Guru Tidak Membawa Rudal

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Berita26 Dilihat

Guru Tidak Membawa Rudal, Tapi Melawan dengan Hati

Di dunia modern ini, banyak negara berlomba menciptakan rudal tercanggih. Teknologi militer dikembangkan dengan anggaran besar demi memenangkan peperangan. Rudal hipersonik, drone tempur, hingga sistem pertahanan canggih menjadi simbol kekuatan sebuah negara.

Namun di balik hiruk pikuk perlombaan senjata itu, ada “peperangan” lain yang jarang terlihat. Peperangan yang tidak menggunakan senjata, tidak menimbulkan ledakan, tetapi terasa di hati banyak orang. Peperangan itu dialami para guru.

Jika negara berperang dengan rudal modern, maka guru sering kali harus “berperang” dengan kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada mereka.

Itulah yang juga dirasakan oleh Omjay, atau Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang telah menjalani profesi guru selama 34 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan, pengabdian, sekaligus harapan.

Awal Perjalanan Menjadi Guru

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kelas sebagai guru muda, Omjay tidak pernah membayangkan bahwa profesi ini akan menjadi jalan hidupnya selama puluhan tahun. Saat itu, yang ada dalam pikirannya sederhana: mengajar dengan sepenuh hati dan membantu siswa memahami pelajaran.

Hari demi hari berlalu. Tahun demi tahun berganti. Generasi siswa datang dan pergi.

Ada yang dulu duduk di bangku kelasnya, kini sudah menjadi dokter, pengusaha, pejabat, bahkan guru juga. Setiap kali bertemu mantan murid yang sukses, Omjay merasakan kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Seorang guru memang jarang tampil di panggung utama keberhasilan muridnya. Namun jejaknya selalu ada di balik setiap kisah sukses mereka.

Guru dan “Peperangan” yang Sunyi

Selama 34 tahun mengajar, Omjay menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru juga harus menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan.

Kadang guru harus beradaptasi dengan perubahan kurikulum yang begitu cepat. Belum selesai memahami satu kebijakan, kebijakan baru sudah datang menggantikan.

Kadang guru juga harus berhadapan dengan sistem administrasi yang semakin rumit. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mendampingi siswa justru tersita oleh berbagai laporan dan dokumen.

Belum lagi persoalan kesejahteraan yang sering menjadi perbincangan panjang di kalangan guru.

Di sinilah “peperangan” itu terasa.

Bukan peperangan dengan senjata, tetapi peperangan menghadapi kebijakan yang kadang terasa belum sepenuhnya adil bagi para guru.

Namun berbeda dengan tentara yang membawa senjata, guru menghadapi semua itu dengan cara yang berbeda: kesabaran, dedikasi, dan ketulusan.

Menulis sebagai Jalan Perjuangan

Omjay memilih cara yang unik untuk menyuarakan suara guru: menulis.

Melalui blog, artikel, dan berbagai tulisan di media sosial, ia membagikan pengalaman, gagasan, sekaligus kritik yang membangun tentang dunia pendidikan.

Tulisan-tulisannya tidak hanya dibaca oleh guru, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Banyak guru merasa suara mereka terwakili. Banyak pembaca yang akhirnya memahami bahwa kehidupan guru tidak sesederhana yang terlihat.

Karena itulah Omjay dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Ia membuktikan bahwa guru juga bisa menjadi agen perubahan melalui tulisan.

Bagi Omjay, menulis adalah bentuk perjuangan yang damai. Melalui tulisan, ia berharap kebijakan pendidikan bisa semakin berpihak pada kepentingan guru dan siswa.

Mengajar dengan Hati

Di tengah berbagai tantangan itu, Omjay tetap memegang satu prinsip sederhana: mengajar dengan hati.

Bagi seorang guru, murid bukan sekadar peserta didik yang harus mendapat nilai bagus. Murid adalah manusia yang sedang belajar memahami dunia.

Kadang mereka datang ke sekolah membawa masalah keluarga. Kadang mereka kehilangan semangat belajar. Kadang mereka hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting.

Seorang guru tidak hanya mengajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan. Guru juga mengajarkan nilai kehidupan.

Itulah sebabnya banyak orang mengatakan bahwa guru adalah profesi yang tidak pernah benar-benar pensiun. Pengaruhnya akan terus hidup dalam kehidupan murid-muridnya.

Harapan untuk Pendidikan Indonesia

Setelah 34 tahun mengajar, Omjay memiliki satu harapan besar: pendidikan Indonesia semakin menghargai peran guru.

Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam kebijakan yang nyata.

Guru membutuhkan dukungan untuk terus berkembang, bukan hanya tuntutan yang semakin berat. Guru membutuhkan ruang untuk berinovasi, bukan sekadar mengikuti aturan administratif.

Ketika guru dihargai dan didukung dengan baik, maka dampaknya akan terasa langsung pada kualitas pendidikan.

Dan pada akhirnya, masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik.

Perjuangan yang Tidak Pernah Selesai

Perjalanan Omjay selama 34 tahun menjadi guru adalah bukti bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan jiwa.

Jika negara mempertahankan kedaulatan dengan rudal dan senjata modern, maka guru mempertahankan masa depan bangsa dengan ilmu dan pendidikan.

Rudal mungkin bisa menghancurkan musuh dalam hitungan detik. Namun pendidikan mampu membangun peradaban selama ratusan tahun.

Karena itu, perjuangan guru sebenarnya jauh lebih besar dari yang sering kita bayangkan.

Omjay dan jutaan guru lainnya terus berjuang dalam “peperangan sunyi” itu.

Mereka tidak membawa senjata.
Mereka tidak menimbulkan ledakan.

Namun dari tangan mereka lahir generasi masa depan Indonesia.

Dan selama masih ada guru yang mengajar dengan hati, harapan untuk masa depan bangsa akan selalu hidup.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan