BAHASA DAN BUDAYA

Terbaru988 Dilihat

Ahad 14 November 2021 aku hadir di zoom Kanal Sagusapop 1, asuhan Kang Founder, dan Alhamdulillahnya dihadiri pakar linguistic bpk. Dr H. Nastain Aku masuk zoomnya terlambat karena seperti biasa bila hujan deras yang diikuti angin serta halilintar listrik selalu padam.

Banyak orang menyebutnya sebagai badai, mungkin badai ringan. Ya jangan sampai badai besar ya. Ringan saja sudah menyeramkan, menakutkan, karena semua kaca dirumahku bergetar tatkala petir dan halilintar mengeluarkan dentuman, bagai nuklir. Sebenarnya belum pernah sih melihat ledakan nuklir, hanya dari cerita. Nuklir meledak mengeluarkan dentuman, kata dentuman pada nuklir aja menurut aku tidak tepat karena berbeda arti.

Menurutku, nuklir tidak berdentum, yang berdentum apabila hulu ledak dari roket yang ditembakan keudara kemudian disambut oleh hulu ledak lagi untuk menghancurkan hulu ledak tersebut agar tidak menghancurkan daerah sasaran, maka terjadi dentuman diudara. Ah mungkin aku terlalu banyak menonton film non fiksi karya holiwood, hehehe.

Nah dentuman halilintar tersebut yang sering terdengar bila sudah hujan datang tanpa rintik rintik yang lansung deras diikuti angin kencang, maka seketika itu listrik padam wifi tak berfungsi, quotapun langsung migran. Aku tidak mengerti hubungannya apa quota internet dengan listrik? Aha mereka saling keterkaitan. Karena gelombang suara akan selalu diikuti gelombang elektro magnetic sehingga menghasilkan rambat/gelombang suara dan cahaya. Ah aku suka sok tahu nih, wkwkwkwk

Ketika aku berhasil masuk zoom tentunya setelah listrik kembali bekerja (nah penggunaan Bahasa yang salah nih), aku mengikuti ibu Kanjeng sedang presentasi, dan itu menjelang akhir dari presentasi beliau. Lalu akupun mengajak siswaku bergabung dalam acara tersebut, karena kebetulan sedang membahas karya sastra. Maka aku mengirim pesan pada Kang Asep untuk meminta izin beliau. Beliau sangat mendukung siswa yang ingin belajar dan mengembangkan bakatnya. Maka bergabunglah Rasyid, Byanka dan Yovi.

Setelah mereka bergabung aku mengirim pesan pada mereka untuk bertanya pada bu Kanjeng tentang karya sastra. Sebelumnya aku memperkenalkan mereka terlebih dahulu pada audiens jika mereka siswa yang ingin belajar. Interaksipun terjadi dan tentunya dibantu bpk Dr. H Nastain MPd juga, InsyaAllah mereka memperoleh ilmu yang bermanfaat dari para ahli.

Selanjutnya pada pukul 21.03 tiba giliranku untuk memaparkan materi dengan judul BAHASA DAN BUDAYA. Karena waktu yang sangat sedikit, aku tidak maksimal. Banyak yang aku penggal sehingga tidak masuk pada inti pokok bahasan. Aku berharap, lain waktu bisa kembali membahas masalah ini.

Kenapa aku angkat Bahasa dan budaya? Karena aku gelisah bahwa Bahasa dan Budaya Indonesia mulai tergerus oleh zaman yang bukan modern menurut aku, tetapi memasuki masa kegelapan sebagaimana dahulu kala.

Sebenarnya modern itu apa sih? Modern itu adalah keteraturan, atau tatanan hidup dalam hukum Illahi. Jadi bila meninggalkan tatanan hokum Illahi, maka tidak modern. Contohnya berpakaian minim, dahulu lebih keren, mereka hanya berselimut kulit pepohonan atau dedaunan serta tanduk untuk melindungi kelamin pria, kalau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan koteka yang masih dipertahankan oleh suku pedalaman Papua. Kemudian tato dan piercing, zaman dahulu tato lebih kerena hanya dengan lumpur atau getah pohon, dan piercingnya dari tanduk atau taring hewan. Nah yang tatoan dengan jarum dan tinta, itu tidak modern tapi bodoh, menggambar tapi menyakiti diri. Dan tidak seperti manusia tapi seperti perlambang kejahatan. Karena setiap lukisan yang dilakukan oleh manusia jaman terdahulu atau suku pedalaman dari bangsa manapun didunia, adalah lambang. Dan bentuk tato2 manusia sekarang, kalau menurut para tetua suku pemangku adat, tato anak sekarang melambangkan kekuatan negativ dan ruh jahat, yang dulu mereka usir melalui ritual. Nah lho!!! Berarti manusia sekarang yang melukis tubuhnya adalah …. Ah aku tidak sanggup meneruskan kata-katanya.

