Episode tentang Gempa

Cerpen, KMAB, YPTD924 Dilihat
Cover buku oleh Ajinatha

Pagi hari di 19 Agustus 2020 muncullah chat tentang GEMPA & 3 HAL SEDERHANA YANG BISA DILAKUKAN di grup Telur Ceplok. Chat itu tak lain dan tak bukan adalah tulisan mas Rizal.

Di pagi itu di daerahnya terjadi gempa dengan selisih waktu kurang dari 5 menit. Hasil rilis BMKG Gempa itu berskala 6,9 SR dan 6,8 SR.

Menurut tulisan mas Rizal, gempa tak asing bagi penduduk Bengkulu karena posisinya yang tepat berada di tengah zona subduksi antar lempengan benua.

Lalu apa yang bisa dilakukan saat terjadi gempa?

*Pertama*. KENALI GEMPA. 

Tak harus menunggu pelatihan dan pendidikan khusus. 

*Kedua*. KENALI RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR.

Ini penting! Tahu dinding rumah yang retak, pintu yang rusak atau pohon tua yang lapuk. Jika gempa, tak lagi panik! Jadi bisa memilih tempat perlindungan yang paling aman.

*Ketiga*. TENANG! TAPI ITU JIKA TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN.

(Kutipan tulisan mas Rizal)

***

“Ya Allah. Kono gempa, mas? Tapi aman terkendali kan?” Tanyaku di grup Telur Ceplok.

Mbak Lina malah mengabarkan kalau di Ambon juga terjadi hal serupa. Wajar sih memang. Indonesia memang berada di posisi rawan gempa.

“Ambon juga gempa.” Tulis mbak Lina.

Mbak Ummu juga menanyakan hal serupa denganku.

“Ingat gempa Jogja, pas lagi wae lulus SMK.” Ungkap mbak Lina.

Nah kan kelihatan kalau mbak Lina masih unyu-unyu. Pas gempa Jogja aku sudah lulus kuliah. Sudah mengajar pula. Ya selisih usiaku dan mbak Lina antara lima sampai enam tahun. Dia memang paling muda belia di antara anggota Telur Ceplok.

***

Kembali ke tips yang dikirimkan oleh mas Rizal. Mbak Ummu berkomentar kalau tipsnya bermanfaat.

“Bermanfaat itu tipsnya. Kami yang berada di lereng Merapi beberapa kali merasakan gempa. Apalagi pas Merapi lagi gundah gulana.

Sewaktu betulin rumah, kami sengaja memindah pintu keluar dekat dengan kamar. Jadi kalau gempa terjadi malam bisa langsung keluar. Apalagi sekarang sudah ada tiga krucul, harus pakai strategi nek pas gempa lagi.”

Mas Rizal pun membalas, “Itu. Dampak berguru ke orang-orang jogja.”

“Satu yang susah diubah. Rumahnya masih aja betah pake genteng.” Lanjut mas Rizal.

“2004, pecahan genteng, salah satu benda yang banyak menyebabkan cidera dan luka. Tradisi pun memperparah keadaan jika ada bencana.” Ungkap mas Rizal dengan sedikit menyalahkan pemakaian genteng sebagai peneduh rumah.

Mbak Ummu mengomentari, “Adem soale om, kalau genteng. Hehehe”

“Isa kemrosak nek ora nganggo gendheng ya, mbak.” (Bisa berisik kalau nggak pakai genteng ya, mbak), Komentarku.

“Iya. Kalau penahannya dari kayu yang kokoh dan berjarak rapat, nggak masalah. Yang kutemui, banyak dari bilah bambu. Emang murah biaya, tapi besar potensi bahaya.” Dalam hati aku membenarkan pernyataan mas Rizal.

Lalu kuceritakan pas gempa Jogja di tempat temanku hanya tertinggal satu ruangan.

“Nggone kancaku ana sak ruang sing isa nggo sare. Soale ora nganggo pondasi nek nggone kancaku ki. Jare umume ngunu.” (Rumah temanku ada satu ruang yang bisa untuk tidur. Soalnya rumah nggak dipondasi. Konon umumnya begitu.)

“Gempa tak membunuh. Yang membunuh itu, bangunannya.” Kukira aku sepakat lagi dengan pendapat mas Rizal.

“Iya, bener. Coba nek donya anane gur hutan dan lapangan. Pasti aman. Hehehe,” candaku.

 

Branjang, 24 Juli 2022

 

Tinggalkan Balasan