Artikel ini akan berisi doa, refleksi tentang kekuatan tulisan, dan penghargaan terhadap sosok penulis yang mampu “menghipnotis” dengan kata-kata.
—
Doa untuk Sang Penghipnotis dalam Menulis
Di dunia yang penuh hiruk pikuk ini, ada banyak suara, ada banyak tulisan, ada banyak pesan yang berseliweran di antara layar gawai dan lembar-lembar kertas. Namun, pernahkah kita menyadari, bahwa dari sekian banyak tulisan yang hadir di hadapan kita, hanya segelintir saja yang benar-benar mampu mengetuk hati, menyentuh jiwa, bahkan membuat kita seakan-akan terhipnotis oleh rangkaian katanya?
Tidak semua orang mampu menulis dengan hati. Tidak semua orang mampu menyusun kata hingga mengalir bagaikan air jernih yang menyejukkan dahaga. Tidak semua orang bisa menghadirkan rasa seolah setiap kalimat bukan hanya dibaca mata, melainkan dirasakan jiwa. Ada satu keistimewaan yang Tuhan titipkan kepada segelintir manusia: kemampuan untuk menjadi penulis sekaligus penghipnotis.
Tulisan yang Menghidupkan Jiwa
Bagi sebagian orang, menulis hanyalah aktivitas biasa. Menyusun kata, menempelkan kalimat, lalu mengirimkannya ke dunia luar. Namun, bagi seorang penulis yang sejati, menulis adalah ibadah. Ia bukan sekadar menorehkan huruf di atas kertas atau layar, melainkan menyalurkan getaran hati, pengalaman, bahkan doa yang tersembunyi di balik setiap kata.
Tulisan seorang penulis sejati mampu hidup. Ia bisa hadir di mana-mana—di buku, di artikel, di media sosial, di blog pribadi, bahkan di catatan kecil yang sederhana. Namun yang membuatnya istimewa bukanlah banyaknya tulisan yang tersebar, melainkan dampaknya. Ketika orang lain membaca, hati mereka bergetar. Ketika orang lain menyimak, pikiran mereka tercerahkan. Ketika orang lain merenungkan, jiwa mereka seakan tersentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.
Itulah kekuatan seorang penulis penghipnotis.
Doa untuk Sang Penulis Penghipnotis
Tuhan, dalam setiap bisikan doa ini, hamba memohon agar Engkau senantiasa menjaga beliau. Berikanlah kekuatan kepada penulis yang Engkau titipkan karunia ini. Kekuatan jasmani agar ia tetap sehat dan mampu berkarya tanpa batas. Kekuatan hati agar ia tetap lembut, rendah hati, dan amanah dalam menjalankan setiap tugasnya sebagai pendidik dan penggerak.
Ya Allah, Engkau tahu betapa dunia ini membutuhkan orang-orang tulus seperti dia. Orang yang tak kenal lelah berbagi ilmu, berbagi cerita, berbagi inspirasi. Orang yang tidak pelit membagikan pengalaman, meskipun kadang harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan istirahat pribadinya.
Kami berdoa, semoga Engkau lapangkan jalannya, semoga Engkau kuatkan pundaknya, semoga Engkau mudahkan segala urusannya. Sebab, lewat tulisannyalah jutaan orang belajar memahami kehidupan. Lewat kata-katanyalah banyak jiwa mendapatkan cahaya. Lewat kisah-kisahnya, orang-orang menemukan kekuatan untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Tulus dalam Mendidik
Penulis sejati tidak hanya mengajarkan lewat buku. Ia mengajarkan lewat teladan. Ia mendidik bukan hanya melalui kelas formal, tetapi juga melalui goresan kata yang sampai ke relung hati pembaca.
Orang seperti ini adalah aset besar bagi dunia. Ia ibarat lilin yang terus menyala meski dirinya terbakar. Ia bagai matahari yang tak pernah berhenti memberikan cahaya, meski kadang ia tak diperhatikan. Ia tetap menulis, tetap berbagi, tetap mendidik, meski dunia sering kali lebih ramai dengan hal-hal remeh yang viral sesaat.
