Omjay Dari Ruang Kelas Ke Panggung Dunia di ICANN87 di Bali

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

guru11 Dilihat

Dari Ruang Kelas ke Panggung Dunia: Kisah Omjay Mengikuti ICANN87 di Bali

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada banyak jalan yang bisa membawa seorang guru untuk belajar. Ada yang belajar melalui buku, ada yang mengikuti pelatihan di dalam negeri, dan ada pula yang memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan para pegiat teknologi dari berbagai negara. Bagi saya, belajar adalah perjalanan yang tidak pernah berakhir. Selama masih diberi kesempatan dan kesehatan, saya ingin terus membuka mata, menambah wawasan, serta berbagi pengalaman kepada orang lain.

Pada 17–20 Oktober 2026, saya bersiap mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87 di Bali melalui program Contribution Fellowship. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga bagi saya sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, sekaligus pegiat literasi digital yang telah bertahun-tahun berusaha mengajak guru Indonesia untuk terus belajar, menulis, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Bagi sebagian orang, internet mungkin hanya berarti membuka media sosial, mengirim pesan melalui WhatsApp, mencari informasi melalui Google, atau mengikuti pertemuan daring. Namun, di balik kemudahan yang kita rasakan setiap hari, terdapat sistem teknis, standar, kebijakan, dan kerja sama internasional yang memungkinkan internet berfungsi sebagaimana mestinya.

Di sinilah saya melihat pentingnya mengikuti kegiatan ICANN. Saya ingin memahami lebih jauh bagaimana ekosistem internet dunia dikelola, bagaimana berbagai komunitas bekerja sama, dan bagaimana masyarakat dari berbagai negara dapat berpartisipasi dalam pembahasan mengenai masa depan internet.

17 Oktober 2026: Memulai Perjalanan Belajar tentang Internet Dunia

Hari pertama menjadi kesempatan untuk mulai mengenal berbagai komponen penting dalam tata kelola internet. Berdasarkan jadwal Contribution Fellowship, peserta mengikuti sesi pembukaan GAC, kemudian mempelajari IROS dan IANA, kebijakan ICANN, serta berbagai kelompok yang menjadi bagian dari komunitas ICANN.

Nama-nama tersebut mungkin terdengar asing bagi sebagian guru. Namun, bagi seorang guru Informatika, mempelajari hal-hal seperti ini merupakan kesempatan untuk memperluas pengetahuan melampaui materi yang biasa diajarkan di ruang kelas.

IANA, misalnya, berkaitan dengan koordinasi sejumlah pengenal unik internet, sedangkan kebijakan ICANN berhubungan dengan pengelolaan sistem nama domain dan aspek-aspek lain dalam koordinasi teknis internet. Sementara itu, berbagai kelompok komunitas ICANN menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari pemerintah, pelaku usaha, pengguna internet, hingga komunitas teknis.

Saya ingin belajar bukan sekadar untuk menambah istilah baru, melainkan agar mampu menjelaskan teknologi secara lebih bermakna kepada murid-murid saya.

Saya membayangkan suatu hari nanti seorang murid bertanya, “Pak, mengapa sebuah nama situs web bisa ditemukan dari seluruh dunia?”

Pertanyaan sederhana seperti itu sesungguhnya membuka pintu menuju pembelajaran yang luas. Ada nama domain, DNS, alamat IP, server, protokol, serta sistem koordinasi global yang bekerja di belakang layar. Semakin dalam kita belajar, semakin kita menyadari bahwa teknologi yang terlihat sederhana sering kali dibangun oleh kerja sama banyak orang.

18 Oktober 2026: Mengenal Komunitas yang Menjaga Internet

Pada hari kedua, agenda Contribution Fellowship berfokus pada pengenalan komunitas ICANN, termasuk RSSAC, pengenal unik internet, GAC, CSG/BC, ccNSO, IPC, NCSG, NCUC, dan NPOC.

Dari rangkaian topik tersebut, saya melihat satu pelajaran penting: internet bukan hanya urusan perangkat komputer dan jaringan. Internet juga berkaitan dengan manusia, organisasi, kepentingan masyarakat, keamanan, serta aturan yang disusun melalui proses diskusi dan kolaborasi.

Ada kelompok yang memberikan perhatian pada keamanan dan stabilitas sistem server akar. Ada pula kelompok yang mewakili kepentingan pemerintah, bisnis, pengguna nonkomersial, serta pengelola domain tingkat negara atau wilayah.

Bagi saya, hal ini memberikan pelajaran tentang pentingnya menghargai perbedaan pandangan. Dalam dunia pendidikan, guru juga menghadapi beragam kepentingan dan kebutuhan. Murid memiliki karakter yang berbeda, sekolah memiliki tantangan masing-masing, dan masyarakat mempunyai harapan yang tidak selalu sama.

Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama.

Saya percaya bahwa pendidikan teknologi yang baik bukan hanya mengajarkan murid bagaimana menggunakan perangkat digital, tetapi juga menumbuhkan pemahaman mengenai tanggung jawab, etika, keamanan, dan peran setiap orang dalam masyarakat digital.

Internet harus menjadi ruang yang bermanfaat bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang menguasai teknologi.

19 Oktober 2026: Belajar, Berkenalan, dan Membangun Jaringan

Tanggal 19 Oktober dijadwalkan sebagai salah satu momen penting dalam rangkaian kegiatan ini. Peserta mengikuti Welcome Ceremony atau upacara penyambutan di Mangupura Hall, Ballroom 1. Pada sore hari, agenda dilanjutkan dengan Host Welcome Reception di Heritage Garden.

Bagi saya, sebuah pertemuan internasional tidak hanya dinilai dari banyaknya materi yang disampaikan oleh narasumber. Ada nilai lain yang tidak kalah penting, yaitu kesempatan untuk bertemu orang-orang baru, mendengarkan pengalaman mereka, dan menemukan kemungkinan kerja sama.

Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenal lebih dekat orang-orang yang memiliki perhatian terhadap perkembangan internet dan teknologi digital.

Sebagai guru yang telah mengajar sejak 1994, saya memahami bahwa pengalaman di ruang kelas merupakan sumber pembelajaran yang sangat berharga. Akan tetapi, pengalaman itu perlu terus diperkaya dengan wawasan baru. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan kebutuhan murid pun semakin beragam.

Karena itulah seorang guru tidak boleh berhenti belajar.

Saya berharap pertemuan dengan peserta dari berbagai latar belakang dapat memberikan inspirasi baru bagi kegiatan pembelajaran Informatika di sekolah, pengembangan komunitas guru, dan peningkatan literasi digital di Indonesia.

Mungkin sebuah percakapan singkat akan menghasilkan gagasan baru. Mungkin sebuah pertanyaan akan membuka jalan untuk berkolaborasi. Kita tidak pernah tahu peluang apa yang muncul ketika kita bersedia mendengarkan dan belajar dari orang lain.

20 Oktober 2026: Memahami Standar dan Infrastruktur Internet

Memasuki 20 Oktober, jadwal pelatihan mencakup Internationalized Domain Names atau nama domain internasional, IETF, dan Root Server Operations atau operasional server akar.

Materi tersebut menarik bagi saya karena berkaitan erat dengan dasar-dasar teknologi internet yang perlu dipahami secara benar.

Nama domain internasional memungkinkan penggunaan karakter dari berbagai bahasa dan aksara dalam nama domain, sesuai standar teknis yang berlaku. Hal ini penting karena pengguna internet di seluruh dunia memiliki bahasa dan sistem tulisan yang beragam.

Sementara itu, IETF merupakan komunitas terbuka yang mengembangkan standar teknis internet. Operasional server akar juga menjadi bagian penting dari infrastruktur DNS yang membantu proses pencarian nama domain.

Ketika kita membuka sebuah situs web, semuanya terasa begitu mudah. Kita mengetik alamat situs, menekan tombol, lalu halaman muncul di layar. Namun, kemudahan itu ditopang oleh sistem teknis yang dirancang, dikelola, dan dikembangkan melalui kerja sama banyak pihak.

Sebagai guru Informatika, saya ingin membawa pemahaman tersebut ke dalam proses pembelajaran. Murid tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu mengetahui bagaimana teknologi bekerja, apa manfaatnya, apa risikonya, dan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.

Apalagi sekarang dunia pendidikan semakin dekat dengan kecerdasan artifisial atau AI. Murid perlu memahami bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Di baliknya terdapat pengetahuan manusia, penelitian, standar, infrastruktur, dan keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Saya ingin murid-murid Indonesia tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan memahami tanggung jawab mereka sebagai warga digital.

Membawa Pulang Ilmu untuk Guru dan Murid Indonesia

Mengikuti ICANN87 melalui program Contribution Fellowship saya pandang sebagai kesempatan untuk memperluas cakrawala. Saya tidak ingin ilmu yang diperoleh hanya berhenti sebagai catatan pribadi atau kenangan perjalanan.

Ilmu harus dibagikan.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya berharap pengalaman dan pengetahuan dari kegiatan ini dapat menjadi bahan refleksi untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual. Murid dapat diajak memahami bagaimana internet bekerja, mengapa keamanan digital penting, bagaimana nama domain digunakan, serta mengapa kerja sama internasional dibutuhkan dalam perkembangan teknologi.

Sebagai pegiat literasi digital dan penulis blog, saya juga ingin mendokumentasikan perjalanan belajar ini melalui tulisan. Saya percaya bahwa menulis merupakan cara sederhana untuk merawat pengetahuan. Apa yang kita pelajari hari ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain pada masa mendatang.

Saya selalu meyakini bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan pelajaran. Guru juga harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, memberikan teladan, dan membuka jalan bagi murid-muridnya untuk mengenal dunia yang lebih luas.

Perjalanan dari ruang kelas menuju forum internasional bukanlah alasan untuk merasa lebih hebat daripada orang lain. Justru sebaliknya, semakin banyak kita belajar, semakin kita menyadari betapa luasnya ilmu pengetahuan dan betapa banyak hal yang belum kita pahami.

Di situlah kerendahan hati seorang pembelajar diuji.

Penutup: Guru Harus Terus Belajar agar Murid Terus Bertumbuh

Perjalanan mengikuti ICANN87 di Bali pada 17–20 Oktober 2026 saya harapkan menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berbagi. Melalui Contribution Fellowship, saya ingin memahami lebih jauh tata kelola internet, mengenal komunitas global, serta menemukan wawasan yang relevan bagi pendidikan Indonesia.

Saya percaya bahwa masa depan pendidikan tidak cukup dibangun dengan perangkat canggih dan jaringan internet yang cepat. Kita juga membutuhkan guru yang terus belajar, murid yang berani bertanya, dan masyarakat yang menggunakan teknologi secara bijaksana.

Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. Kecerdasan artifisial boleh membantu manusia bekerja, tetapi empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap perlu ditumbuhkan melalui pendidikan.

Saya ingin terus belajar, menulis, dan berbagi selama masih diberi kesempatan. Sebab, bagi seorang guru, perjalanan mencari ilmu tidak pernah benar-benar selesai.

Belajar untuk diri sendiri adalah langkah awal. Berbagi ilmu kepada orang lain adalah langkah berikutnya. Namun, mengubah ilmu menjadi manfaat bagi generasi mendatang adalah tujuan yang sesungguhnya.

Salam blogger persahabatan.

Omjay Guru Blogger Indonesia

Blog: https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan