
Tiga hari berlalu, sembari m.o di ruang guru, kuamati jadwal yang kuselipkan di bawah lapisan kaca meja. Jam ke 5 dan 6 mengajar di kelas istimewa. Masih beberapa menit lagi. Kuamati tumbukan lembaran karangan siswa yang kuselipkan di antara stopmap. Ada banyak cerpen karya siswa di sana yang ditulis sekedarnya. Kuambil dan kupilah mana kelas yang sudah dinilai mana yang belum. Tetiba sebuah kertas dengan tulisan tinta berwarna biru menarik perhatianku. Cerita yang ditulis tidak panjang, hanya satu halaman saja. ‘Dokterku Pahlawanku’ demikian judulnya. Karya milik siswa kelas istimewa, tetapi kok tidak ada namanya?
Bagiku, dokterku adalah pahlawanku. Aku sering bertemu dengannya. Ia begitu pintar, begitu baik, ramah, dan selalu menolongku dengan penuh kasih sayang di kala aku datang padanya karena sakit. Aku tidak ingin dokter yang lain. Dia dokter yang ahli dalam hal jantung. Suatu hari aku pernah bertanya, “Dok, apakah jantung saya bisa diperbaiki? Saya ingin sehat seperti teman yang lain.” dokter itu dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa Dokter akan berupaya keras untuk membuat jantungku menjadi lebih baik. Dari situ aku percaya bahwa dokterku orang hebat yang akan membantu hidupku menjadi lebih baik. Ia akan pelan-pelan memperbaiki semuanya melalui operasi. Jika tubuhku mulai merasa sakit, maka aku akan mencari dokterku dan memintanya untuk segera memperbaikinya. Ya Allah berikanlah kesehatan dan kemampuan pada dokter itu agar ia bisa mengobati jantungku. Sembuhkanlah aku …
Aku mendekap lembaran cerita itu ke dadaku. Ini tulisan Khasna. Aku yakin. Masyaallah, tulisan Khasna ini mampu menekan tombol sensitif dalam hati ini hingga membuat segala rasa membuncah tanpa aku tahu bagaimana hendak mendeskripsikannya. Khasna yang tengah didera sakit yang sewaktu-waktu mengancam jiwanya, masih terpikir mendoakan yang terbaik untuk dokternya.
Bel tanda pergantian jam pun berdering. Bergegas aku membawa beberapa berkas dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengajar di kelas Khasna. Semoga hari ini aku mendapat kabar berita tentangnya.
“Assalamualaikum, selamat siang semuanya,” sapaku ceria begitu memasuki kelas Khasna. Sahutan semangat tak kompak terdengar di telinga. Aku tersenyum. Tampaknya mereka mulai oleng meski masih terdengar bertenaga.
“Ulangi yuk… Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh!”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokaatuh!” Jawab kompak seluruh siswa.
“How are you? Apa kabar? Pripun kabare?” Tanyaku sembari tersenyum lebar. Beberapa siswa tertawa.
“How are you? Ayu ayu wae..” jawab Amel cekikikan.
“Alhamdulillah baik, sehat, dan gemoy, Bu” jawab Arifin sekenanya yang disambut dengan sorakan temannya.
“Alhamdulillah… Terimakasih sudah kembali bersemangat untuk memulai pembelajaran hari ini,” ucapku sebelum sorakan berlarut-larut.
“Ya Bu, tapi Khasna belum masuk hari ini. Masih di rumah sakit,” ujar Amel. Suasana kelas sontak hening. Rupanya mereka peduli pada Khasna. Mereka turut merasakan kesedihan yang dirasakan Khasna karena sakitnya.
“Ya, Amel. Terimakasih banyak informasinya. Mari bersama kita tundukkan kepala, kita berdoa dan kirimkan Al Fatihah untuk Khasna. Berdoa mulai…” Semua tertunduk, hening, dan melafalkan Al Fatihah dengan khusuk.
“Cukup, baiklah, Nak. Dari sini kita harus lebih banyak bersyukur, kesehatan adalah nikmat Allah yang tiada ternilai harganya. Gunakan waktu sehat kalian untuk belajar dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Khasna diberi ujian oleh Allah melalui sakitnya. Jika ia ikhlas, maka ia lulus. Apabila kita berada di posisi Khasna saat ini, kita belum tentu mampu untuk tetap tersenyum dan setegar dia. Baiklah, yuk semangat! Demi Khasna dan kita semua, kelas ini insyaallah bisa jadi kelas yang terbaik,” ungkapku.
“Aamiin,” sahut beberapa siswa penuh semangat. Pembelajaran hari ini pun berlalu sesuai target. Masing-masing siswa mampu membuat mapping materi dengan baik.
Adzan dhuhur berkumandang di mushola Raudhatul’Ulum. Semua siswa bergegas mengambil wudhu dan menuju mushola. Usai sholat Dhuhur, kulihat Bu Endang tampak terburu-buru. Aku masih penasaran tentang Khasna. Segera kuikuti dan kusapa.
“Kok buru-buru, hendak ke mana, Bu?” Tanyaku.
“Saya ingin menengok Khasna di RS Sardjito, Bu. Alhamdulillah, Pak Wiwit bersedia mengantar. Ada Pak Musa, Pak Tugiyo, dan Bu Agustina juga berkenan ikut,” jelasnya. Mendengar itu, jantungku berdegup kencang.
“Emh… Saya boleh ikut, Bu? Kebetulan jam mengajar saya selesai,” pintaku.
“Monggo, Bu. Semoga jika nanti kita bisa masuk bertemu Khasna, ia jadi bersemangat,” jawabannya.
Kami bergegas menuju RS Sardjito. Tak banyak pembicaraan tentang Khasna dalam perjalanan. Obrolan lebih pada akreditasi perpustakaan yang sebentar lagi akan tiba waktunya untuk penilaian. Perpustakaan Raudhatul’Ulum insyaallah akan menjadi lebih indah dan membuat betah para pemustaka untuk menikmati bacaannya.
Anganku kembali melayang pada Khasna. Informasi awal, Khasna di bangsal khusus Jantung. Di ruang apa aku tidak tahu. Kulihat Bu Endang sejenak terdiam mengamati ponselnya. Raut wajahnya serius membaca chat WhatsApp. Rasa penasaranku kembali membuncah. Segala hal tentang Khasna membuatku jadi penasaran akut, kalau istilah anak masa kini ‘Kepo tingkat dewa’.
“Pesan dari Khasna, Bu?” Tanyaku.
“Ya, Bu.” Jawabnya. Ia menoleh ke Bapak Kepala Madrasah. “Pak Musa, ini ternyata Khasna baru saja dipindahkan ke ruang PICU karena saturasi oksigennya rendah sekali usai Operasi,” jelas Bu Endang.
Semua yang berada di mobil terdiam. Tak sadar kedua tanganku bertaut erat. Hawa dingin seolah menyergap tubuhku hingga rasanya hampir menggigil. Aku tahu masing-masing hanyut dalam lantunan doa yang dipanjatkan dalam hati, untuk Khasna.
“Ya Allah… Sembuhkanlah Khasna. Tunggu kami ya, Nak,” batinku pilu.
(Bersambung)









