OTN 8 BOLEH SELESAI, TAPI PEKERJAAN PANITIA OTN 8 BELUM SELESAI
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay) – Guru Blogger Indonesia blog https://wijayalabs.com
Ada satu hal yang perlu kita pahami bersama setelah penyelenggaraan Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN) ke-8 tahun 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, berakhir pada 1 November 2026. Sebuah kegiatan boleh saja dinyatakan selesai, panggung boleh dibongkar, peserta boleh kembali ke daerah masing-masing, dan panitia boleh mulai beristirahat. Namun, pekerjaan panitia OTN 8 sesungguhnya belum sepenuhnya selesai.
Mengapa demikian?
Karena menyelenggarakan sebuah kegiatan besar bukan hanya tentang membuka acara, melaksanakan perlombaan, mengumumkan pemenang, membagikan hadiah, dan menutup kegiatan secara resmi. Ada tanggung jawab yang harus dituntaskan setelah acara berakhir. Ada administrasi yang perlu dirapikan, laporan yang harus disusun, evaluasi yang perlu dilakukan, serta komunikasi yang tetap harus dijaga dengan seluruh peserta, guru pendamping, orang tua, juri, sponsor, dan mitra penyelenggara.
OTN 8 bukan kegiatan kecil. Kegiatan ini mempertemukan banyak siswa, guru, komunitas pendidikan, dan pemerhati teknologi informasi. Ada berbagai cabang lomba yang diselenggarakan, mulai dari robotik, coding, cerdas cermat, Mobile Legends, hingga lomba film pendek. Setiap cabang memiliki karakteristik, kebutuhan teknis, dan tantangan penyelenggaraan masing-masing.
Sebagai bagian dari keluarga besar penyelenggara, saya, Omjay, menyadari bahwa keberhasilan kegiatan seperti ini tidak mungkin diwujudkan oleh satu atau dua orang saja. Ada kerja keras banyak pihak di belakang layar. Ada yang mengurus pendaftaran, perlengkapan, ruangan, konsumsi, sertifikat, publikasi, komunikasi peserta, hingga koordinasi dengan pihak penyelenggara Indocomtech.
Semua bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya.
Namun, keberhasilan sebuah kegiatan tidak cukup hanya diukur dari meriahnya acara pembukaan atau banyaknya peserta yang hadir. Keberhasilan juga harus diukur dari bagaimana panitia menyelesaikan seluruh tanggung jawab setelah kegiatan berakhir.
Pekerjaan setelah penutupan masih banyak
Bagi sebagian orang, pengumuman pemenang merupakan tanda bahwa sebuah perlombaan telah selesai. Padahal, masih ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan.
Pertama, memastikan seluruh peserta memperoleh informasi yang jelas mengenai hasil perlombaan. Peserta tentu ingin mengetahui siapa yang menjadi juara dan bagaimana mekanisme penetapan pemenang dilakukan.
Kedua, menyelesaikan administrasi sertifikat bagi peserta, pemenang, juri, narasumber, dan pihak-pihak yang terlibat. Jangan sampai ada peserta yang sudah berjuang mengikuti perlombaan, tetapi belum memperoleh hak administratifnya.
Ketiga, menyelesaikan urusan hadiah dan penghargaan sesuai ketentuan yang telah disampaikan kepada peserta.
Keempat, melakukan evaluasi terhadap seluruh cabang lomba. Jika ada kekurangan, kita harus berani mengakuinya. Jika ada masukan dan kritik, kita perlu mendengarkannya dengan hati terbuka.
Kelima, menyusun laporan pertanggungjawaban kegiatan. Laporan ini penting sebagai bentuk tanggung jawab kepada organisasi, mitra, sponsor, dan masyarakat pendidikan.
Semua pekerjaan tersebut tidak boleh dianggap sebagai urusan tambahan yang bisa diabaikan. Justru di sinilah profesionalitas panitia diuji.
Kritik peserta bukan musuh panitia
Dalam sebuah kegiatan perlombaan, perbedaan pendapat dan kritik merupakan sesuatu yang wajar. Apalagi jika menyangkut hasil penilaian yang menentukan masa depan prestasi seorang peserta.
Peserta yang sudah mengeluarkan tenaga, waktu, pikiran, dan biaya tentu berharap mendapatkan informasi yang jelas. Mereka ingin mengetahui bahwa perlombaan berlangsung dengan baik, adil, dan profesional.
Ketika peserta bertanya mengenai hasil penilaian, rubrik, pembobotan, atau mekanisme penentuan juara, pertanyaan tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap panitia.
Kritik adalah bagian dari proses perbaikan.
Panitia perlu mendengarkan aspirasi peserta dengan tenang. Jika memang ada hal yang belum jelas, jelaskanlah. Jika ada kekurangan dalam pelaksanaan, akuilah dan jadikan sebagai bahan evaluasi.
Kita tidak perlu saling menyalahkan. Kita juga tidak perlu memperpanjang perdebatan yang tidak produktif.
Yang lebih penting adalah mencari jalan keluar.