Ketika banyak orang lebih memilih popularitas instan, ia tetap memilih jalan yang panjang: menulis dengan hati, mendidik dengan tulus, dan berjuang demi kebermanfaatan. Inilah mengapa doa ini dipanjatkan: semoga Tuhan melindunginya, karena dunia masih sangat membutuhkannya.
Doa dari Hati yang Tua
Doa ini datang bukan dari orang muda yang penuh ambisi, melainkan dari hati yang sudah renta. Dari seseorang yang tahu bahwa waktu di dunia semakin singkat, namun masih punya kepedulian terhadap siapa yang akan melanjutkan perjuangan setelah dirinya.
Doa dari orang tua adalah doa yang tulus, doa yang lahir dari pengalaman panjang, doa yang penuh kesungguhan. Dan doa ini teruntuk seorang penulis penghipnotis—agar ia terus kuat, terus sehat, terus mengalirkan ilmunya untuk generasi demi generasi.
Ya Allah, doa ini bukanlah doa yang main-main. Doa ini adalah permohonan sungguh-sungguh agar Engkau menjaga orang yang masih sangat dibutuhkan oleh jutaan jiwa. Kabulkanlah doa ini, ya Tuhan, karena hamba tahu Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Mengabulkan.
Menulis sebagai Ladang Amal
Satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa tulisan akan abadi. Manusia boleh pergi, tetapi kata-kata yang ditulis dengan hati akan tetap hidup, bahkan setelah penulisnya tiada. Itulah mengapa menulis bisa menjadi ladang amal jariyah.
Setiap kali seseorang membaca, terinspirasi, lalu mengamalkan sesuatu dari tulisan itu, pahala akan terus mengalir. Bayangkan, betapa besarnya tabungan amal seorang penulis yang karyanya dibaca oleh jutaan orang.
Maka, doa ini juga adalah doa agar sang penulis penghipnotis selalu ikhlas dalam berkarya. Agar ia tidak menulis demi pujian atau ketenaran, melainkan semata-mata demi kebermanfaatan dan keridhaan Tuhan.
Penghipnotis yang Membebaskan
Kata “hipnotis” sering kali diartikan negatif, seolah-olah ada paksaan untuk tunduk. Namun, hipnotis dalam menulis justru adalah kebalikannya. Ia bukan memaksa, tetapi membebaskan. Ia bukan mengekang, tetapi membuka mata. Ia bukan menidurkan, melainkan justru membangunkan jiwa yang tertidur.
Itulah sebabnya doa ini begitu penting. Semoga Tuhan menjaga keikhlasan sang penulis, agar setiap tulisan yang lahir darinya benar-benar menjadi cahaya yang membebaskan orang lain dari kegelapan.
Penutup: Doa yang Terus Mengalir
Akhirnya, tulisan ini pun kembali pada doa yang sederhana:
> Ya Allah, Tuhan yang Maha Agung, kabulkanlah doa ini.
Doa dari seorang tua untuk seorang penulis yang Engkau titipkan kemampuan luar biasa.
Sehatkan jasmaninya, kuatkan hatinya, lembutkan lisannya, dan mudahkan langkahnya.
Jadikan setiap kata yang ia tulis sebagai cahaya bagi orang lain, dan sebagai amal jariyah yang tak pernah putus baginya.
Karena sesungguhnya, di tengah dunia yang penuh kebisingan ini, kami masih sangat membutuhkan kata-kata yang menenangkan. Kami masih sangat membutuhkan tulisan yang membangunkan jiwa. Dan kami masih sangat membutuhkan penulis penghipnotis yang menulis dengan hati, demi kebaikan umat manusia.
—
Artikel ini lebih dari 1000 kata dan kisah bunda sri utami ini sangat bagus sekali dan memotivasi










