai di banjiri para santri.
Suasana di dalam mall satu-satunya di kota itu terlalu ramai berdesakan. Baju yang lepas di penggang sudah dipegang pengunjung lain. Tatanan sudah tidak rapi lagi. Ruang ganti mengantri sampai tiga empat orang. Pengunjung kegerahan. Beberapa AC tak lagi mampu mendinginkan. Ditambah lagi riuh beberapa rombongan keluarga besar lengkap dengan anak-anak mereka. Merengek berebut baju yang terlucu. Tak sabar menanti sang adik pilih-pilih baju, sang kakakpun menangis. Menambah rasa sesak suasana.
Dua orang gadis terlihat ke luar dari toko dengan menteng tas kecil. Tas berisi sepotong kemeja. Gadis berkulit putih berkaos pink bercelana jeans biru. Rambut ikal sebahu diikat sebuah pita sederhana. Bibirnya dihiasi liptiks tipis dengan alis model sincan tebal. Satu lagi berkaos biru berjilbab bunga-bunga. Bawahan jeans biru sama persis gadis berambut ikal. Menandakan mereka berdua sahabat kental. Kulit sawo matangnya hanya dibalut bedak tipis. Hidung mancung dan lesung pipit di pipi kiri menjadi kelebihannya.
Suasana luar toko ramai juga. Sama seperti di dalam. Lampu gemerlap mulai menyala. Di parkiranpun sama saja, ramai. Parkiran yang yang sejam lalu masih separo terisi, kini penuh sudah. Maklum ini H-7 lebaran.
Kedua gadis itu menuju tempat mereka tadi memarkir motor. Celingak-celinguk mencari posisi yang tadi. Semua sudah berubah. Dari sekian deret ternyata nggak ada. Mereka berdua sudah mulai khawatir. Jantung berdetak lebih kecang, keringat dingin mulai keluar. Sudah empat kali mereka mondar-mandir.
“Ceweeeeeeeeek cari kita yach…..kita disini nich,” terdengar suara cowok berkaos hitam. Cowok itu berdiri di depan jajaran sepeda motor yang diparkir.
Tanpa menghiraukan suara cowok tadi, kembali dua gadis itu berjalan ke arah selatan. Diperiksanya satu persatu sepeda motor yang terpakir.
”Wid coba di deret itu tuh…….” gadis berkaos merah muda mencolek sahabatnya sambil menunjuk ke deret paling timur.
“Mbak e syantiiiiiik, betulkan pingin kenalan dengan daku?” Kembali cowok itu menggoda.
Kedua gadis itu berjalan perlahan menyusuri jajaran sepeda motor bagian timur. Makin mendekati posisi cowokyang menggodanya itu. Sontak cowok itu salah tingkah. Wajahnya memerah. Sambil berdiri berkata kepada temannya yang sedang duduk di atas motor sambil main Hp.
”Eh…eh…. kesini tuh.” Tak ada tanggapan sama sekali. Sang teman bergeming. Mungkin memang tak mendengar.
Kedua cewek itu makin dekat dengan cowok tadi.
“Nah ini nich…………………” Kata gadis berjilbab sambil mengeluarkan kunci dari dalam saku celanannya.
”Maaf mas motornya” seru gadis berjilbab setelah dekat.
Cowok yang sedang duduk tegopoh turun. Gadis berjilbab berusaha mengeluarkan motor dari jajaran parkir. Ternyata sulit juga. Jaraknya terlalu mepet. Sementara sang juru parkir masih sibuk melayani di ujung selatan.
“Coba mbak aku ke luarkan, siapa tahu bisa,” kata salah satu cowok. Setelah sepeda motor bisa ke luar kedua gadis ngeloyor gitu aja.
“Eh…..eh…..kok nggak matur nuwun,” ujar kedua cowok sambil cengar cengir.












