
Menunggu adalah pekerjaan yang teramat sulit dan menjemukan. Butuh kesabaran tinggi. Begitupun saat menunggu Kata Pengantar untuk buku kumpulan cerita anak perdanaku.
Mas Rizal tak jua memberikan kepastian. Padahal sudah berminggu-minggu dari janjinya yang terakhir. Hmmm… jadi ingat pas buku Emak-emak mau naik cetak juga. Tersendat karena Kata Pengantar yang dimintakan pada mas Rizal.
Mau tak mau aku berbalik arah. Balik badan. Tak kan kutunggu lagi janji mas Rizal. Segera kuhubungi Ketua PDM Gunungkidul, pak Sadmonodadi. Untunglah aku memiliki nomor kontak beliau.
Aku memberanikan diri meminta Kata Pengantar dari beliau.
“Assalamu’alaikum. Pak, saya GTY dari SD Muhammadiyah Branjang. Saya berencana untuk menerbitkan buku cerita anak. Terus saya mau minta Kata Pengantar dari njenengan. Kira-kira bisa apa nggak ya, pak? Kalau bisa, saya kirimkan draft file-nya. Terimakasih sebelum dan sesudahnya. Wassalamu’alaikum.”
“Nggih mbak, siap.” Begitu balasan beliau singkat.
Namun beberapa hari sesudahnya belum ada kabar dari beliau. Lagi-lagi aku memberanikan diri, menghubungi beliau lagi.
“Assalamu’alaikum. Ngapunten, pak. Kata Pengantar untuk cernak saya sudah siap apa belum nggih? Kalau sudah siap, saya mau antrikan ke percetakan.” Chatku.
“Tunggu dua tiga hari mbak Insya Allah. Kesupen je… Ngapunten. Tulung njenengan kirim file malih. Terhapus.Ngapunten.” (Kelupaan. Maaf. Tolong njenengan kirim file lagi. Terhapus. Maaf).
Okelah… segera kukirim file lagi kepada beliau.
Tiga hari kemudian, beliau mengirimkan chat.
“Mbak, pengantar bukunya Insya Allah besok siang baru saya kirim. Maaf agak lambat.” Begitu kabar dari beliau.
Akhirnya hari berikutnya Pengantar buku sudah kuterima. Alhamdulillah.
Aku tahu, maksud mas Rizal menolak untuk menuliskan Kata Pengantar itu agar aku minta langsung kepada atasanku paling tidak. Mas Rizal ingin aku dikenal di wilayahku sendiri. Biar bisa membawa nama baik sekolah. Itu penekanannya.
Begitu Kata Pengantar dari pak Sadmono kuterima, aku langsung menghubungi mas Rizal. Kukatakan apa adanya.
“Mas, Kata Pengantar cernaknya aku sudah menghubungi Ketua PDM sini.”
“Josss,” komentarnya singkat.
“Nahhh. Sekarang aku minta buat blurb saja. Semacam testimoni. Tapi yang rada panjang.”
Dia tak berkomentar apapun. Ya sudahlah. Wong ya aku sendiri sudah hapal dengan dia, ngapain maksa dia. Yang ada hanya capek dan mengkel sendiri. Hihihi.
“Lega ya wisan?” (Sudah lega ya sekarang?)
“Gak. Aku masih ada hutang. Tolong tulis cernak lagi, ya? Atau kalau ada, tolong dikumpulin. Aku coba cari cara lain.”
Sudah tak aku gubris lagi chatnya. Aku bilang ke mas Rizal kalau utangnya dianggap lunas saja. Soalnya aku sekarang harus lebih fokus ke dunia nyata.
Branjang, 24 Juli 2022