Saya percaya bahwa setiap orang yang terlibat dalam OTN 8 memiliki niat baik untuk memajukan pendidikan Indonesia, khususnya dalam bidang teknologi informasi, coding, dan kecerdasan artifisial.
Karena itu, komunikasi yang baik harus tetap dijaga meskipun kegiatan sudah berakhir.
Transparansi adalah bagian dari pendidikan
OTN merupakan kegiatan pendidikan. Oleh sebab itu, nilai-nilai pendidikan harus tetap menjadi landasan dalam setiap proses penyelenggaraannya.
Kejujuran, tanggung jawab, sportivitas, disiplin, dan keterbukaan merupakan nilai yang harus dicontohkan oleh orang dewasa kepada peserta didik.
Kita sering mengajarkan kepada siswa bahwa mereka harus menerima hasil perlombaan dengan lapang dada. Namun, kita juga harus memberikan contoh bahwa sebuah keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Keputusan dewan juri memang harus dihormati sesuai ketentuan lomba. Akan tetapi, penghormatan terhadap keputusan tersebut tidak berarti menutup ruang komunikasi dan evaluasi.
Justru keterbukaan akan meningkatkan kepercayaan peserta terhadap penyelenggara.
Saya berharap pengalaman OTN 8 menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Jika ada hal yang belum sempurna, mari kita perbaiki bersama. Jangan sampai persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berkembang menjadi ketidakpercayaan.
Panitia harus tetap kompak dan bertanggung jawab
Menjadi panitia kegiatan nasional bukan pekerjaan mudah. Banyak waktu, tenaga, pikiran, dan pengorbanan yang harus diberikan.
Saya memahami bahwa ada panitia yang mungkin sudah kelelahan setelah bekerja berhari-hari. Ada yang harus meninggalkan keluarga, mengatur pekerjaan utama, dan menghadapi berbagai persoalan teknis di lapangan.
Semua pengorbanan tersebut patut dihargai.
Namun, tanggung jawab tidak berhenti ketika acara ditutup. Kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Jangan sampai peserta masih menunggu informasi, sementara panitia sudah tidak lagi berkomunikasi. Jangan sampai ada persoalan yang belum selesai, tetapi tidak ada pihak yang merasa bertanggung jawab.
Kekompakan panitia justru harus terlihat setelah kegiatan selesai. Kita perlu membagi tugas, menentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan, dan memastikan semuanya dituntaskan.
Tidak perlu semua orang mengerjakan semuanya. Yang penting, setiap pekerjaan memiliki penanggung jawab yang jelas.
Menjadikan OTN 8 sebagai pengalaman untuk OTN berikutnya
Saya berharap OTN 8 menjadi pengalaman berharga untuk penyelenggaraan OTN berikutnya.
Kita harus berani melakukan evaluasi secara menyeluruh. Apa yang sudah berjalan baik perlu dipertahankan. Apa yang masih kurang harus diperbaiki.
Mulai dari sistem pendaftaran, petunjuk teknis, koordinasi juri, mekanisme penilaian, publikasi hasil, pelayanan peserta, hingga pembagian tugas panitia.
Jangan hanya mengejar kemeriahan acara. Kita juga harus memperhatikan kualitas penyelenggaraan.
Sebab, sebuah kegiatan yang besar bukan hanya dinilai dari banyaknya peserta atau megahnya panggung. Kualitas penyelenggaraan juga terlihat dari bagaimana panitia melayani peserta dan menyelesaikan seluruh kewajibannya.
Saya ingin OTN menjadi ajang yang semakin dipercaya oleh sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik di seluruh Indonesia.
Kepercayaan itu tidak bisa dibangun hanya dengan slogan. Kepercayaan harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Penutup: Acara boleh berakhir, tanggung jawab jangan berhenti
Akhirnya, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, peserta, guru pendamping, orang tua, dewan juri, sponsor, mitra, dan semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan OTN 8.
Mohon maaf apabila selama kegiatan berlangsung masih terdapat kekurangan dalam pelayanan, komunikasi, maupun pelaksanaan lomba.
Mari kita selesaikan semua pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab bersama. Jangan meninggalkan persoalan yang belum tuntas. Jangan pula menganggap kritik sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Sebaliknya, jadikan kritik sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik.
Saya percaya bahwa niat baik harus disertai tanggung jawab yang baik pula.
OTN 8 boleh selesai, tetapi pekerjaan panitia OTN 8 belum selesai.
Panggung boleh kosong, tetapi tanggung jawab tetap harus dijalankan. Perlombaan boleh berakhir, tetapi komunikasi dengan peserta jangan sampai terputus.
Sebab, keberhasilan sebuah kegiatan bukan hanya ketika acara dibuka dengan meriah, melainkan ketika seluruh tanggung jawab diselesaikan dengan baik.
Mari kita tutup OTN 8 dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan semangat untuk memperbaiki diri.
Menulislah dengan hati, mengabdi dengan aksi, dan bertanggung jawablah sampai pekerjaan benar-benar selesai.
Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Ketua KOGTIK dan IGTIK PGRI
Blog: https://wijayalabs.com







