✍️ Ramadhan Produktif Omjay: Dari Nyaris Berhenti Mengajar hingga Menjaga Marwah Guru Indonesia Lewat Tiga Buku Inspiratif
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah bagi Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd—yang akrab disapa Omjay. Bagi Guru Blogger Indonesia ini, Ramadhan adalah bulan kontemplasi, bulan menata hati, dan bulan melahirkan karya. Di tengah suasana sahur yang hening dan malam yang panjang penuh doa, Omjay justru menyelesaikan tiga buku penting yang menjadi jejak perjalanan hidupnya sebagai guru.
Tiga buku itu bukan sekadar tulisan. Ia adalah refleksi, perjuangan, dan cinta seorang guru kepada profesinya.
1. Omjay Hampir Berhenti Menjadi Guru
Buku pertama yang ditulis Omjay di awal Ramadhan berjudul “Omjay Hampir Berhenti Menjadi Guru.”
Judulnya mengejutkan. Banyak yang bertanya, benarkah seorang Omjay yang dikenal produktif dan penuh semangat pernah hampir menyerah?
Jawabannya: ya.
Ada masa di mana kelelahan mental, tekanan administrasi, kebijakan yang berubah-ubah, hingga minimnya apresiasi membuat hati seorang guru goyah. Omjay menuliskan secara jujur bagaimana ia pernah merasa lelah, merasa tak dianggap, bahkan merasa ingin berhenti.
Namun Ramadhan mengubah segalanya.
Di bulan suci itu, ia merenung: menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. Ia teringat wajah murid-muridnya. Ia teringat pesan orang tua. Ia teringat bahwa ilmu adalah amal jariyah.
Buku ini menjadi pengakuan jujur bahwa guru juga manusia. Mereka bisa lelah. Mereka bisa ingin menyerah. Tetapi ketika niat diluruskan kembali karena Allah SWT, kekuatan itu datang lagi.
Buku pertama ini menjadi semacam “ruqyah jiwa” bagi banyak guru yang diam-diam sedang berjuang dalam sunyi.
2. Omjay Guru Blogger Indonesia
Buku kedua berjudul “Omjay Guru Blogger Indonesia.”
Jika buku pertama bernuansa reflektif dan emosional, buku kedua lebih inspiratif dan penuh semangat digitalisasi.
Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay dikenal aktif menulis di platform seperti Kompasiana. Ia membuktikan bahwa guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga bisa mendidik melalui tulisan.
Di buku ini, Omjay menceritakan perjalanan panjangnya belajar menulis blog dari nol. Ia bukan ahli IT. Ia bukan lulusan jurnalistik. Namun ia memiliki satu hal penting: kemauan berbagi.
Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk menulis lebih banyak. Setiap selesai tarawih, ia membuka laptop. Setiap selesai sahur, ia menuntaskan satu paragraf. Ia menulis tentang pendidikan, motivasi guru, kebijakan sekolah, hingga kisah inspiratif.
Dari blog, lahirlah jaringan. Dari tulisan, lahirlah gerakan. Dari konsistensi, lahirlah kepercayaan.
Buku ini ingin menyampaikan pesan sederhana:
“Jika guru mau belajar dan berbagi, dunia digital bukan ancaman, melainkan ladang pahala.”
Omjay menunjukkan bahwa literasi digital adalah bagian dari jihad pendidikan di era modern.
3. PGRI Abdi: Menjaga Marwah Guru Indonesia
Buku ketiga yang diselesaikan di penghujung Ramadhan berjudul “PGRI Abdi: Menjaga Marwah Guru Indonesia.”
Di buku ini, Omjay mengangkat peran penting Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai benteng moral dan profesional guru Indonesia.
Menurut Omjay, marwah guru tidak boleh runtuh. Di tengah derasnya arus kritik, tantangan kesejahteraan, hingga perubahan kebijakan pendidikan, guru tetap harus berdiri tegak.
PGRI bukan sekadar organisasi. Ia adalah rumah perjuangan.
Buku ini menegaskan bahwa guru harus bersatu. Bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menjaga kehormatan profesi. Omjay menulis dengan penuh semangat bahwa guru adalah pilar peradaban. Jika marwah guru jatuh, maka kualitas bangsa pun ikut terguncang.
Ramadhan menjadi saksi bagaimana buku ini lahir dari doa-doa panjang setelah tahajud. Ia tidak ingin sekadar mengkritik. Ia ingin menguatkan.
Ramadhan: Bulan Menulis dengan Hati
Bagi Omjay, Ramadhan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru sebaliknya, ia menjadi bahan bakar spiritual.
Di saat banyak orang memilih istirahat lebih panjang, Omjay memilih bangun lebih awal. Di saat orang lain menunggu waktu berbuka, ia menyelesaikan satu subbab lagi. Ia membuktikan bahwa keberkahan waktu Ramadhan itu nyata.
Tiga buku dalam satu bulan bukan tentang ambisi. Itu tentang dedikasi.
Buku pertama menyelamatkan jiwanya sebagai guru.
Buku kedua menguatkan identitasnya sebagai Guru Blogger Indonesia.
Buku ketiga mempertegas komitmennya menjaga marwah guru melalui PGRI.
Pesan Omjay untuk Guru Indonesia
Di akhir Ramadhan, Omjay menuliskan satu kalimat yang menyentuh:
“Jika engkau lelah menjadi guru, jangan berhenti. Istirahatlah sejenak. Luruskan niatmu. Lalu bangkitlah kembali.”
Tiga buku itu adalah bukti bahwa guru tidak boleh berhenti bermimpi. Tidak boleh berhenti menulis. Tidak boleh berhenti memperjuangkan pendidikan.
Ramadhan telah melahirkan karya.
Karya telah menguatkan jiwa.
Dan jiwa yang kuat akan menjaga marwah guru Indonesia selamanya.
Semoga semangat Omjay menginspirasi para guru untuk terus berkarya, terus menulis, dan terus menjaga kehormatan profesi mulia ini.
Karena sejatinya, guru bukan hanya pengajar di kelas.
Guru adalah penulis sejarah bangsa.











