
Pembicaraan tak lagi tentang seorang penulis yang harus berhenti mempublikasikan karyanya. Kini pembicaraan masuk ke guru berprestasi. Tapi sebenarnya ada kaitan dengan seseorang yang mengucapkan ulang tahun kepada mas Rizal tetapi hanya lewat teman-teman.
Aku tahu kalau seseorang itu pandai menulis, pandai mengajar. Benar-benar berprestasi.
“Guru berprestasi? Kriteriane apa to janne? Aku ora duwe prestasi. Duwene kartu prestasi tahfidz,” (Guru berprestasi? Sebenarnya kriterianya apa sih? Kok aku nggak punya prestasi. Punyaku kartu prestasi tahfidz). Maksudku di sini adalah kartu prestasi tahfidz para siswa. Kartu itu kupegang. Belum sempat kubagikan kepada masing-masing siswa.
“Apapun yang orang banyak gak bisa dan tak terbiasa itu prestasi.” Jawab lelaki gondrong itu.
Bahkan dia mengaku kalau aku sebagai guru di persyarikatan dijadikan percontohan di daerah mas Rizal.
“Aku jual nama mbak di sini,” akunya.
“Jangan, mas. Aku cuma satu. Sudah punya suami pula.” Candaku.
“Maksudku biar mbak itu jadi teladan di sini. Jadi tulisan mbak kukirim ke guru-guru sini. Itung-itung biar terkenal. Heheh”.
Hmmmm… Dia nggak tahu, kalau misalnya dia belum hafal tanda tangan. Aku juga begitu! Ahhhhaaaa.
Branjang, 9 Juli 2022.