Itu adalah salah satu jenis prilaku budaya yang kembali kezaman kegelapan. Lalu bagaimana dengan Bahasa, khususnya Bahasa Indonesia? Nah ini justeru kerusakan terparahnya adalah dari pemangku jabatan kelembagaan pendidikan dan kebudayaan, karena mereka mengaminkan penggunaan Bahasa yang salah. Baik yang dilakukan oleh kaum remaja, muda bahkan para eksekutif. Dengan dalih modern. Modern kok Bahasanya tidak jelas. Kan yang tidak jelas itu adalah yang usang.

Generasi muda merusak Bahasa dan budaya, baik Bahasa ibu maupun Bahasa asing. Penggabungan beberapa Bahasa yang dilakukan kaum yang katanya menyebut diri sebagai ekspressi anak muda, secara sadar atau tidak telah merusak tatanan Bahasa berbagai negara. Bahkan penyebutan kata zamanpun diganti jaman, zaman kini diganti dengan jaman now. Padahal kosa kata jaman adalah zaman. Dengan Z bukan J.

Andaikan pihak-pihak yang berkepentingan dalam literasi menggunakan literatur yang benar, maka Bahasa tidak akan tergerus oleh arus apapun. Kita ambil contoh misalnya, Korea, China dan Jepang, bila dinegaranya, siapapun yang datang kenegara tersebut wajib menggunakan Bahasa mereka. Jika kesana berbahasa Inggris, mereka akan berkata “NO NO I NO ENGLISH” terus pura-pura acuh pura-pura tidak mengerti. Ini negara Asia lho. Lalu bergeser ke Eropa, seperti Perancis, Spanyol, Italy, Turkey, Findlandia, Luxemburg, Rusia, negara2 pecahan Rusia dan Yunani, jangan berharap mereka akan melakukan interaksi dengan Bahasa Inggris. Padahal mereka berbahasa Inggris juga lho. Artinya apa? Artinya mereka bangga dengan baasanya. Karena Bahasa lambang SUPREMASI NEGARA. Hilang bahasanya maka hilang budayanya dan hilang negaranya.

Bila ini berlamjut terus, lalu apakah Merah Putih akan terus berkibar? Lalu Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional atau Bahasa persatuan akan terus Berjaya? Akankah Indonesia tetap ada apabila Bahasa Indonesianya hilang. Apakah Indonesia itu hanya Bali, Padang, Aceh dan Papua? Kenapa hanya daerah itu saja yang disebutkan? Karena siapapun yang masuk ke Padang, ia akan menyebut diri sebagai orang Padang, begitu juga dengan Aceh, Bali dan Papua. Wilayah lainnya seperti Pulau Jawa dari ujung Barat hingga Timur sudah tergerus secara Bahasa dan budaya. Hanya segelintir wilayah Jateng yaitu dikeraton saja dan Jatim, justeru warga keturunan yang bangga berbahasa berbudaya Jatim. Miris bukan?

Lalu apa peran pendidik? Justeru peran pendidik mendukung kerusakan keruskan tersebut bahkan ikut2an dengan dalih perubahan zaman. Zaman tidak berubah yang berubah adalah PRILAKU MANUSIA. Zaman bukan benda, bukan pula manusia, melainkan waktu. Waktu tidak akan pernah berubah, tapi yang berubah itu adalah PRILAKU yang membuang waktu, yang mempernmainkan waktu dan tidak memanfaatkan waktu kepada hal-hal yang baik dan bermanfaat. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Pakar Linguistik Bpk Dr. H. Nastain MPd, bahwa Bahasa adalah ahlak. Ahlak menjunjukan budaya.

Jadi Bahasa adalah prilaku dan tutur kata manusia yang dapat menunjukan karkater manusia itu sendiri”.

Tinggalkan Balasan