KMAA #2: PERKENALANKU DENGAN TILONG

Sosbud428 Dilihat

Perkenalan: beritasatu.com.

Sekitar akhir tahun 2013, seusai ibadah minggu aku berkenalan dengan seorang teman. Kami bercakap-cakap tentang banyak hal mengenai diri masing-masing. Di antaranya tentang pekerjaan, keluarga, tempat tinggal, kecenderungan kesukaan, dan lain-lain.

Temanku ini bernama Agus. Dia berasal dari Jawa Tengah. Dia sudah berkeluarga dengan dua anak. Anak yang besar ada di Jawa sedangkan yang kecil ada bersamanya. Istrinya berdarah Batak yang berasal dari tanah Sumatera. Sumatera Utara, tepatnya.

Dia dan istrinya adalah guru. Selain sebagai guru, ia pun adalah pendiri sebuah sekolah keagamaan tingkat menengah. Rumah mereka di sekitar sekolah itu yang berlokasi di Tilong. Sekolah itu berfungsi sebagai tempat belajar dan juga sebagai asrama bagi para muridnya.

Sekolahnya adalah SMTK atau Sekolah Menengah Teologi Kristen. Ia adalah sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan diri pada penyiapan para calon Teolog muda. Sesudahnya mereka bisa melanjutkan pendidikannya di STT (Sekolah Tinggi Teologia). Atau program studi lain sesuai minat.

Karena ia setingkat SMA maka ia menerima dan menampung mendidik anak-anak dari jenjang SMP. Kini sekolah itu tinggal puing-puing gedung karena ketiadaannya murid. Sejak tahun 2015 sekolah itu ditutup sebab tidak ada calon peserta didik yang mendaftar.

Dari saling bercerita itulah ia tahu bahwa aku belum memiliki rumah. Dia akhirnya tahu juga kalau aku adalah seorang kontraktor. Yaitu orang yang selalu berpindah-pindah rumah. Kesukaan pindah-pindah rumah bukan karena kebanyakan rumah. Tetapi harus pindah kalau masa kontraknya habis.

Ia pun mengajakku bertandang ke rumahnya di Tilong. Sebuah tempat yang belum pernah kusambangi. Bahkan namanya pun baru pernah kudengar dan tahu hari itu. Mendengar penjelasannya tentang posisi tempat itu yang membuatku tambah bingung, ia mendakwaku untuk berangkat bersamanya.

Kami menempuhnya dalam waktu empat puluh lima menit dengan kecepatan normal. Rata-rata kecepatan pacu motor 40-50 km/jam. Dengan kecepatan sedang itu, aku bisa mengenal dan menandai tempat mana saja yang telah aku lalui. Ini kumaksudkan agar mudah menelusurinya kembali suatu ketika kelak.

Sesudah kunjungan pertama itu aku jadi terus-terusan ke Tilong. Keseringanku ke sana bukan bersebab hidangan suguhan temanku, Pak Agus. Tapi karena aku telah menjadi warga masyarakat Tilong. Aku telah mencatatkan diri sebagai penduduk tetap Tilong.

Aku mencatatkan diri sebagai salah seorang anggota masyarakat Tilong sejak tanggal 15 Agustus 2015. Aku menempati gubuk kecil yang kubangun seadanya semampunya. Yang paling penting adalah aku tidak lagi menjadi kontraktor. Dan tidak dikejar-kejar waktu untuk mengosongkan dan meninggalkan rumah kontrakan.

Biasanya aku hanya membutuhkan 10 sampai 20 menit untuk ke tempatku mengais rejeki ketika masih di Kupang sebagai seorang kontraktor. Kini aku harus menghabiskan waktu dua kali lipat setelah berdomisili tetap di Tilong. Tidak mengapa. Itu bagian dari sebuah perjuangan hidup.

Memang tidak ada hidup yang susah sekali. Sebaliknya juga tidak ada yang gampang-gampang bangat. Ia butuh sebuah ikhtiar, perjuangan demi memperolehnya. Apalagi jika perjuangan itu bertautan dan selaras dengan kehendak Sang Khalik, ia tak pelik.

 

Tabe, Pareng, Punten!

 

Tilong-Kupang, NTT

Minggu, 22 Agustus 2021 (16.35 wita)

Tinggalkan Balasan